UnbrahUnbrah

Health and Medical JournalHealth and Medical Journal

Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) adalah infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis (Mtb) yang dapat menyerang berbagai organ seperti kelenjar getah bening perifer. Biopsi aspirasi jarum halus (FNAB) sering digunakan sebagai salah satu modalitas diagnosis tuberkulosis kelenjar getah bening untuk menentukan penanganan pasien. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi akurasi, efisiensi, dan efektivitas FNAB dalam mendiagnosis tuberkulosis kelenjar getah bening. Temuan akan menilai apakah FNAB dapat diadopsi sebagai alat diagnostik dan manajemen standar untuk pasien dengan kondisi ini. Metode: Ini adalah studi observasional analitik potong lintang pada populasi pasien dengan dugaan tuberkulosis kelenjar getah bening di Unit Patologi Anatomi Rumah Sakit Umum Akademik Dr. Soetomo Surabaya selama satu tahun. Pemeriksaan FNAB dilakukan dengan pewarnaan Modified Grunwald Giemsa (MGG) dan Ziehl Nielsen (ZN) untuk mendeteksi organisme AFB (Acid Fast Bacilli), serta PCR (Polymerase Chain Reaction) darah perifer. Hasilnya dianalisis menggunakan uji statistik Chi kuadrat. Hasil: Sensitivitas, spesifisitas, Nilai Prediktif Positif (PPV), dan Nilai Prediktif Negatif (NPV) dari pemeriksaan FNAB masing-masing adalah 100%, 33%, 59%, dan 100%, sedangkan sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan PCR darah tepi masing-masing adalah 8% dan 70% dibandingkan dengan pemeriksaan ZN dari bahan aspirasi FNA. Kesimpulan: FNAB memiliki sensitivitas yang lebih tinggi daripada PCR darah tepi untuk mendeteksi infeksi Mycobacterium Tuberculosis; di sisi lain, PCR darah tepi memiliki spesifisitas yang lebih tinggi daripada FNAB untuk mendeteksi infeksi Mycobacterium Tuberculosis.

FNAB memiliki sensitivitas yang lebih tinggi daripada PCR darah tepi untuk mendeteksi infeksi Mycobacterium Tuberculosis.Sebaliknya, PCR darah tepi memiliki spesifisitas yang lebih tinggi daripada FNAB untuk mendeteksi infeksi Mycobacterium Tuberculosis.Pemeriksaan FNAB direkomendasikan sebagai alat skrining, dan pemeriksaan ZN dari aspirasi FNAB dapat digunakan untuk konfirmasi pada kasus yang meragukan.

Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengeksplorasi penggunaan PCR pada aspirat atau jaringan FNAB dibandingkan dengan kultur bakteri. Selain itu, studi komparatif yang lebih luas diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi FNAB dengan teknik molekuler yang lebih sensitif dan spesifik dalam diagnosis tuberkulosis kelenjar getah bening. Terakhir, penelitian prospektif yang dirancang dengan baik dapat menyelidiki dampak penggunaan FNAB dan teknik diagnostik tambahan pada hasil klinis pasien dan strategi manajemen yang optimal, termasuk evaluasi biaya-efektivitas dari berbagai pendekatan diagnostik.

  1. Diagnostic Accuracy of Fine Needle Aspiration Cytology in Diagnosis of Tuberculous Lymphadenitis | Journal... banglajol.info/index.php/JEMC/article/view/39901Diagnostic Accuracy of Fine Needle Aspiration Cytology in Diagnosis of Tuberculous Lymphadenitis Journal banglajol index php JEMC article view 39901
  2. Sensitivity and Specificity of Pleural Fluid Cytology to Histopathology Examination in Lung Tumor Patients... sriwijayasurgery.com/index.php/sjs/article/view/97Sensitivity and Specificity of Pleural Fluid Cytology to Histopathology Examination in Lung Tumor Patients sriwijayasurgery index php sjs article view 97
  3. Histopathological Features of Cutaneous Tuberculoid Granuloma Disorders | Bioscientia Medicina : Journal... doi.org/10.32539/bsm.v5i9.347Histopathological Features of Cutaneous Tuberculoid Granuloma Disorders Bioscientia Medicina Journal doi 10 32539 bsm v5i9 347
  4. Extrapulmonary Tuberculosis—An Update on the Diagnosis, Treatment and Drug Resistance. tuberculosis... mdpi.com/2673-527X/1/2/15Extrapulmonary TuberculosisAiAn Update on the Diagnosis Treatment and Drug Resistance tuberculosis mdpi 2673 527X 1 2 15
Read online
File size416.9 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test