DINUSDINUS

ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & MultimediaANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia

Kota Bandung merupakan kota yang menjadi tujuan wisata, terdapat tempat-tempat wisata yang dapat dikunjungi di Bandung dari mulai pusat perbelanjaan, wisata alam hingga museum. Selain terkenal sebagai kota wisata, kota Bandung pun terkenal sebagai pusat kebudayaan Sunda. Untungnya di kota Bandung terdapat museum yang khusus menyimpan peninggalan kebudayaan Sunda yaitu Museum Sri Baduga sebagai tempat memplejarai kebudayaan Sunda. Namun, generasi muda sebagai generasi penerus kebudayaan kini kurang memiliki minat dalam mengunjungi museum Sri Baduga. Perancangan diperlukan guna menumbuhkan minat pemuda, dengan merancang identitas visual dan pengaplikasiannya pada media promosi museum Sri Baduga. Guna dapat merancang identitas visual dan media promosi nya, maka tentu observasi, wawancara, kuesioner, ilmu tentang ruang lingkup, nilai dan keunggulan adalah metode yang dilakukan guna mendapatkan konsep untuk hasil karyanya. Setelah mendapatkan sebuah kesimpulan dan solusi yang didapat dari metode tersebut, baru dapat diterapkan pada Logo, Brosur, Billboard, dan poster. Perancangan identitas visual dan media promosi museum Sri Baduga ini bertujuan dalam meningkatkan minat pemuda untuk mau mengunjungi museum Sri Baduga agar pemuda sebagai generasi penerus ini, dapat mempelajari kebudayaan sunda, dengan begitu diharapkan dapat melestarikan budaya sunda.

Perancangan identitas visual dan media promosi Museum Sri Baduga dilakukan melalui studi mendalam terhadap visi, misi, karakteristik museum, serta wawancara dan kuesioner kepada pihak pengelola dan remaja sebagai target audiens.Tujuan utama perancangan ini adalah untuk menarik minat generasi muda agar mengunjungi museum dan melestarikan budaya Sunda.Konsep Vintage (1920-1960), yang diilhami dari koleksi dan arsitektur museum serta dikombinasikan dengan ornamen Sunda, menjadi panduan dalam mengembangkan identitas visual dan media promosi yang diharapkan dapat membangun citra merek yang menarik dan membutuhkan konsistensi dalam implementasinya.

Penelitian ini berhasil merancang identitas visual dan media promosi bertema Vintage untuk Museum Sri Baduga guna menarik minat remaja. Namun, ada beberapa arah penelitian lanjutan yang dapat dieksplorasi untuk memperkaya pemahaman dan dampak. Pertama, akan sangat berharga untuk melakukan studi evaluasi pasca-implementasi yang komprehensif. Ini berarti meneliti secara mendalam seberapa efektif identitas visual dan media promosi yang telah dirancang ini dalam meningkatkan jumlah kunjungan remaja ke museum, serta bagaimana persepsi mereka terhadap Museum Sri Baduga setelah terpapar branding baru. Penelitian ini bisa menggunakan metode kuantitatif seperti analisis data pengunjung sebelum dan sesudah implementasi, atau kualitatif melalui wawancara mendalam dengan pengunjung remaja. Kedua, bagaimana jika ada studi komparatif yang membandingkan efektivitas konsep Vintage ini dengan konsep desain modern atau digital yang mungkin lebih relevan bagi sebagian generasi muda? Penelitian semacam ini dapat memberikan wawasan tentang preferensi audiens yang lebih beragam dan membantu museum mengadaptasi strategi promosinya di masa depan. Ketiga, perlu dipertimbangkan untuk mengkaji potensi penggunaan teknologi digital imersif, seperti augmented reality (AR) atau virtual reality (VR), dalam pengalaman museum. Bagaimana teknologi ini dapat diintegrasikan dengan identitas visual yang ada untuk menciptakan pengalaman edukasi yang lebih interaktif dan menarik bagi generasi muda, sekaligus memperkuat daya tarik Museum Sri Baduga di era digital?.

Read online
File size659.26 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test