UNANDUNAND

Jurnal ArbitrerJurnal Arbitrer

Penelitian ini berfokus pada mitos dan ritual Ine Pare di kalangan komunitas Ende-Lio di Desa Nida, Flores, Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengungkapkan bagaimana ekspresi linguistik mengkodekan kebijaksanaan lokal di tengah marjinalisasi budaya. Pendekatan etnografi dan teori antropologi linguistik digunakan sebagai kerangka formal studi ini. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan selama 16 minggu dan wawancara mendalam dengan pemimpin adat (Mosalaki) dan lima informan kunci lainnya. Analisis data tematik menemukan bahwa mitos dan ritual Ine Mbu - Ibu Padi - mewakili sistem pengetahuan ekologis yang didukung oleh rasionalitas lokal dan religiositas. Pengetahuan ekologis tercermin dalam solidaritas komunitas, distribusi sumber daya yang adil, dan larangan lingkungan. Rasionalitas lokal diekspresikan melalui pengetahuan pertanian dan gizi. Religiositas tercermin dalam penghormatan leluhur, kewajiban ritual, dan etika moral yang ditegakkan melalui sanksi komunitas. Dalam konteks ini, bahasa Lio, yang digunakan dalam mitos dan mantra ritual, berfungsi sebagai pelestari dan penyalur nilai-nilai kebijaksanaan lokal ini. Komunitas Nida-Ende dan tradisi lisan serta kebijaksanaan lokal mereka tetap relatif tangguh berkat isolasi geografis. Namun, migrasi pemuda, influx media digital dan sosial, serta komodifikasi pariwisata mengancam tradisi ini.

Studi ini mengungkapkan bahwa mitos dan ritual Ine Pare di komunitas Desa Nida, Ende-Lio, merupakan manifestasi kompleks dari dimensi rasional, sosio-ekologis, dan spiritual-religius.Secara struktural, narasi mitos Ine Mbu dan urutan ritual yang menyertainya - dari Poka Taba (membersihkan lahan), Tedo Pare (menanam padi), Keti Pare (memanen), hingga Nuwa Boo (mengkonsumsi padi baru) - bukan hanya praktik pertanian, tetapi juga teks simbolis yang menyalurkan nilai-nilai kolektif melalui bahasa ritual dalam bahasa Lio.Mantra yang diucapkan memiliki fungsi ganda sebagai panduan teknis untuk bertani dan sebagai doa moral yang mengatur perilaku sosial dan ekologis.Secara substansial, Ine Pare, melalui simbol-simbol mitologis, mewakili dan merefleksikan kebijaksanaan rasionalitas tradisional yang relevan dengan logika ilmiah modern, mencakup pemahaman tentang siklus tanam padi, pengelolaan kesuburan tanah, dan pentingnya gizi seimbang.Di sisi lain, ritual ini mengarahkan komunitasnya menuju ikatan sosial yang kohesif.Prinsip-prinsip kerjasama, prinsip-prinsip keadilan dalam sistem distribusi panen, dan sistem hukum dalam bentuk sanksi adat terhadap anggota komunitas yang melanggar tabu membentuk tatanan sosial ideal sepanjang waktu.Pengetahuan sistem ekologi dan keberlanjutannya, serta larangan terhadap eksploitasi berlebihan terhadap alam, sangat relevan dengan masyarakat modern saat ini dan di masa depan.Ine Pare juga merefleksikan dimensi religius, termasuk kepercayaan pada kekuatan ilahi leluhur, afirmasi otoritas Mosalaki, dan kepatuhan terhadap praktik ritual sebagai penjaga harmoni sosial mikroskopis dan harmoni spiritual makroskopis.

Berdasarkan temuan dan analisis dalam penelitian ini, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan yang dapat dilakukan: Pertama, perlu dilakukan studi lebih lanjut tentang variasi dialek bahasa Ende-Lio dan posisinya dalam keragaman linguistik Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mencakup lebih dari 70 bahasa lokal. Penelitian ini dapat memperluas cakupan untuk menyelidiki korelasi antara variasi linguistik dan konten budaya lokal yang merefleksikannya. Pendekatan komparatif dan tipologis akan memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana keragaman linguistik di Flores dan NTT menjadi cerminan kebijaksanaan budaya yang kompleks, saling terkait, dan dinamis, melampaui studi tentang ritual Ine Pare dalam satu desa. Kedua, penting untuk mengeksplorasi ancaman dan tekanan internal yang dihadapi Desa Nida, termasuk permintaan migrasi pemuda untuk pendidikan dan penghidupan yang layak, pengaruh eksternal dari modernitas global dan budaya populer, serta tekanan dari kebijakan pembangunan yang tidak peka terhadap kebijaksanaan lokal. Rekonstruksi, refungsionalisasi, dan revitalisasi nilai-nilai budaya lokal sangat diperlukan, termasuk dokumentasi digital narasi dan mantra, integrasi materi Ine Pare ke dalam kurikulum pendidikan formal, pemberdayaan generasi muda sebagai pewaris budaya, dan pengembangan pariwisata budaya yang menjaga makna sakral ritual tanpa mengkomodifikasinya. Ketiga, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan mekanisme sanksi adat yang diterapkan oleh komunitas Nida terhadap anggota yang melanggar tabu. Studi ini dapat memberikan wawasan tentang bagaimana sanksi adat berfungsi sebagai penjaga harmoni sosial dan spiritual dalam komunitas tersebut.

  1. LOCAL CULTURE-BASED COMMUNITY DEVELOPMENT IN SUBANG REGENCY, WEST JAVA | EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan... doi.org/10.15408/empati.v12i1.31786LOCAL CULTURE BASED COMMUNITY DEVELOPMENT IN SUBANG REGENCY WEST JAVA EMPATI Jurnal Ilmu Kesejahteraan doi 10 15408 empati v12i1 31786
  2. DOI Name 10.2991 Values. name values index type timestamp data serv crossref desc atlantis press email... doi.org/10.2991DOI Name 10 2991 Values name values index type timestamp data serv crossref desc atlantis press email doi 10 2991
Read online
File size463.24 KB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test