UNAIUNAI

11th International Scholars Conference11th International Scholars Conference

Penelitian ini memanfaatkan pemodelan kelas tersembunyi bagi kesejahteraan spiritual dengan menggunakan Latent Class Analysis (LCA) dan meninjau peran prediktif usia serta sikap dan pengalaman keagamaan. Sampel dari 5.705 responden dewasa usia 15-70 tahun dianalisis untuk mengidentifikasi kelas tersembunyi kesejahteraan spiritual berdasarkan delapan indikator. Model LCA menentukan jumlah kelas tersembunyi terbaik menggunakan kriteria seperti Bayesian Information Criterion (BIC) dan Akaike Information Criterion (AIC), menghasilkan dua kelas terpisah. Setelah LCA, regresi logistik digunakan untuk menilai bagaimana usia dan sikap serta pengalaman keagamaan memprediksi keanggotaan dalam kelas tersembunyi ini. Hasil anaysis menunjukkan bahwa usia yang lebih tua berhubungan dengan kemungkinan lebih tinggi untuk berada di kelompok Spiritually Grounded Optimist (OR = 1.016, 95% CI: 1.012-1.020, p < 0.01), sedangkan sikap keagamaan yang positif memposisikan responden dalam kelas Spiritually Reflective Seeker (OR = 3.029, 95% CI: 2.709-3.386, p < 0.01). Penelitian ini menekankan pentingnya dalam menilai perbedaan spiritual individu dan meningkatkan efektivitas intervensi yang menargetkan kebutuhan spiritual yang beragam.

Penelitian ini berhasil mengidentifikasi dua kelas tersembunyi kesejahteraan spiritual.Spiritually Reflective Seeker dan Spiritually Grounded Optimist.Usia dan sikap keagamaan positif adalah faktor prediktif utama bagi keanggotaan dalam kelas-kelas tersebut.Kelas Spiritually Reflective Seeker mencerminkan luas penelusuran spiritual dan ragu-rohani, sedangkan Spiritually Grounded Optimist mengungkapkan rasa terdidik spiritual dan keyakinan yang kuat.Ini menunjukkan bahwa kesejahteraan spiritual taklah konstruk uniform dan memerlukan intervensi yang dirancang khusus untuk kebutuhan spiritual masing-masing.

Pertama, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguji dampak intervensi spiritual khusus untuk kelas Spiritually Reflective Seeker. Peneliti dapat memulai dengan mengembangkan program-perprogram duyun dan pemberdayaan spiritual yang ditujukan pada individu yang menunjukkan ragu-rohani atau penelusuran spiritual. Kedua, penelitian longitudinal dapat membantu memahami dinamika perkembangan spiritual sepanjang masa hidup seseorang, sehingga mengungkap apakah perubahan spiritual tetap konsisten atau berubah sepanjang waktu. Peneliti juga dapat khusus memfokuskan pada transisi usia seperti masa remaja hingga dewasa muda, atau masa menua. Ketiga, penelitian berkelanjutan perlu mengeksplorasi variabel independen lain yang memengaruhi kesejahteraan spiritual, seperti pengalaman kehilangan, atau dukungan sosial, sehingga memberikan gambaran yang lebih luas tentang faktor-faktor yang mendukung kesejahteraan spiritual.

  1. Impact of Spirituality on Well-Being among Old Age People » The International Journal of Indian... ijip.in/articles/impact-of-spirituality-on-well-being-among-old-age-peopleImpact of Spirituality on Well Being among Old Age People A The International Journal of Indian ijip in articles impact of spirituality on well being among old age people
  2. Latent Class Analysis: A Guide to Best Practice - Bridget E. Weller, Natasha K. Bowen, Sarah J. Faubert,... doi.org/10.1177/0095798420930932Latent Class Analysis A Guide to Best Practice Bridget E Weller Natasha K Bowen Sarah J Faubert doi 10 1177 0095798420930932
Read online
File size290.4 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test