RESEARCHHUBRESEARCHHUB

Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan IndonesiaJurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia

Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di kalangan ibu hamil, karena dapat berdampak buruk pada kesehatan ibu dan janin. Selama kehamilan, kebutuhan zat besi tubuh meningkat karena tuntutan janin yang sedang tumbuh dan peningkatan volume darah ibu. Anemia defisiensi besi (ADB) adalah jenis anemia yang paling umum di kalangan ibu hamil, dan dapat menyebabkan komplikasi seperti kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan morbiditas ibu. Asupan zat besi yang cukup sangat penting untuk mencegah anemia, dan kepatuhan terhadap suplementasi zat besi sangat penting untuk mengelola dan mencegah kondisi ini. Pengetahuan tentang anemia, termasuk penyebab, konsekuensi, dan metode pencegahannya, merupakan faktor kunci yang memengaruhi kepatuhan terhadap konsumsi tablet zat besi pada ibu hamil. Ibu dengan pengetahuan yang lebih baik cenderung lebih memahami pentingnya suplementasi zat besi dan lebih konsisten dalam mengonsumsi tablet zat besi yang diresepkan. Sebaliknya, mereka yang memiliki pengetahuan terbatas mungkin gagal mengenali pentingnya nutrisi yang tepat dan pentingnya mematuhi rekomendasi medis. Intervensi pendidikan kesehatan telah terbukti meningkatkan pengetahuan ibu tentang anemia dan, pada gilirannya, meningkatkan kepatuhan terhadap rejimen suplementasi zat besi. Temuan penelitian ini menggarisbawahi hubungan antara pengetahuan ibu dan kejadian anemia selama kehamilan. Ditemukan bahwa perempuan dengan pengetahuan yang baik tentang anemia memiliki insidensi anemia yang lebih rendah. Hal ini menekankan perlunya program edukasi kesehatan di tingkat masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan mempromosikan pentingnya suplementasi zat besi. Tenaga kesehatan harus berfokus pada edukasi ibu hamil tentang risiko anemia, manfaat tablet zat besi, dan metode konsumsi yang tepat untuk mengurangi prevalensi anemia dan meningkatkan kesehatan ibu dan janin.

Sebagian besar ibu hamil di Wilayah Puskesmas Cilacap Selatan 1 Kabupaten Cilacap tahun 2025 berada dalam kategori umur dan paritas tidak berisiko, berpendidikan menengah, serta tidak bekerja.mayoritas memiliki pengetahuan baik tentang anemia, dan 86 % di antaranya tidak mengalami anemia.Meskipun prevalensi anemia rendah, analisis menunjukkan hubungan yang signifikan dan berkeeratan cukup kuat (p = 0,001.r = 0,377) antara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia dan kejadian anemia, menegaskan bahwa peningkatan pengetahuan merupakan faktor kunci dalam mencegah anemia pada kehamilan.

Mengingat temuan penting penelitian ini mengenai hubungan antara tingkat pengetahuan ibu hamil tentang anemia dan kejadiannya, penelitian lanjutan dapat lebih mendalam untuk mengidentifikasi strategi pencegahan yang paling efektif dan berkelanjutan. Pertama, untuk mengatasi potensi bias dari metode survei, akan sangat bermanfaat untuk melakukan studi kualitatif atau studi kasus yang lebih mendalam, misalnya melalui wawancara mendalam atau diskusi kelompok terarah dengan ibu hamil dan tenaga kesehatan. Pendekatan ini dapat menggali secara komprehensif hambatan dan fasilitator riil dalam peningkatan pengetahuan dan kepatuhan terhadap suplementasi zat besi, serta mengungkapkan alasan di balik perilaku tertentu yang mungkin tidak terdeteksi oleh kuesioner terburu-buru. Kedua, mengingat bahwa jenis intervensi edukasi dapat bervariasi, sebuah penelitian eksperimental yang membandingkan efektivitas berbagai metode edukasi—seperti penggunaan aplikasi digital interaktif, modul edukasi berbasis komunitas, atau konseling tatap muka intensif—dalam meningkatkan pengetahuan dan mengubah perilaku ibu hamil sangat diperlukan. Hal ini akan membantu dalam merancang program edukasi kesehatan yang lebih adaptif dan sesuai dengan konteks lokal. Terakhir, meskipun pengetahuan adalah faktor kunci, penelitian ini juga menyiratkan adanya faktor lain seperti pekerjaan dan tingkat pendidikan yang kompleks. Oleh karena itu, studi lanjutan perlu menganalisis secara lebih rinci bagaimana interaksi antara faktor sosioekonomi, status gizi awal, dan riwayat kehamilan (paritas) secara simultan memengaruhi kejadian anemia, bahkan pada ibu hamil dengan tingkat pengetahuan yang baik. Dengan memahami kompleksitas ini, kita dapat mengembangkan intervensi yang lebih holistik dan personal, tidak hanya berfokus pada pengetahuan tetapi juga mempertimbangkan konteks kehidupan ibu hamil secara menyeluruh untuk mencapai penurunan prevalensi anemia yang optimal.

  1. Hubungan Status Paritas Dan Pekerjaan Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Trimester II Di PKM Purwokerto... doi.org/10.55173/nersmid.v5i2.127Hubungan Status Paritas Dan Pekerjaan Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Trimester II Di PKM Purwokerto doi 10 55173 nersmid v5i2 127
  2. Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Ibu Hamil dengan Status Anemia | Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Indonesia.... doi.org/10.33221/jiiki.v9i04.398Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Ibu Hamil dengan Status Anemia Jurnal Ilmiah Ilmu Keperawatan Indonesia doi 10 33221 jiiki v9i04 398
  3. Hubungan Antara Usia Dan Pendidikan Dengan Kejadian Kurang Energi Kronik Pada Ibu Hamil Trimester I |... ojs.unik-kediri.ac.id/index.php/jumakes/article/view/3516Hubungan Antara Usia Dan Pendidikan Dengan Kejadian Kurang Energi Kronik Pada Ibu Hamil Trimester I ojs unik kediri ac index php jumakes article view 3516
  4. Hubungan Pengetahuan, Sikap Dan Status Ekonomi Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil | Citra Delima Scientific... jurnalilmiah.ici.ac.id/index.php/JI/article/view/416Hubungan Pengetahuan Sikap Dan Status Ekonomi Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Citra Delima Scientific jurnalilmiah ici ac index php JI article view 416
Read online
File size1.02 MB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test