UnbrahUnbrah

Health and Medical JournalHealth and Medical Journal

Latar Belakang: Gizi buruk pada balita merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, dengan prevalensi yang tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan prevalensi kekurangan gizi (underweight) sebesar 19,6%. Di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo, masalah gizi buruk masih menjadi tantangan yang kompleks, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kondisi ekonomi, sanitasi, dan pengetahuan ibu. Penelitian ini dilakukan untuk memahami karakteristik pasien gizi buruk dan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap masalah ini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kasus gizi buruk pada balita, meliputi usia, jenis kelamin, riwayat kelahiran, pemberian ASI, kejadian infeksi, sanitasi lingkungan, pengetahuan ibu, kondisi ekonomi, dan riwayat imunisasi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 44 balita yang mengalami gizi buruk di Puskesmas Gilireng Kabupaten Wajo. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan wawancara, kemudian dianalisis secara univariat untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel independen dan dependen. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas balita dengan gizi buruk berusia 13-59 bulan (86,4%), dengan proporsi lebih tinggi pada jenis kelamin perempuan (70,45%). Sebanyak 68,2% balita lahir prematur, dan hanya 20,5% yang mendapatkan ASI eksklusif. Kejadian infeksi berulang juga menjadi masalah, dengan 45,5% balita sedang mengalami infeksi. Dari segi sanitasi, 54,5% balita menggunakan air sungai sebagai sumber utama. Selain itu, 75% ibu tidak memiliki pengetahuan gizi yang memadai, dan 63,6% balita tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Kesimpulan: Penelitian ini mengindikasikan perlunya peningkatan edukasi gizi untuk ibu, peningkatan cakupan imunisasi, dan intervensi pada balita berisiko tinggi. Penguatan peran posyandu dalam pemantauan pertumbuhan juga sangat diperlukan untuk mengatasi masalah gizi buruk.

Mayoritas kasus gizi buruk pada balita terjadi pada usia 13-59 bulan dengan proporsi lebih tinggi pada perempuan.Sebagian besar balita memiliki riwayat kelahiran prematur, pemberian ASI eksklusif yang rendah, kejadian infeksi berulang, serta sanitasi dan pengetahuan gizi ibu yang tidak memadai.Peningkatan edukasi gizi, cakupan imunisasi, dan penguatan peran posyandu sangat diperlukan untuk penanganan masalah gizi buruk.

Pertama, perlu dilakukan penelitian tentang efektivitas intervensi edukasi gizi berbasis komunitas yang melibatkan posyandu dan kader kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan ibu dalam jangka panjang. Kedua, penting untuk mengkaji hubungan antara riwayat kelahiran prematur dan kejadian infeksi berulang terhadap status gizi balita melalui pendekatan longitudinal guna mengidentifikasi titik-titik kritis intervensi dini. Ketiga, perlu diteliti pengaruh kombinasi faktor sanitasi lingkungan dan ekonomi keluarga terhadap keberhasilan program penanganan gizi buruk, termasuk evaluasi akses terhadap air bersih dan pola konsumsi pangan bergizi di wilayah pedesaan terpencil. Penelitian-penelitian ini dapat memperdalam pemahaman lokal dan membantu merancang strategi yang lebih spesifik dan berkelanjutan dalam menurunkan angka gizi buruk di wilayah dengan tantangan serupa.

Read online
File size340.39 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test