PUBLIKASIINDONESIAPUBLIKASIINDONESIA

Jurnal Pendidikan IndonesiaJurnal Pendidikan Indonesia

Gangguan pendengaran atau presbikusis merupakan salah satu gangguan yang umum terjadi pada usia lanjut. Kondisi tersebut diduga dapat menurunkan fungsi kognitif lansia. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan gangguan pendengaran dengan penurunan fungsi kognitif pada usia lanjut. Jenis penelitian ini yaitu studi analitik dengan rancangan potong lintang (cross-sectional). Penelitian dilakukan di UPTD Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai. Populasi penelitian sebanyak 68 orang, dan sampel diperoleh sebanyak 58 orang. Penarikan sampel secara purposif (purposive sampling). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Korelasi Gamma pada tingkat kepercayaan 95% (α =0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok umur responden didominasi oleh lansia berusia 60–65 tahun sebesar 43,1% dan mayoritas berjenis kelamin perempuan yaitu 56,9%. Sebagian besar responden memiliki pendengaran terbaik pada telinga kanan (46,6%), dengan tipe gangguan terbanyak berupa tuli sensorineural sebesar 58,7% dan derajat gangguan yang paling banyak adalah tuli ringan (34,5%), sementara gangguan kognitif didominasi kategori sedang sebesar 43,1%. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tipe serta derajat gangguan pendengaran dengan fungsi kognitif lansia, dengan nilai p = 0,019 dan tingkat keeratan hubungan yang kuat (r = 0,711). Keterbatasan penelitian meliputi desain cross-sectional yang tidak dapat menunjukkan hubungan kausal, sampel terbatas pada satu lokasi sehingga generalisasi hasil perlu dilakukan dengan hati-hati, serta kemungkinan adanya faktor perancu yang tidak terkontrol seperti riwayat penyakit vaskular, tingkat pendidikan, dan aktivitas sosial responden.

Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara gangguan pendengaran, khususnya tipe sensorineural dengan derajat ringan hingga sedang‑berat, dan penurunan fungsi kognitif pada lansia di UPTD Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai.Penelitian lanjutan disarankan menggunakan desain longitudinal untuk mengevaluasi hubungan kausal antara kedua variabel.Selain itu, populasi penelitian sebaiknya diperluas ke berbagai wilayah dan latar belakang serta memasukkan faktor perancu seperti tingkat pendidikan, aktivitas sosial, riwayat penyakit vaskular, dan penggunaan alat bantu dengar.

Penelitian selanjutnya dapat menguji hubungan kausal antara penurunan pendengaran dan penurunan kognitif dengan merancang studi kohort longitudinal yang melacak progresi gangguan pendengaran dan fungsi kognitif pada lansia di beberapa provinsi Indonesia, sambil mengontrol variabel seperti pendidikan, riwayat penyakit vaskular, aktivitas sosial, dan penggunaan alat bantu dengar. Selanjutnya, perlu dilakukan uji efektivitas intervensi rehabilitasi auditori dini yang dipadukan dengan program stimulasi kognitif untuk menilai apakah kombinasi tersebut dapat memperlambat atau membalikkan penurunan kognitif pada peserta yang mengalami gangguan pendengaran sensorineural ringan hingga sedang. Selain itu, penelitian dapat menyelidiki perbedaan gender dalam asosiasi antara tingkat keparahan gangguan pendengaran dan tingkat keparahan gangguan kognitif, dengan mempertimbangkan faktor hormonal, sosial, dan gaya hidup yang mungkin memengaruhi hasil pada populasi pria dan wanita yang tinggal di panti jompo.

Read online
File size414.17 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test