DIGLOSIA UNMULDIGLOSIA UNMUL

Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan PengajarannyaDiglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ekspresi kebahasaan dalam tuturan ritual Nutuk Beham yang merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat Kutai Adat Lawas. Tuturan tersebut memuat cerita rakyat dan simbol budaya yang diwariskan secara turun‑temurun dalam pelaksanaan ritual panen padi. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnolinguistik dengan metode kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan pelaku ritual, serta dokumentasi lisan yang dikumpulkan selama proses upacara adat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tuturan ritual Nutuk Beham mengandung struktur linguistik khas berupa syair lisan yang berpola repetitif dan ritmis. Di dalamnya tersimpan narasi simbolik tentang asal‑usul padi dan kisah pengorbanan yang menjadi dasar mitologis masyarakat. Ekspresi kebahasaan tersebut memuat nilai karakter seperti penghormatan, tanggung jawab, dan religiositas, serta mencerminkan kearifan ekologis yang berakar pada relasi harmonis antara manusia, alam, dan pangan. Penelitian ini menegaskan bahwa tuturan ritual Nutuk Beham bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga media edukatif untuk pewarisan nilai‑nilai luhur dalam konteks lokal.

Penelitian ini menemukan bahwa tuturan ngassapi dalam ritual Nutuk Beham merupakan ekspresi budaya yang memiliki struktur linguistik khas, fungsi mengatur tahapan ritual, serta makna simbolik yang menyampaikan nilai karakter dan kearifan ekologis.Struktur syair lisan dengan repetisi, paralelisme, dan diksi arkais memperkuat peran bahasa sebagai medium sakral dan komunikatif antara manusia, alam, serta leluhur.Temuan ini menegaskan pentingnya tuturan ngassapi untuk pelestarian budaya, identitas Kutai, dan sebagai sumber nilai dalam pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.

Penelitian lanjutan dapat menguji variasi linguistik dan nilai ekologis tuturan ngassapi Nutuk Beham dengan melakukan perbandingan etnolinguistik antar‑sub‑daerah Kutai, sehingga dapat mengidentifikasi perbedaan struktural dan perspektif lingkungan yang mungkin dipengaruhi oleh kondisi geografis. Selanjutnya, diperlukan studi longitudinal yang meneliti bagaimana proses transmisi intergenerasional ngassapi memengaruhi pembentukan karakter pada generasi muda, misalnya dengan menggabungkan metode kualitatif wawancara dan kuantitatif pengukuran sikap karakter serta menguji efektivitas modul pembelajaran berbasis tuturan ritual dalam kurikulum sekolah. Selain itu, pembuatan arsip digital berstandar terbuka serta penerapan analisis korpus komputasional pada data rekaman ritual dapat memperkuat pelestarian bahasa dan memungkinkan analisis statistik fitur linguistik, yang selanjutnya dapat diintegrasikan ke dalam materi pendidikan lingkungan hidup berbasis kearifan lokal. Penelitian-penelitian tersebut akan memperluas pemahaman tentang hubungan bahasa, budaya, dan ekologi, serta memberikan dasar empiris bagi kebijakan pendidikan karakter yang berakar pada tradisi lisan. Implementasi hasil penelitian dalam program pendidikan formal dan non‑formal diharapkan dapat meningkatkan kesadaran ekologis serta melestarikan warisan budaya Kutai secara berkelanjutan.

  1. One moment, please.... one moment please wait request verified diglosiaunmul.com/index.php/diglosia/article/view/692One moment please one moment please wait request verified diglosiaunmul index php diglosia article view 692
  2. Wacana mantra upacara Wiwit (Kajian Etnolinguistik) | Jurnal Penelitian Humaniora. wacana mantra upacara... journal.uny.ac.id/index.php/humaniora/article/view/57238Wacana mantra upacara Wiwit Kajian Etnolinguistik Jurnal Penelitian Humaniora wacana mantra upacara journal uny ac index php humaniora article view 57238
Read online
File size843.98 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test