POLBANGTANBOGORPOLBANGTANBOGOR

Prosiding Seminar Nasional - Lomba Karya Tulis Ilmiah Polbangtan BogorProsiding Seminar Nasional - Lomba Karya Tulis Ilmiah Polbangtan Bogor

Indonesia dengan kepadatan penduduk yang tinggi mengakibatkan peningkatan alih guna lahan dan pengurangan lahan produksi pangan. Salah satu konsep yang ada untuk menyelesaikan masalah ini ialah, urban farming yang dikombinasikan dengan smart farming. Smart urban farming menggunakan komponen-komponen sekitarnya untuk menghasilkan siklus hidup yang sirkular.

Berdasarkan iklim Kota Semarang, penggunaan panel surya berpotensi menghasilkan 73 kWh/m² setiap bulannya dengan rata rata curah hujan setiap bulannya sebesar 208 mm.Pada studi kasus kos-kosan di Jalan Kimar III nomor 35, urban farming dan smart urban farming memiliki perbedaan mendasar pada siklus hidupnya.Siklus hidup urban farming lebih linear dibandingkan dengan smart urban farming yang memiliki sifat sirkular.

Penelitian selanjutnya bisa membahas lebih dalam mengenai perencanaan smart urban farming pada suatu bangunan. Selain itu, kebutuhan pupuk yang ada bisa diintegrasikan dengan pupuk organik sehingga bisa mencapai pola hidup smart urban farming yang sirkular. Penelitian selanjutnya juga bisa membahas mengenai green wall, green balcony, dan green roof, tidak hanya terbatas pada kasus tanaman hidroponik saja. Pemerintah perlu mendukung keberadaan smart urban farming pada bangunan midrise dan high-rise untuk mewujudkan urban farming di Kota Semarang yang menggunakan pola sirkular.

  1. Smart Farming: Sistem Tanaman Hidroponik Terintegrasi IoT MQTT Panel Berbasis Android | Journal of Tropical... doi.org/10.21776/ub.jkptb.2021.009.01.08Smart Farming Sistem Tanaman Hidroponik Terintegrasi IoT MQTT Panel Berbasis Android Journal of Tropical doi 10 21776 ub jkptb 2021 009 01 08
Read online
File size346.18 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test