BAJANGJOURNALBAJANGJOURNAL

Jurnal Cakrawala IlmiahJurnal Cakrawala Ilmiah

Karakteristik pelayanan kebidanan dapat dimodifikasi dari berbagai pendekatan yang dianut. Pendekatan yang bersifat pelayanan standar minimal yang mengacu pada cara-cara modern murni tanpa adanya pertimbangan pendekatan budaya setempat. Pada Karakter lainnya pelayanan kebidanan dapat dilaksanakan dengan mengacu pada standar pelayanan minimal yang dikombinasi dengan pendekatan komplementer sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat. Adapun pendekatan lokal yang dapat dilakukan adalah pendekatan Tri Hita Karana sebagai kearifan lokal yang akan membawa masyarakat termotivasi datang memeriksakan kehamilan untuk mendapatkan hasil pemantauan keadaan kehamilannya sekaligus rasa nyaman oleh karena ada tiga unsur kedamaian yang akan didapatkan dalam pelayanan dengan pendekatan filosofi yang berkearifan lokal Budaya Bali ini. Tri hita karana sendiri memiliki makna yaitu Tri Hita Karana berasal dari kata Tri yang artinya tiga, Hita yang artinya kebahagiaan dan Karana yang artinya penyebab. Dalam agama Hindu, Tri Hita Karana adalah tiga penyebab terciptanya kebahagiaan. Kebahagiaan yang diciptakan berdasarkan keharmonisan. Keharmonisan tersebut yaitu hubungan antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa), keharmonisan hubungan antara sesama umat manusia, dan keharmonisan hubungan antara umat manusia dengan lingkungannya hal ini selaras dengan proses dan tujuan diselenggarakannya pelatihan ini.

Adapun yang menjadi kesimpulan dalam tulisan ini yaitu.penyelenggaraan pelayanan kebidanan ini telah mengacu pada standar profesi bidan.Berdasarkan standar yang ada maka bidan professional akan menjawab kebutuhan kliennya dengan beradaptasi kepada praktek-praktek kebidanan yang berkearifan lokal yang telah berbasis bukti memberikan benefit lebih besar dengan mengadaptasikan keduanya.Hal tersebut ditekuni oleh bidan lulusan profesi dengan mengusung culture-preneurship dalam layanan kebidanan pasca pendidikan profesi yang diamanahkan harus dimiliki bidan yang ingin melanjutkan praktek profesinya di dan akreditasi pelatihan sebagai aspek formal dalam pengendalian penyelengaraan pelatihan dilengkapi dengan komponen-komponen yang dipersayaratkan dalam aspek penyelenggaraan pelayanan kebidanan berdasarkan UU Nomor 4 tahun 2019 tentang Kebidanan yang diundangkan tujuh tahun sejak ditetapkan.Culture-preneurship ini dikembangkan dengan memperkuat implementasi Tri Hita Karana didalam setiap praktik maupun pengelolaan pelayanan kebidanan.Baik dalam bentuk hal-hal yang tangible atau kasat mata seperti halnya pada aspek Parahyangan dengan memfasilitasi ibadah dengan menyediakan selendang, dan dupa bagi umat hindu, sajadah bagi umat muslim dan injil bagi umat Kristin, pada aspek Pawongan seperti halnya meningkatkan rasanya nyaman ibu hamil dengan senam hamil bernuansa olah nafas dan yoga yang menjadi ciri khas budaya Bali, pada aspek Palemahan dengan mengupayakan pengurangan bahan dekontaminasi yangtidak ramah lingkungan seperti klorin dengan cairan enzimatik dimana ini adalah salah satu bentuk kepedulian lingkungan Pada konteks implementasi intangible atau tidak kasat mata, aspek Parahyangan dilaksanakan dengan mengajak Ibu hamil dan keluarga menyampaikan rasa syukur atas kehadiran calon generasi penerus dengan berdoa bagi calon bayi serta mengijinkannya praktek-praktek budaya yang meningkatkan aspek spiritualitas yang terbukti secara ilmiah tidak merugikan kesehatan seperti menyanyikan dan memberikan sentuhan kidung-kidung rohani yang dikombinasikan dengan aktivitas brainbooster.Pada Aspek Pawongan upaya bidan memberikan edukasi agar dapat ditingkatkannya keterampilan hidup (lifeskill) Ibu hamil dan keluarga yang mendampingi dengan mengajarkan pentingnya peran pendampingan suami, parenting class dan edukasi lainnya yang dibutuhkan selama kehamilan.Aspek Palemahan dengan menghadirkan suasana lingkungan seperti halnya dirumah dengan menghindarkan suasana lingkungan dari aroma-aroma larutan antiseptik beralih ke aroma rumahan seperti aroma dupa dan aroma lainnya yang memberikan rasa nyaman sesuai kebutuhan kliennya.Hal tersebut memang tidak kasat mata namun secara holistic dapat dirasakan keberadaan menyempurnakan layanan kasat mata yang diberikan oleh Bidan.Inti dari hasil kajian mellauistudi kasus ini juga dapat disampaikan juga bahwa sesungguh entrepreneurship dapat berasal dari berbagai modalitas termasuk unsur budaya, dan konteks entrepreneurship tidak hanya usaha untuk mendapatkan keuntungan secara materiil saja tetapi lebih kepada upaya untuk mengoptimalkan modalitas yang ada untuk menghadirkan dan memberikan kebermanfaatan atas usaha yang kita kembangkan jauh lebih baik kepada masyarakat luas yang kita layani.Dengan demikian seluruh upaya yang diakui masyarakat akan berimbas terhadap kepercayaan pelanggan atas pelayanan yang kita hadirkan di tengah-tengah masyarakat terlebih lagi hal tersebut sesungguhnya merupakan salah satu luaran yang diperoleh pasca pendidikan profesi serta menjadi salah satu pembeda kualitas layanan dengan bidan berpendidikan vokasi.

Berdasarkan hasil penelitian ini, saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan adalah: 1. Menganalisis lebih lanjut bagaimana implementasi Tri Hita Karana dalam pelayanan kebidanan dapat meningkatkan kepuasan pasien dan kualitas pelayanan secara holistik. 2. Meneliti dampak dari penerapan culture-preneurship dalam pelayanan kebidanan terhadap peningkatan akses dan minat masyarakat dalam memanfaatkan layanan bidan. 3. Mengembangkan studi kasus serupa di berbagai wilayah di Indonesia, khususnya di daerah-daerah dengan budaya lokal yang kuat, untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi pendekatan budaya lokal yang dapat diterapkan dalam pelayanan kebidanan. Dengan menggabungkan saran-saran ini, penelitian lanjutan dapat lebih menyeluruh dalam mengeksplorasi dan mengembangkan pendekatan budaya lokal dalam pelayanan kebidanan, serta meningkatkan kualitas dan aksesibilitas layanan kesehatan reproduksi di Indonesia.

Read online
File size304.17 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test