JOURNAL JPSJOURNAL JPS

Journal of Pharmaceutical and SciencesJournal of Pharmaceutical and Sciences

Rambut jagung merupakan bagian dari tanaman jagung yang diketahui mengandung senyawa-senyawa kimia yang bermanfaat, diantaranya adalah senyawa flavonoid yang memiliki aktifitas antioksidan dan berpotensi sebagai senyawa hepatoprotektor yang mampu melindungi hati dari kerusakan akibat radikal bebas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek hepatoprotektor fraksi polar rambut jagung terhadap tikus putih jantan yang diinduksi paracetamol. Hewan yang digunakan tikus putih jantan sebanyak 25 ekor yang dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok 1 (kontrol Negatif), kelompok 2 (kontrol positif) diinduksi paracetamol dosis toksik, dan kelompok 3,4,5 fraksi polar rambut jagung dosis (200, 400, 800 mg/kgBB). Parameter pengukurannya kadar SGOT-SGPT, rasio berat organ hati, dan pemeriksaan histopatologi organ hati. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan secara statistik dengan ANOVA dua arah yang dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil pengamatan kadar enzim SGOT pada hari ke-7 dan 14 yaitu kelompok 1 (18,5 dan 20,5 U/L), kelompok 2 (50,5 dan 113,75 U/L), kelompok 3 (21,5 dan 45,25 U/L), kelompok 4 (23,25 dan 83,75 U/L), kelompok 5 (26,5 dan 105,75 U/L). Kadar enzim SGPT pada hari ke-7 dan 14 yaitu kelompok 1 (39,75 dan 42 U/L), kelompok 2 (70,25 dan 82,25 U/L), kelompok 3 (42,5 dan 48 U/L), kelompok 4 (46,26 dan 64,75 U/L), kelompok 5 (48,75 dan 70,25 U/L). Hasil pegamatan histopatologi dengan nilai skor kelompok 1 (0), kelompok 2 (4), kelompok 3 (1), kelompok 4 (3), kelompok 5 (3). Berdasarkan hasil penelitian yang.

Penelitian ini menunjukkan bahwa induksi paracetamol meningkatkan kadar SGPT, SGOT, berat hati, dan menyebabkan kerusakan histologis pada tikus, sementara pemberian fraksi polar rambut jagung, terutama pada dosis 200 mg/kgBB, secara signifikan menurunkan enzim SGPT dan SGOT serta memperbaiki kerusakan hati.Efek hepatoprotektif diperkirakan berasal dari flavonoid dan tannin yang berfungsi sebagai antioksidan dan inhibitor radikal bebas NAPQI, namun pada dosis tinggi efek tersebut berkurang karena potensi pro‑oksidan.Karena keterbatasan pengukuran parameter hanya pada enzim, disarankan penelitian lanjutan menambahkan analisis albumin, bilirubin, MDA, SOD, serta mekanisme molekuler terkait.

Penelitian selanjutnya dapat menguji apakah terdapat dosis optimal di antara 200 mg/kgBB dan 400 mg/kgBB yang memberikan efek hepatoprotektif lebih tinggi tanpa menimbulkan sifat pro‑oksidan, dengan merancang percobaan yang meliputi dosis interval 250, 300, dan 350 mg/kgBB. Selanjutnya, penting untuk menyelidiki kontribusi masing‑masing senyawa flavonoid dan tanin yang terdapat pada fraksi polar rambut jagung melalui pemisahan dan pengujian in‑vivo, sehingga dapat diidentifikasi komponen aktif yang paling berperan dalam perlindungan hati. Selain itu, studi jangka panjang pada model hewan yang lebih besar, misalnya kelinci atau babi, sebaiknya mencakup pengukuran parameter biokimia tambahan seperti albumin, bilirubin, malondialdehid (MDA), dan superoksida dismutase (SOD), serta evaluasi histopatologi berkelanjutan untuk menilai keamanan dan efektivitas jangka panjang. Penelitian ini juga dapat menilai efek kombinasi fraksi polar dengan agen hepatoprotektif standar, misalnya silymarin, untuk mengevaluasi potensi sinergi. Akhirnya, analisis molekuler terhadap jalur Nrf2 dan CYP2E1 pada jaringan hati dapat memberikan pemahaman lebih dalam tentang mekanisme aksi fraksi polar.

  1. Hepatoprotector Activity of the Polar n-Butanol Fraction of Corn Silk (Zea mays L.) in Paracetamol-Induced... journal-jps.com/new/index.php/jps/article/view/1277Hepatoprotector Activity of the Polar n Butanol Fraction of Corn Silk Zea mays L in Paracetamol Induced journal jps new index php jps article view 1277
Read online
File size712.11 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test