DINUSDINUS

ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & MultimediaANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia

Film horor erat kaitannya dengan tokoh antagonis yang menimbulkan ketakutan pada penonton dalam bentuk makhluk supranatural seperti hantu, roh jahat, dan sebagainya. Karakteristik film dengan genre horor membuat penonton terbawa suasana dengan alur ceritanya yang menakutkan. Namun, beberapa dari film horor Indonesia menyajikan adegan-adegan yang kurang sopan bahkan tergolong asusila atau porno. Untuk itu, penelitian ini ingin melihat apakah terdapat konten pornografi pada film Mall Klender dan Kamar 207 yang merupakan film horor Indonesia terlaris di tahun 2014. Analisis dilakukan dengan melihat pandangan dan penilaian 30 responden dengan karakteristik yaitu penonton film horor Indonesia yang berusia 20-40 tahun. Berdasarkan hasil analisis, tidak didapatkan konten pornografi pada film Mall Klender dan Kamar 207. Adegan-adegan yang terindikasi sebagai konten pornografi ternyata masih dapat diterima oleh penonton sebagai adegan yang berada dalam batas kewajaran dan mendukung pembawaan suasana dan kesan dalam cerita yang disampaikan.

Mayoritas film horor Indonesia selama ini dipandang lebih menjual konten pornografi dibandingkan cerita horor itu sendiri.Namun, melalui penelitian ini diperoleh beberapa temuan.Temuan-temuan ini diharapkan dapat menjadi gambaran awal mengenai perkembangan dunia perfilman Indonesia khususnya pada genre horor.Berikut beberapa hal yang menjadi temuan dalam penelitian ini.Pertama, tidak didapatkan konten pornografi dalam film Mall Klender dan Kamar 207 yang merupakan film horor Indonesia produksi tahun 2014.Meskipun terdapat adegan-adegan yang terindikasi sebagai pornografi menurut undang-undang yang berlaku, namun adegan-adegan tersebut dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari film dengan alasan yang logis.Adegan-adegan tersebut dirasa tidak mengarah ke tindakan persenggamaan atau aktivitas seksual.Adegan-adegan tersebut dimunculkan dalam rangka penyesuaian dengan alur cerita, kesan yang ingin disampaikan kepada penonton, dan tren yang berkembang di masyarakat khususnya di kalangan anak muda sebagai target pasar film horor Indonesia pada umumnya.Kedua, penonton Indonesia telah memiliki pandangan yang lebih kritis terhadap film horor Indonesia yang muncul di pasar.Pemilihan film horor Indonesia yang akan ditonton lebih mempertimbangkan unsur visualisasi dan kemenarikan cerita yang diangkat.Unsur visualisasi disini dimaknai sebagai adegan-adegan yang menjadi karakteristik film horor pada umumnya yaitu adegan yang menakutkan, menegangkan, dan mengagetkan.Kemenarikan cerita yang diangkat berbicara tentang ide dan tema serta alur cerita yang menjadi jiwa dalam sebuah film horor.Perlu dipertimbangkan untuk menggali lebih dalam mengenai karakteristik film horor Indonesia yang diminati oleh masyarakat.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi komparatif antara film horor Indonesia dengan film horor dari negara lain, terutama dalam hal konten pornografi dan penerimaan penonton. Selain itu, penelitian dapat fokus pada tren dan karakteristik film horor Indonesia yang diminati oleh masyarakat, termasuk faktor-faktor seperti visualisasi, cerita, dan alur. Terakhir, penelitian dapat mengeksplorasi lebih lanjut tentang peran dan pengaruh undang-undang terkait pornografi dalam industri perfilman Indonesia, khususnya dalam genre horor.

Read online
File size953.28 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test