UnbrahUnbrah

Health and Medical JournalHealth and Medical Journal

Latar belakang: Langerhans cell histiocytosis adalah suatu lesi jinak pada tulang yang biasanya mengenai populasi anak dan dewasa muda. Penegakan diagnosis langerhans cell histiocytosis memiliki tantangan tersendiri karena selain kasus yang jarang, secara histopatologi langerhans cell histiocytosis memiliki gambaran seperti proses inflamasi lainnya. Kami melaporkan kasus pada anak laki-laki berusia 4 tahun dengan keluhan benjolan yang tumbuh lambat, konsistensi kenyal padat di area kepala. Hasil CT scan kepala menunjukkan Space Occupying Lesion (SOL) multipel dengan destruksi tulang os parietal kanan dan kiri. Pada gambaran histopatologi didapatkan kesan granuloma eosinofilik. Adanya dominasi sel eosinofilik, sel limfosit, sel plasma, serta sel inflamasi lainnya di tulang dapat menyebabkan misdiagnosis sebagai suatu osteomielitis kronik. Kemiripan tampilan histopatologi ini, selain meninjau kembali manifestasi klinis dan lokasi lesi maka analisis morfologi sel yang didukung oleh pemeriksaan imunohistokimia penting untuk membedakan sel histiosit Langerhans dengan sel histiosit normal lainnya. Pendekatan multidisiplin ini sangat penting untuk membuat diagnosis yang tepat sehingga dapat mengoptimalkan terapi yang diberikan.

Langerhans cell histiocytosis (LCH) merupakan penyakit yang jarang dan seringkali menyerupai kondisi lain seperti osteomielitis kronik.Diagnosis LCH memerlukan evaluasi yang cermat, termasuk pemeriksaan histopatologi dan imunohistokimia untuk membedakannya dari kondisi inflamasi lainnya.Pendekatan multidisiplin yang melibatkan klinisi dan ahli patologi sangat penting untuk memastikan diagnosis yang akurat dan penanganan yang optimal pada pasien dengan LCH.

Berdasarkan studi kasus ini, beberapa arah penelitian lanjutan dapat dieksplorasi. Pertama, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi biomarker spesifik yang dapat membantu membedakan LCH dari osteomielitis kronik secara lebih akurat, terutama pada tahap awal diagnosis. Kedua, studi prospektif dengan jumlah sampel yang lebih besar perlu dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas berbagai protokol terapi pada pasien LCH, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti usia, lokasi lesi, dan tingkat keparahan penyakit. Ketiga, penelitian tentang peran faktor genetik dan imunologi dalam perkembangan LCH dapat memberikan wawasan baru tentang patogenesis penyakit ini dan membuka peluang untuk pengembangan terapi yang lebih bertarget. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman kita tentang LCH dan meningkatkan kualitas hidup pasien yang terkena penyakit ini.

Read online
File size589.63 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test