ABHINAYAABHINAYA

Journal of Social Growth and Development StudiesJournal of Social Growth and Development Studies

Penelitian ini menganalisis peran tokoh dalam dinamika konflik internal Islam, khususnya dalam kasus Ahmadiyah di Lombok. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analisis, data dikumpulkan melalui wawancara dengan perwakilan jamaah Ahmadiyah serta sumber sekunder seperti penelitian sebelumnya, laporan NGO, dan media massa. Data yang diperoleh dikategorikan berdasarkan pola konflik dan psikologi massa, kemudian dianalisis menggunakan kerangka teori sosialisasi agama. Hasil menunjukkan bahwa tokoh penting di kedua kelompok memainkan peran vital sebagai significant others dalam mengurangi konflik melalui tiga mekanisme: penguatan iman, dialog Islam internal, dan pemodelan iman. Dialog internal ini menjadi kunci dalam menemukan kesamaan dan mengelola perbedaan dalam ajaran dalam satu agama. Kehadiran tokoh sebagai mediator memainkan peran strategis dalam mengelola konflik, baik dalam bentuk terbuka maupun pada tingkat doktrinal.

Pengaruh significant others di kedua pihak memainkan peran vital dalam mempengaruhi karakter setiap individu dalam menerapkan ajaran Islam.Significant Others ini dapat melakukan ketiga tipe tersebut.Misalnya, peran tokoh memobilisasi pengendalian iman bagi kedua kelompok agar tidak selalu bentrok satu sama lain.Kedua, ada dialog antara iman, dalam hal ini iman dalam arti yang lebih internal karena melibatkan satu agama yang memiliki ajaran berbeda.Setelah itu, peran tokoh dapat melakukan pemodelan iman dengan melihat kecenderungan individu kedua kelompok.Dari ketiga tipe di atas, dialog iman Islam internal dapat dilakukan untuk memperkuat dasar bersama dan menoleransi kesenjangan antara kedua kelompok Muslim yang mengakui Islam sebagai agama mereka.Dengan demikian, peran significant others menjadi semacam mediator baik dalam konflik terbuka maupun tertutup dalam arti konflik pada tingkat doktrinal.

Untuk mengoptimalkan peran significant others dalam menjaga harmoni internal di antara umat Muslim, perlu memperkuat kapasitas tokoh sebagai mediator melalui pelatihan dialog intra-agama dan resolusi konflik berdasarkan nilai-nilai Islam. Selain itu, perlu menciptakan ruang dialog berkelanjutan yang mempertemukan berbagai kelompok Muslim untuk membangun pemahaman bersama dan mengurangi potensi konflik akibat perbedaan ajaran. Pendekatan iman yang kontekstual juga perlu dikembangkan agar strategi dakwah dan bimbingan agama dapat disesuaikan dengan karakter dan kecenderungan individu kedua kelompok. Kolaborasi dengan institusi agama merupakan langkah strategis dalam menanamkan nilai toleransi dan moderasi Islam, sekaligus mencegah polarisasi berlebihan. Selain itu, penggunaan media, baik digital maupun konvensional, dapat menjadi sarana efektif dalam menyebarkan pemahaman Islam yang inklusif dan memperkuat peran pemimpin dalam menyampaikan nilai-nilai persaudaraan, sehingga dapat berfungsi sebagai mediator dalam konflik terbuka dan tersembunyi pada tingkat doktrinal.

Read online
File size184.59 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test