SADRASADRA

Kanz Philosophia: A Journal for Islamic Philosophy and MysticismKanz Philosophia: A Journal for Islamic Philosophy and Mysticism

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep īthār dalam pemikiran Ibn Qayyim al-Jawziyyah sebagai pendekatan untuk menghindari perilaku people-pleasing. People-pleasing adalah kecenderungan individu untuk selalu menyenangkan orang lain dengan mengorbankan kepentingan pribadi yang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental dan keseimbangan emosional. Sebagai alternatif, konsep īthār, yang berarti mendahulukan kepentingan orang lain atas dasar keikhlasan dan ketulusan, menawarkan solusi yang lebih sehat dan berlandaskan nilai spiritual Islam. Penelitian ini menggunakan teori tasawuf dan psikologi sosial untuk memahami perbedaan mendasar antara īthār dan people-pleasing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan studi pustaka terhadap karya-karya Ibn Qayyim al-Jawziyyah, terutama Madārij al-Sālikīn dan Maḥabbatullah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa īthār bukan sekadar tindakan sosial, tetapi juga bagian dari ibadah yang mencerminkan keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepedulian terhadap sesama tanpa menimbulkan tekanan psikologis. Berbeda dengan people-pleasing, yang cenderung didorong oleh rasa takut akan penolakan dan kebutuhan akan validasi sosial, īthār berlandaskan pada niat mencari rida Allah dan kesejahteraan bersama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa īthār dapat menjadi pendekatan yang efektif untuk menghindari dampak negatif people-pleasing dan membantu seseorang membangun interaksi sosial yang lebih sehat serta meningkatkan kualitas spiritual. Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlunya pemahaman lebih luas tentang konsep īthār dalam pendidikan karakter dan bimbingan psikologis, sehingga individu dapat mengembangkan keseimbangan antara kepedulian terhadap orang lain dan menjaga kesejahteraan diri tanpa terjebak dalam sikap people-pleasing.

Īthār adalah tingkat yang lebih tinggi dalam perjalanan spiritual dan sosial seseorang yang menaiki tangga iman.Dalam perspektif Ibn Qayyim al-Jawziyyah, īthār tidak hanya merupakan tindakan mendahulukan kepentingan orang lain, tetapi juga merupakan bentuk ibadah yang mencerminkan kedalaman iman, ketulusan, dan ketundukan kepada Allah.Berbeda dengan people-pleasing yang didorong oleh kebutuhan akan penerimaan sosial dan seringkali mengorbankan harga diri, īthār lahir dari kesadaran spiritual yang tinggi.Sikap ini merupakan manifestasi dari maqam maḥabbatullah, yaitu kondisi spiritual di mana seseorang sepenuhnya melepaskan ego dan menyerahkan diri kepada Allah.Sebagai solusi untuk masalah people-pleasing, īthār menawarkan keseimbangan antara kepedulian terhadap orang lain dan menjaga integritas diri.Dengan menerapkan prinsip-prinsip īthār yang mendahulukan kepentingan orang lain dalam urusan duniawi, mendahulukan kepuasan Allah, dan tidak mengatributkan kemuliaan kepada diri sendiri, seseorang dapat membangun hubungan sosial yang lebih sehat, meningkatkan ketakwaan, dan mencapai kedamaian batin.Singkatnya, īthār adalah seni mendahulukan orang lain tanpa kehilangan diri sendiri.Membantu dengan ketulusan, mendahulukan kepuasan Allah, bukan pujian.Berempati secara seimbang tanpa mengorbankan prinsip, memberi tanpa kehilangan, dan peduli tanpa terjebak dalam sikap people-pleasing.Oleh karena itu, īthār bukan hanya nilai moral, tetapi juga jalan spiritual yang membantu seseorang mencapai kesempurnaan iman dan menghindari dampak negatif dari tekanan sosial yang berlebihan.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa arah studi. Pertama, penelitian tentang penerapan konsep īthār dalam pendidikan karakter dan bimbingan psikologis, terutama dalam konteks membantu individu mengembangkan keseimbangan antara kepedulian terhadap orang lain dan menjaga kesejahteraan diri. Kedua, studi tentang pengaruh īthār terhadap kesehatan mental dan keseimbangan emosional, serta bagaimana īthār dapat menjadi alternatif untuk mengatasi dampak negatif dari perilaku people-pleasing. Ketiga, penelitian tentang peran īthār dalam membangun masyarakat yang harmonis dan saling mendukung, serta bagaimana īthār dapat menjadi fondasi untuk menciptakan hubungan sosial yang sehat dan bermakna.

  1. DOI Name 10.21274 Values. name values index type timestamp data serv crossref desc iain tulungagung tulu... doi.org/10.21274DOI Name 10 21274 Values name values index type timestamp data serv crossref desc iain tulungagung tulu doi 10 21274
  2. Menyeimbangkan Ritualitas dan Partisipasi Sosial: Konsep Tasawuf Sosial Amin Syukur | NALAR: Jurnal Peradaban... e-journal.iain-palangkaraya.ac.id/index.php/nalar/article/view/2788Menyeimbangkan Ritualitas dan Partisipasi Sosial Konsep Tasawuf Sosial Amin Syukur NALAR Jurnal Peradaban e journal iain palangkaraya ac index php nalar article view 2788
  3. KONSEP ITSAR: TELAAH ATAS PEMIKIRAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH | EL-FIKR: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam.... doi.org/10.19109/el-fikr.v3i1.12988KONSEP ITSAR TELAAH ATAS PEMIKIRAN IBNU QAYYIM AL JAUZIYAH EL FIKR Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam doi 10 19109 el fikr v3i1 12988
  4. The Relationship between Self Boundaries and People Pleaser Behavior in Islamic Guidance and Counseling... doi.org/10.18592/alhiwar.v12i2.14355The Relationship between Self Boundaries and People Pleaser Behavior in Islamic Guidance and Counseling doi 10 18592 alhiwar v12i2 14355
Read online
File size483.82 KB
Pages22
DMCAReport

Related /

ads-block-test