UNSULTRAUNSULTRA

Sultra Civil Engineering Journal (SCiEJ)Sultra Civil Engineering Journal (SCiEJ)

Kebisingan adalah suara yang tidak diinginkan, yang dapat mengganggu kesehatan dan kenyamanan lingkungan, memiliki sumber dan merambat melalui suatu medium. Kantor Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara terletak di persimpangan Jalan Drs. H. Abdullah Silondae, Jalan Laute, dan Jalan Malik Raya dengan lalu lintas kendaraan yang padat, di mana Jalan Drs. H. Abdullah Silondae merupakan rute transportasi umum menuju pusat kota hingga Kampus UHO. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kebisingan akibat aktivitas lalu lintas di area Kantor Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, menganalisis persepsi ketergangguan pegawai akibat kebisingan lalu lintas dan karakteristik responden, serta menganalisis pengaruh tingkat kebisingan terhadap tingkat ketergangguan pegawai. Analisis data yang diperoleh menunjukkan bahwa tingkat kebisingan rata-rata di area Kantor Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara telah melampaui standar baku mutu kebisingan untuk area perkantoran. Persepsi pegawai terhadap gangguan kebisingan adalah 44% responden menyatakan tidak terganggu oleh kebisingan di area tersebut, 24% menyatakan sedikit terganggu, 24% menyatakan cukup terganggu, dan 8% menyatakan terganggu. Adapun kebisingan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat ketergangguan pegawai.

Abdullah Silondae mencapai 72,8 dB, melampaui standar baku mutu kebisingan untuk kawasan perkantoran (65 dB).Persepsi pegawai BKD terhadap gangguan kebisingan menunjukkan bahwa sebagian besar (44%) tidak terganggu, meskipun ada yang sedikit hingga terganggu (24%, 24%, 8%).Secara keseluruhan, kebisingan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat ketergangguan pegawai BKD.

Penelitian ini telah mengungkap bahwa tingkat kebisingan lalu lintas di sekitar Kantor BKD Provinsi Sulawesi Tenggara jauh melampaui standar yang diizinkan, serta memiliki pengaruh signifikan terhadap ketergangguan pegawai. Meskipun demikian, ada ruang untuk eksplorasi lebih lanjut guna menghasilkan solusi yang lebih komprehensif. Sebagai saran penelitian lanjutan, pertama, akan sangat bermanfaat untuk melakukan studi eksperimental atau simulasi guna mengevaluasi efektivitas berbagai strategi mitigasi kebisingan. Misalnya, bagaimana perbandingan dampak penggunaan barrier fisik seperti dinding peredam suara yang dirancang khusus, penanaman vegetasi dengan kepadatan dan jenis tertentu, atau bahkan modifikasi arsitektural pada bangunan kantor dalam menurunkan tingkat kebisingan yang masuk ke dalam ruangan. Penelitian ini dapat mengukur tidak hanya penurunan desibel, tetapi juga dampaknya terhadap persepsi kenyamanan dan produktivitas pegawai. Kedua, mengingat bahwa kebisingan adalah fenomena kompleks, penelitian selanjutnya dapat berfokus pada analisis karakteristik kebisingan yang lebih spesifik, seperti frekuensi suara atau pola intermiten, dan hubungannya dengan jenis pekerjaan atau tugas yang dilakukan pegawai. Apakah kebisingan dengan frekuensi tertentu lebih mengganggu tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi, dibandingkan dengan pekerjaan rutin? Pemahaman ini akan membantu dalam merancang lingkungan kerja yang lebih adaptif. Terakhir, meski penelitian ini menunjukkan korelasi kuat antara tingkat kebisingan dan ketergangguan tanpa dipengaruhi karakteristik demografi, menarik untuk meneliti lebih dalam faktor-faktor psikologis atau fisiologis individual yang memengaruhi ambang batas toleransi kebisingan. Mengapa sebagian pegawai menyatakan tidak terganggu sama sekali meskipun terpapar tingkat kebisingan tinggi? Investigasi ini bisa mencakup studi tentang kepribadian, pengalaman paparan sebelumnya, atau bahkan penggunaan teknologi personal seperti headphone, untuk memahami keragaman respons terhadap kebisingan. Dengan demikian, kita dapat mengembangkan intervensi yang lebih personal dan efektif.

Read online
File size768.25 KB
Pages23
DMCAReport

Related /

ads-block-test