UNDHIRA BALIUNDHIRA BALI

Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA)Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA)

Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Buleleng pada masa pandemi COVID-19 dilaporkan tertinggi di Indonesia dan semua kasus kematiannya diakibatkan oleh Dengue Shock Syndrome (DSS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian DSS pada masa pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol dengan 48 penderita DSS dan 100 kontrol yang dipilih secara acak dari penderita DBD yang dirawat inap di RSU Kertha Usada dan RSUD Kabupaten Buleleng. Data dikumpulkan dari rekam medis meliputi umur, jenis kelamin, status gizi, penyakit penyerta, riwayat DBD, keterlambatan datang ke rumah sakit, kepemilikan jaminan kesehatan, dan faktor lainnya. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji regresi logistik dengan 95% Confidence Interval (CI). Penelitian ini mendapatkan determinan individu terjadinya DSS adalah umur <10 tahun (aOR = 13,026; 95%CI: 3,296-51,486, p=<0,001), status gizi obesitas (aOR = 3,843; 95%CI: 1,546-9,552, p=0,004), penyakit penyerta paru (aOR = 3,839; 95%CI: 1,286-11,461, p=0,0016), dan adanya riwayat DBD (aOR = 5,228; 95%CI: 1,979-13,807, p=0,001). Determinan individu kejadian DSS pada pandemi COVID-19 meliputi usia <10 tahun, status gizi dengan obesitas, riwayat penyakit paru, dan riwayat DBD. Oleh karena itu, peningkatan kewaspadaan dini terhadap DBD dan pengoptimalan pemantauan status gizi menjadi penting untuk pencegahan jika ada pandemi serupa.

Determinan individu kejadian DSS pada masa pandemi COVID-19 adalah umur di bawah 10 tahun, status gizi dengan obesitas, dan riwayat DBD.Determinan perilaku yang berhubungan dengan kejadian DSS adalah terlambat datang ke rumah sakit.Untuk pencegahan jika ada pandemi serupa, disarankan untuk mengintensifkan deteksi dini kasus DBD, memberikan penanganan khusus pada kelompok anak, individu dengan obesitas, serta mereka yang memiliki riwayat DBD.Pemantauan status gizi anak melalui program posyandu juga perlu dioptimalkan, sementara kewaspadaan dini harus ditingkatkan pada anak berusia di bawah 10 tahun.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan untuk meningkatkan edukasi masyarakat tentang pentingnya deteksi dini DBD, terutama pada anak-anak dan individu dengan faktor risiko seperti obesitas dan penyakit paru. Selain itu, perlu ada upaya untuk meningkatkan akses layanan kesehatan yang inklusif, terutama bagi mereka yang belum terjangkau jaminan kesehatan. Program pemberantasan sarang nyamuk juga harus diintensifkan di daerah dengan angka kejadian DBD tinggi. Penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan strategi intervensi yang efektif untuk mencegah dan mengendalikan DBD, serta mengidentifikasi faktor-faktor risiko lainnya yang dapat mempengaruhi kejadian DSS.

  1. Arboviral diseases and COVID‐19 in Brazil: Concerns regarding climatic, sanitation, and endemic... doi.org/10.1002/jmv.26079Arboviral diseases and COVIDyAAAa19 in Brazil Concerns regarding climatic sanitation and endemic doi 10 1002 jmv 26079
  2. Developing a Social Autopsy Tool for Dengue Mortality: A Pilot Study | PLOS One. developing social autopsy... journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0117455Developing a Social Autopsy Tool for Dengue Mortality A Pilot Study PLOS One developing social autopsy journals plos plosone article id 10 1371 journal pone 0117455
  3. Dengue amidst COVID‐19 in India: The mystery of plummeting cases - Phadke - 2021 - Journal... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/jmv.26987Dengue amidst COVIDyAAAa19 in India The mystery of plummeting cases Phadke 2021 Journal onlinelibrary wiley doi 10 1002 jmv 26987
Read online
File size281.27 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test