STIKBARSTIKBAR

Public Health of IndonesiaPublic Health of Indonesia

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengalaman hidup individu lanjut usia yang mengalami kekerasan di provinsi Leyte dan Biliran. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Wawancara dilakukan, direkam, dan ditranskripsi secara verbatim. Analisis data menggunakan metode Collaizi untuk memperoleh tema-tema pengalaman hidup dari sepuluh informan kunci lanjut usia yang mengalami kekerasan. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar korban kekerasan adalah perempuan, janda, berusia 60 hingga 65 tahun, berpenghasilan kurang dari 2000 peso Filipina per bulan, dan tinggal secara ketergantungan dalam struktur keluarga nuklir selama 40 tahun. Berdasarkan respons terhadap pertanyaan terbuka, informan mengungkapkan pelecehan emosional sebagai bentuk kekerasan yang paling luas. Kekerasan fisik dan seksual juga ditemukan di masa tua mereka. Anggota keluarga dan atasan kerja merupakan pelaku utama kekerasan terhadap lanjut usia. Memar di area tubuh yang tertutup, luka bakar akibat tali, pakaian dalam yang robek, dan sentuhan tanpa izin merupakan indikator objektif dari kekerasan. Tema-tema seperti kekerasan dalam keluarga dan pelecehan di tempat kerja merupakan bentuk kekerasan yang paling umum dialami.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa kekerasan terhadap lanjut usia terjadi secara meluas, terutama dialami oleh perempuan janda berusia 60 hingga 65 tahun dengan pendapatan rendah yang tinggal lama dalam keluarga nuklir.Pelecehan emosional merupakan bentuk kekerasan yang paling umum, meskipun kekerasan fisik dan seksual juga terjadi baik di lingkungan keluarga maupun tempat kerja.Diperlukan tinjauan segera terhadap peraturan yang ada mengenai perlindungan terhadap orang dewasa rentan, khususnya dalam pelaksanaannya oleh pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait.

Pertama, perlu dilakukan penelitian tentang bagaimana faktor ekonomi keluarga memengaruhi tingkat kekerasan terhadap lansia, terutama pada perempuan janda yang bergantung secara finansial pada anak atau anggota keluarga lainnya. Kedua, penting untuk mengeksplorasi efektivitas sistem pelaporan kekerasan lansia di tingkat desa atau kelurahan, mengingat banyaknya kasus yang tidak dilaporkan akibat rasa malu, takut, atau keterikatan emosional dengan pelaku. Ketiga, perlu dikaji lebih dalam mengenai pengalaman pekerja lansia di sektor informal, khususnya perempuan, dalam menghadapi pelecehan dan eksploitasi di tempat kerja, termasuk bentuk dukungan hukum dan sosial yang paling sesuai bagi mereka. Penelitian-penelitian ini dapat membantu mengungkap akar penyebab tersembunyi, meningkatkan mekanisme pelaporan yang aman dan mudah diakses, serta merancang intervensi berbasis komunitas yang lebih efektif. Dengan memahami dinamika keluarga, sistem lokal, dan kondisi kerja lansia, dapat dikembangkan kebijakan yang lebih tepat sasaran untuk mencegah kekerasan dan memberi perlindungan nyata bagi kelompok rentan ini. Pendekatan yang holistik dan sensitif secara budaya sangat diperlukan agar lansia merasa didengar dan dilindungi tanpa rasa takut kehilangan dukungan hidup mereka. Penelitian lanjutan harus melibatkan pemangku kepentingan lokal untuk memastikan relevansi dan keberlanjutannya. Fokus pada pemberdayaan lansia dan edukasi keluarga juga penting untuk mencegah siklus kekerasan. Data dari studi-studi tersebut dapat menjadi dasar advokasi kebijakan perlindungan lansia yang lebih kuat. Dengan demikian, perlindungan terhadap lansia tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga tanggung jawab kolektif masyarakat dan negara.

Read online
File size192.41 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test