LAKPESDAMSALATIGALAKPESDAMSALATIGA

JNUSJNUS

Dakwah kultural di Jawa kerap berlangsung melalui proses negosiasi antara ajaran Islam dan sistem sosial-budaya lokal. Di Tremas (Pacitan), narasi babat alas (pembukaan lahan) dan tumbuhnya kepemimpinan pesantren memperlihatkan bagaimana otoritas spiritual dan legitimasi sosial dapat saling menguatkan dalam proses penerimaan dan pelembagaan Islam lintas periode. Penelitian ini menjawab dua pertanyaan: (1) Bagaimana dakwah kultural melalui mekanisme akulturasi, pribumisasi, dan mediasi budaya menjelaskan peran serta legitimasi tokoh lokal (Mbah Ketok Jenggot dan K.H. Abdul Manan Dipomenggolo) dalam membangun penerimaan Islam di Tremas? (2) Bagaimana pesantren sebagai institusi dakwah pendidikan dalam pembentukan habitus religius, kaderisasi, dan jaringan keilmuan menjelaskan strategi K.H. Abdul Manan dalam menginstitusionalisasikan Islam di Tremas secara berkelanjutan? Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sumber data dokumen Manuskrip Tremas (Ahmad Muhammad) dan wawancara semi-terstruktur dengan informan kunci (kepala dusun/juru kunci Tremas). Data dihimpun melalui teknik simak–catat terhadap dokumen dan wawancara, kemudian dianalisis memakai model interaktif: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mbah Ketok Jenggot berperan sebagai mediator budaya yang menyediakan legitimasi awal melalui narasi babat alas dan simbol-simbol lokal, sehingga Islam dapat masuk ke dalam sistem makna masyarakat secara bertahap. K.H. Abdul Manan memperkuat proses Islamisasi melalui strategi dakwah pendidikan dengan membangun pengajian berbasis masjid dan infrastruktur pesantren yang menstabilkan praktik keagamaan, membentuk habitus religius, serta menopang keberlanjutan transmisi ajaran melalui pola pendidikan dan jejaring keilmuan.

Penelitian merekomendasikan penguatan dokumentasi literasi sejarah lokal sebagai sumber dakwah kultural, pengembangan kaderisasi terstruktur berbasis pesantren untuk menjamin keberlanjutan dakwah, dan perluasan kolaborasi jejaring pesantren/NU untuk memperkuat otoritas keilmuan serta dampak sosial.Riset lanjutan disarankan melakukan triangulasi lebih luas (arsip, multi-informan, dan observasi etnografis jangka panjang) guna memperdalam pemahaman tentang mekanisme mediasi budaya dalam proses Islamisasi lokal.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa arah studi lanjutan yang menarik untuk dieksplorasi. Pertama, penelitian lebih lanjut dapat dilakukan untuk menginvestigasi bagaimana narasi babat alas dan simbol-simbol lokal yang digunakan oleh Mbah Ketok Jenggot terus memengaruhi identitas dan praktik keagamaan masyarakat Tremas saat ini. Hal ini dapat dilakukan melalui observasi partisipan dan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat dan generasi muda untuk memahami bagaimana warisan sejarah ini diinterpretasikan dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada analisis peran pesantren Tremas dalam membentuk habitus religius santri, khususnya dalam konteks globalisasi dan modernisasi. Pertanyaan penelitiannya adalah: Bagaimana pesantren Tremas menyeimbangkan antara pelestarian nilai-nilai tradisional dan adaptasi terhadap perubahan sosial dan teknologi? Penelitian ini dapat menggunakan metode survei dan analisis konten untuk mengidentifikasi strategi-strategi yang digunakan oleh pesantren dalam membentuk karakter santri yang religius, berakhlak mulia, dan berdaya saing. Ketiga, penelitian dapat mengeksplorasi potensi pengembangan jaringan pesantren/NU untuk memperkuat otoritas keilmuan dan dampak sosial di tingkat regional dan nasional. Pertanyaan penelitiannya adalah: Bagaimana kolaborasi antar pesantren dan NU dapat meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat jaringan sosial, dan mempromosikan nilai-nilai kebangsaan? Penelitian ini dapat menggunakan metode studi kasus dan analisis jaringan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memfasilitasi atau menghambat kolaborasi, serta untuk merumuskan rekomendasi kebijakan yang mendukung pengembangan jaringan pesantren/NU yang efektif dan berkelanjutan. Ketiga saran penelitian ini saling terkait dan dapat saling memperkaya, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman tentang peran penting NU dan pesantren dalam pembangunan sosial dan keagamaan di Indonesia.

  1. The Role of NU Figures in Cultural Da‘wah: A Collaborative Study of K.H. Abdul Manan Dipomenggolo... doi.org/10.35672/jnus.v6i2.99-113The Role of NU Figures in Cultural DaAowah A Collaborative Study of K H Abdul Manan Dipomenggolo doi 10 35672 jnus v6i2 99 113
Read online
File size557.97 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test