UWHSUWHS

Jurnal Fisioterapi dan RehabilitasiJurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi

Angka kejadian dismenorea pada remaja masih sangat tinggi dan menjadi salah satu permasalahan yang umum dan sering terjadi pada remaja yang berkaitan dengan organ reproduksi. Salah satu faktor resiko dismenorea usia, lama menstruasi dan akibat penurunan progresteron sehingga terjadi peningkatan hormon prostaglandin yang menyebabkan kontraksi dimiometrium dan menyebabkan vasokontriksi dan iskemia uterus. Jika dismenorea tidak ditangani akan menimbulkan rasa sakit seperti kram perut bagian bawah, nyeri pinggang dan kadang menjalar sampai pada paha sehingga akan mengganggu aktivitas harian salah satunya belajar dan sekolah. Terapi yang dapat dilakukan salah satunya massage dan exercise. Tujuan penelitian ini untuk melihat efektifitas dari abdominal stretching exercise yang dikombinasikan massage kneading pada remaja putri yang mengalami nyeri haid (dismenorea). Metode penelitian kuantitatif pre-eksperimental study design metode one group pretest- posttest design. Teknik sampling menggunakan purposive sampling, dengan 38 responden. Instrument penelitian yang digunakan numeric ratting sacle (NRS). Hasil yang didapat pada uji wilcoxon signed rank test diperoleh P value 0.000, maka nilai P value <0.005. dapat disimpulkan terdapat efektivitas sebelum dan sesudah dilakukan kombinasi abdominal stretching exercise dan massage kneading terhadap penurunan nyeri.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi abdominal stretching exercise dan massage kneading efektif dalam menurunkan nyeri haid (dismenorea) pada remaja putri.Hasil uji Wilcoxon signed-rank test memperlihatkan penurunan intensitas nyeri yang signifikan (P value < 0.Intervensi yang diberikan selama 4 minggu dengan frekuensi 5 kali seminggu ini berhasil mengurangi rata-rata intensitas nyeri dari 5.

Penelitian ini telah menunjukkan potensi kombinasi abdominal stretching exercise dan massage kneading dalam mengurangi nyeri haid. Untuk memperkuat temuan ini, saran penelitian lanjutan yang pertama adalah merancang studi dengan desain eksperimental yang lebih kuat, yaitu dengan menyertakan kelompok kontrol. Dengan adanya kelompok kontrol, kita dapat memastikan bahwa penurunan nyeri yang diamati benar-benar disebabkan oleh intervensi, bukan karena faktor lain seperti efek plasebo atau perubahan alami kondisi subjek. Saran kedua berfokus pada efektivitas jangka panjang dan optimalisasi protokol; akan sangat bermanfaat jika ada studi yang melacak efek terapi ini selama beberapa siklus menstruasi berikutnya, sehingga diketahui apakah manfaatnya bertahan lama. Selain itu, penelitian bisa mengeksplorasi durasi dan frekuensi abdominal stretching serta massage kneading yang paling ideal untuk mencapai hasil maksimal. Terakhir, untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam, disarankan untuk mengukur parameter fisiologis, seperti kadar hormon prostaglandin atau endorfin, yang dikaitkan dengan mekanisme nyeri haid. Mempelajari hal ini akan memberikan bukti objektif tentang bagaimana kombinasi terapi ini bekerja di dalam tubuh. Pengembangan penelitian juga bisa mempertimbangkan perluasan cakupan sampel pada remaja putri dengan latar belakang yang lebih beragam, sehingga hasil yang didapat lebih representatif dan dapat diterapkan secara luas. Langkah-langkah ini penting untuk menyempurnakan rekomendasi terapi non-farmakologis bagi remaja putri yang mengalami dismenorea.

  1. Manajemen Fisioterapi pada Post-Operative Ligamen Anterior Cruciatum dan Ligamen Anterolateral pada Pemain... doi.org/10.33660/jfrwhs.v9i1.413Manajemen Fisioterapi pada Post Operative Ligamen Anterior Cruciatum dan Ligamen Anterolateral pada Pemain doi 10 33660 jfrwhs v9i1 413
Read online
File size406.26 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test