MANDALANURSAMANDALANURSA

JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan)JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan)

Penelitian ini didorong oleh kurangnya kesejahteraan bagi penyandang disabilitas, sehingga diperlukan bimbingan dan perhatian khusus untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Sentra Wyata Guna Bandung adalah salah satu institusi yang menyediakan layanan bagi penyandang disabilitas, terutama dalam bidang pelatihan dan pengembangan keterampilan. Dalam hal ini, Sentra Wyata Guna Bandung membimbing penyandang disabilitas dalam melaksanakan keterampilan vokasional dalam bidang Pijat dan Shiatsu untuk mencapai kemandirian. Penelitian ini menggunakan teori Robert Havighurst terkait pengembangan kesejahteraan sosial, yang meliputi kemandirian emosional, kemandirian ekonomi, kemandirian intelektual, dan kemandirian sosial. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, menggambarkan bimbingan keterampilan vokasional untuk kemandirian individu tunanetra di Sentra Wyata Guna Bandung. Lokasi penelitian ini berada di Kota Bandung, di Jl. Pajajaran No.50-52, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat 40171. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bimbingan keterampilan vokasional dalam pijat dan shiatsu yang disediakan oleh Sentra Wyata Guna Bandung dapat dianggap optimal, tetapi waktu yang dialokasikan masih kurang. Selain itu, Bimbingan Keterampilan Vokasional dalam Pijat dan Shiatsu telah memungkinkan kemandirian emosional, kemandirian ekonomi, kemandirian intelektual, dan kemandirian sosial. Namun, fasilitas yang tidak memadai, respons yang tertunda dari individu tunanetra dalam meningkatkan keterampilan vokasional mereka dalam pijat dan shiatsu, dan waktu yang tidak mencukupi adalah faktor-faktor yang menghambat proses bimbingan.

Studi ini menunjukkan bahwa bimbingan keterampilan vokasional dalam pijat dan shiatsu yang diberikan oleh Sentra Wyata Guna Bandung efektif dalam meningkatkan kemandirian individu tunanetra.Setelah mengikuti pelatihan selama 6 bulan, individu tunanetra memperoleh keterampilan yang cukup untuk bekerja sebagai terapis.Kemandirian mereka terlihat dalam beberapa aspek, yaitu kemandirian emosional, kemandirian ekonomi, kemandirian intelektual, dan kemandirian sosial.Faktor pendukung dalam bimbingan keterampilan vokasional adalah kemampuan individu tunanetra untuk berpartisipasi dalam pelatihan.Faktor penghambat adalah waktu yang terbatas dan fasilitas yang tidak memadai.

Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat diajukan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi dampak program pelatihan vokasional terhadap kualitas hidup penyandang disabilitas secara holistik, tidak hanya dari segi ekonomi, tetapi juga aspek sosial, emosional, dan spiritual. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan longitudinal untuk memantau perkembangan peserta pelatihan dalam jangka waktu yang lebih panjang. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada pengembangan model pelatihan vokasional yang lebih adaptif dan inklusif, dengan mempertimbangkan kebutuhan dan karakteristik unik dari setiap individu penyandang disabilitas. Model ini dapat menggabungkan pendekatan pembelajaran berbasis proyek, mentoring, dan dukungan psikososial untuk memaksimalkan potensi peserta. Ketiga, penting untuk meneliti efektivitas berbagai strategi untuk mengatasi hambatan yang dihadapi penyandang disabilitas dalam mencari dan mempertahankan pekerjaan setelah menyelesaikan pelatihan vokasional, seperti pengembangan keterampilan komunikasi, negosiasi, dan membangun jaringan profesional. Penelitian ini dapat memberikan wawasan berharga bagi pembuat kebijakan dan penyedia layanan untuk merancang program yang lebih efektif dalam mendukung inklusi ekonomi penyandang disabilitas.

Read online
File size305.96 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test