NURSCIENCEINSTITUTENURSCIENCEINSTITUTE
Griya Widya: Journal of Sexual and Reproductive HealthGriya Widya: Journal of Sexual and Reproductive HealthLatar Belakang: Tinjauan naratif ini mengkaji bagaimana melatonin meningkatkan fungsi kesehatan reproduksi. Melatonin telah dikenal sebagai neurohormon multifaset dengan peran penting dalam kesehatan reproduksi wanita. Melalui sifat antioksidannya yang kuat, melatonin melindungi oosit dan mengatur regulasi hormon serta fungsi ovarium, dengan reseptor melatonin yang berlokasi strategis di jaringan reproduksi utama, termasuk sel granulosa ovarium dan luteal.. Metode: Tinjauan naratif ini mengkaji bagaimana melatonin menjaga dan meningkatkan kesuburan wanita dengan menganalisis hasil klinis dan jalur molekuler. Ini mengumpulkan penelitian tentang efek melatonin pada fungsi ovarium, kualitas oosit, regulasi hormon, dan teknologi reproduksi berbantuan dari basis data utama yang diterbitkan antara tahun 2015 dan 2025. Studi ini secara konsisten menunjukkan cara kerja melatonin dan potensi manfaatnya, menawarkan wawasan luas tanpa batasan ketat.. Hasil: Melatonin beroperasi melalui berbagai jalur yang diperantarai reseptor untuk mengatur fungsi reproduksi. Bukti klinis menunjukkan bahwa suplementasi melatonin meningkatkan tingkat keberhasilan teknologi reproduksi berbantuan (ART) dengan meningkatkan pematangan oosit dan kualitas embrio, mengembalikan keteraturan menstruasi pada pasien PCOS, dan melindungi jaringan reproduksi dari kerusakan akibat stres oksidatif.. Implikasi: Temuan ini mendukung potensi terapeutik melatonin dalam teknologi reproduksi berbantuan dan pengobatan gangguan reproduksi. Penyedia layanan kesehatan harus mempertimbangkan suplementasi melatonin sebagai terapi adjuvan untuk wanita yang menjalani perawatan kesuburan atau mengalami disfungsi reproduksi sambil menetapkan protokol standar untuk dosis dan waktu yang optimal.. Kebaruan: Tinjauan komprehensif ini mengungkapkan peran multifaset melatonin sebagai pengatur kesuburan, memberikan wawasan molekuler tentang mekanisme terapeutiknya dan aplikasi klinis dalam kesehatan reproduksi wanita di seluruh rentang kehidupan reproduksi.
Melatonin adalah hormon penting yang memengaruhi kesuburan wanita melalui regulasi hormon, perlindungan sel dari kerusakan, dan perbaikan fungsi ovarium, terutama pada kondisi seperti PCOS dan dalam terapi ART.Sebagai antioksidan kuat, melatonin meningkatkan kualitas oosit dan embrio serta mengurangi penurunan kesuburan terkait usia, menawarkan manfaat signifikan untuk kesehatan reproduksi wanita.Meskipun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan dosis optimal, waktu pemberian yang tepat terkait siklus menstruasi dan terapi kesuburan, serta profil keamanan jangka panjang guna memaksimalkan efikasi terapeutik melatonin dalam praktik klinis.
Mengingat peran multifaset melatonin dalam kesuburan wanita dan celah pengetahuan yang masih ada, saran penelitian lanjutan dapat difokuskan pada pengembangan terapi yang lebih presisi dan efektif. Pertama, studi ke depan perlu secara komprehensif mengeksplorasi personalisasi dosis dan waktu pemberian melatonin. Ini bukan hanya tentang menemukan dosis umum yang optimal, tetapi juga menyelidiki bagaimana variasi genetik individu, terutama dalam metabolisme enzim seperti CYP1A2 atau polimorfisme reseptor MTNR1A/MTNR1B, memengaruhi respons terhadap suplementasi melatonin. Penelitian semacam itu dapat memandu pengembangan protokol pengobatan yang disesuaikan untuk setiap pasien, meningkatkan efikasi dan mengurangi efek samping potensial, serta mengintegrasikan pemahaman genetik untuk mencapai hasil reproduksi terbaik. Kedua, mengingat temuan bahwa dosis melatonin yang lebih rendah efektif dalam kombinasi dengan suplemen lain seperti vitamin D dan myo-inositol, ada kebutuhan mendesak untuk studi klinis sistematis yang menguji berbagai kombinasi melatonin dengan terapi kesuburan konvensional atau suplemen tambahan lainnya. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi sinergi terapeutik optimal yang dapat meningkatkan kualitas oosit, tingkat fertilisasi, dan hasil kehamilan secara keseluruhan, sekaligus memahami mekanisme interaksi pada tingkat molekuler. Ketiga, untuk mengatasi keterbatasan data klinis dan kebutuhan akan alat yang tepat, penelitian harus memanfaatkan teknologi canggih untuk menyelidiki secara mendalam mekanisme molekuler melatonin dalam jaringan reproduksi manusia. Ini bisa mencakup studi in vivo menggunakan teknik pencitraan molekuler dan analisis omics (genomik, proteomik, metabolomik) untuk memetakan aktivasi reseptor melatonin dan jalur sinyal hilir dalam kondisi patologis tertentu seperti sindrom ovarium polikistik atau endometriosis, memberikan wawasan yang lebih detail tentang bagaimana melatonin secara tepat melindungi dan meningkatkan fungsi reproduksi pada tingkat seluler.
- Modulation of human ovarian function by melatonin. modulation human ovarian function melatonin information... imrpress.com/journal/FBE/13/1/10.2741/875Modulation of human ovarian function by melatonin modulation human ovarian function melatonin information imrpress journal FBE 13 1 10 2741 875
- Importance of Melatonin in Assisted Reproductive Technology and Ovarian Aging. importance melatonin assisted... mdpi.com/1422-0067/21/3/1135Importance of Melatonin in Assisted Reproductive Technology and Ovarian Aging importance melatonin assisted mdpi 1422 0067 21 3 1135
- Melatonin | Bentham Science. melatonin bentham science current medicinal chemistry editor chief issn... doi.org/10.2174/0929867306666220330190146Melatonin Bentham Science melatonin bentham science current medicinal chemistry editor chief issn doi 10 2174 0929867306666220330190146
- Research progress of melatonin (MT) in improving ovarian function: a review of the current status | Aging.... doi.org/10.18632/aging.203231Research progress of melatonin MT in improving ovarian function a review of the current status Aging doi 10 18632 aging 203231
| File size | 496.6 KB |
| Pages | 14 |
| DMCA | Report |
Related /
UNIPASBYUNIPASBY Penelitian dimulai pada bulan Februari sampai Maret 2021. Analisis data dilakukan dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian terdapat pengaruh pemberian edukasiPenelitian dimulai pada bulan Februari sampai Maret 2021. Analisis data dilakukan dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian terdapat pengaruh pemberian edukasi
RESEARCHHUBRESEARCHHUB Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan teknik simple random sampling dan melibatkan 57 responden. Hasil penelitian menunjukkanPendekatan yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan teknik simple random sampling dan melibatkan 57 responden. Hasil penelitian menunjukkan
SARI MUTIARASARI MUTIARA Anemia merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada remaja, khususnya pada remaja perempuan. Salah satu penyebab anemia adalah kurangnya pengetahuanAnemia merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada remaja, khususnya pada remaja perempuan. Salah satu penyebab anemia adalah kurangnya pengetahuan
STIKESADVAITAMEDIKASTIKESADVAITAMEDIKA Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi kelas VIII di dengan jumlah sampel 40 orang. Teknik sampling yang digunakan teknik simple random sampling.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi kelas VIII di dengan jumlah sampel 40 orang. Teknik sampling yang digunakan teknik simple random sampling.
UMCUMC Salah satu teknologi yang saat ini sangat mudah diakses adalah media sosial. Media sosial juga tidak hanya ada satu jenis, melainkan banyak sekali danSalah satu teknologi yang saat ini sangat mudah diakses adalah media sosial. Media sosial juga tidak hanya ada satu jenis, melainkan banyak sekali dan
POLTEKKES SORONGPOLTEKKES SORONG 4%) dibandingkan dengan sumber informasi dari Orang Tua, TV dan radio cenderung rendah. Dapat disimpulkan bahwa remaja mengakses informasi tentang HIV/AIDS4%) dibandingkan dengan sumber informasi dari Orang Tua, TV dan radio cenderung rendah. Dapat disimpulkan bahwa remaja mengakses informasi tentang HIV/AIDS
UMSBUMSB Intervensi diberikan ekstrak yang sudah berbentuk kapsul sebanyak 500 mg (1 buah kapsul) dan dikonsumsi selama 3 hari berurutan. Instrumen yang digunakanIntervensi diberikan ekstrak yang sudah berbentuk kapsul sebanyak 500 mg (1 buah kapsul) dan dikonsumsi selama 3 hari berurutan. Instrumen yang digunakan
ITEKES BALIITEKES BALI Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perilaku laki-laki usia 15-19 tahun dalam pencegahan penularan HIV/AIDS di Desa Sibang Kaja KecamatanTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perilaku laki-laki usia 15-19 tahun dalam pencegahan penularan HIV/AIDS di Desa Sibang Kaja Kecamatan
Useful /
UMSUMS Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan, seperti sampel yang terbatas dan periode intervensi yang singkat. Penelitian selanjutnya disarankan untukNamun, penelitian ini memiliki keterbatasan, seperti sampel yang terbatas dan periode intervensi yang singkat. Penelitian selanjutnya disarankan untuk
NURSCIENCEINSTITUTENURSCIENCEINSTITUTE Penelitian ini didasari oleh bertambahnya tugas dan tanggungjawab pegawai di Puskesmas Kemranjen I dan II, terutama di bagian pelayanan dan pendataan diPenelitian ini didasari oleh bertambahnya tugas dan tanggungjawab pegawai di Puskesmas Kemranjen I dan II, terutama di bagian pelayanan dan pendataan di
POLTEKKES SORONGPOLTEKKES SORONG Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur mahasiswa profesi ners angkatan 12 menjelang ujian OSCE di Universitas WidyaDapat disimpulkan bahwa ada hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur mahasiswa profesi ners angkatan 12 menjelang ujian OSCE di Universitas Widya
POLTEKKES SORONGPOLTEKKES SORONG Studi pendahuluan mengatakan bahwa lansia sering bingung memahami instruksi yang telah diberikan oleh kader, kesulitan dalam aktifitas sehari hari sehinggaStudi pendahuluan mengatakan bahwa lansia sering bingung memahami instruksi yang telah diberikan oleh kader, kesulitan dalam aktifitas sehari hari sehingga