UnbrahUnbrah

Health and Medical JournalHealth and Medical Journal

Sepsis adalah masalah kesehatan global yang signifikan, terutama di unit perawatan intensif (ICU), dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Pengobatan sepsis yang tepat waktu sangat penting, tetapi penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan antibiotik pada pasien sepsis di ICU Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar, dengan fokus pada karakteristik pasien, organ yang bermasalah, penyakit penyerta, hasil kultur, dan jenis yang resisten terhadap antibiotik. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan pengambilan data dari rekam medis pasien sepsis di ICU Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar selama periode Januari-Mei 2024. Subjek penelitian adalah pasien sepsis yang telah diberikan terapi antibiotik dan memiliki hasil kultur. Data dikumpulkan kemudian diolah untuk menarik kesimpulan tentang pola penggunaan antibiotik. Dari 32 rekam medis, 13 pasien memenuhi kriteria inklusi. Mayoritas pasien adalah laki-laki (77%) dan berusia di atas 55 tahun (38%). Disfungsi organ gastrointestinal ditemukan pada 46% pasien, dan diabetes melitus adalah kondisi komorbiditas yang paling umum (31%). Hasil kultur menunjukkan Salmonella typhii (38%) sebagai patogen utama. Antibiotik yang paling resisten adalah amikasin, levofloksasin, ofloksasin, dan tetrasiklin (masing-masing 10%), sedangkan sefiksim (24%) dan ampisilin (16%) menunjukkan resistensi yang tinggi.

Sepsis di ICU Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar didominasi oleh pasien laki-laki dengan disfungsi organ pencernaan dan komorbiditas diabetes melitus.Patogen utama yang ditemukan adalah Salmonella typhi, dengan tingkat resistensi antibiotik yang signifikan terhadap sefiksim dan ampisilin.Peningkatan praktik pengambilan kultur bakteri serta pemantauan resistensi antibiotik diperlukan untuk memastikan terapi yang lebih efektif dan mengurangi angka kematian akibat sepsis.

Pertama, perlu dilakukan penelitian dengan desain kohort prospektif untuk mengevaluasi hubungan antara penggunaan antibiotik empiris dan keberhasilan terapi berdasarkan hasil kultur, sehingga dapat diketahui seberapa besar pengaruh ketepatan antibiotik awal terhadap angka kesembuhan pasien sepsis. Kedua, diperlukan studi untuk menganalisis faktor-faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaan kultur bakteri di ICU, termasuk keterbatasan fasilitas, waktu, atau kesadaran klinis, agar dapat dirancang intervensi sistemik yang meningkatkan kepatuhan terhadap protokol kultur. Ketiga, perlu dikembangkan penelitian tentang pola resistensi mikroba lokal secara berkelanjutan melalui sistem surveilans harian atau mingguan di rumah sakit, sehingga data dapat digunakan untuk memperbarui panduan terapi antibiotik empiris yang sesuai dengan dinamika resistensi lokal. Penelitian-penelitian ini akan melengkapi temuan saat ini dengan pendekatan yang lebih dalam, sistematis, dan berkelanjutan untuk mendukung penggunaan antibiotik yang rasional dan meningkatkan tata laksana sepsis di rumah sakit.

  1. Korelasi kadar bikarbonat dengan QSOFA score pada pasien sepsis di RSUD dr. Doris Sylvanus | Barigas:... doi.org/10.37304/barigas.v2i3.11665Korelasi kadar bikarbonat dengan QSOFA score pada pasien sepsis di RSUD dr Doris Sylvanus Barigas doi 10 37304 barigas v2i3 11665
  2. "Frekuensi dan Mortalitas Pasien Sepsis dan Syok Septik di ICU Rumah Sa" by Abioso Wicaksono... doi.org/10.7454/epidkes.v6i1.6031Frekuensi dan Mortalitas Pasien Sepsis dan Syok Septik di ICU Rumah Sa by Abioso Wicaksono doi 10 7454 epidkes v6i1 6031
  3. Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Empirik dan Definitif pada Pasien Sepsis di Intensive Care Unit RSUP.... journal.ugm.ac.id/majalahfarmaseutik/article/view/62045Rasionalitas Penggunaan Antibiotik Empirik dan Definitif pada Pasien Sepsis di Intensive Care Unit RSUP journal ugm ac majalahfarmaseutik article view 62045
Read online
File size369.37 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test