STTNISTTNI

SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGISANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI

Penelitian teologi dengan metode studi pustaka sistematis-historis ini membahas non-resepsi atas Kristologi Konsilier dalam tiga aliran keagamaan modern yang mengklaim berakar pada Kekristenan: Mormonisme, Gereja Kristus Ilmuwan (Church of Christ, Scientist), dan Saksi-Saksi Yehuwa. Ketiganya menolak pengakuan iman kristiani tradisional tentang Yesus Kristus yang sungguh Allah dan sungguh manusia. Mormonisme memandang Yesus sebagai anak jasmani dari Allah Bapa yang memiliki tubuh dan berkembang menjadi ilahi. Saksi-Saksi Yehuwa menyangkal keilahian Kristus, menyamakan-Nya dengan malaikat Mikael, dan menolak doktrin Tritunggal. Sementara itu, Gereja Kristus Ilmuwan mengajarkan bahwa Yesus hanyalah manusia yang menunjukkan prinsip “Kristus, dan menolak kenyataan penderitaan, dosa, serta kebangkitan tubuh. Non-resepsi itu berakar dari konteks hidup para pendiri ketiga aliran tersebut. Penelitian ini juga menggunakan teori illative sense dan grammar of assent dari John Henry Newman. Kajian ini menyimpulkan bahwa kerangka Newman menawarkan sebuah jalur hermeneutis yang produktif untuk memahami akar epistemik dari perpecahan doktrinal, sekaligus menawarkan sebuah model untuk re-edukasi iman yang berpusat pada geliat komunitas dan tradisi, sehingga berkontribusi pada wacana kontemporer tentang perkembangan doktrin dan dialog ekumenis.

Gereja Mormon, Gereja Kristus Ilmuwan, dan Saksi-Saksi Yehuwa menampilkan pola divergensi Kristologis yang signifikan.Ketiganya sama-sama menolak aspek-aspek fundamental Kristologi Konsili Ekumenis seperti kesatuan kodrat ilahi dan manusia dalam satu pribadi Kristus, keabadian dan keilahian-Nya yang setara dengan Bapa, serta makna keselamatan dalam kematian dan kebangkitan historis Kristus.Non-resepsi ini umumnya muncul dari dua sumber.Pertama, konteks historis dan kultural di mana iman Kristen dipahami ulang—misalnya, Mormonisme yang lahir dari semangat restorasionisme Amerika abad ke-19 yang cenderung anti-institusional dan anti-tradisi.Kedua, paradigma epistemologis dan hermeneutis yang menolak otoritas Gereja serta mengandalkan interpretasi pribadi terhadap Kitab Suci.Dalam konteks ini, dogma tidak lagi dilihat sebagai anugerah Roh Kudus melalui Gereja, melainkan sebagai beban historis yang perlu dibongkar.

Penelitian lebih lanjut dapat mengkaji bagaimana teori illative sense dan grammar of assent Newman dapat diterapkan untuk memahami pola non-resepsi doktrin Kristologi di berbagai gerakan Kristen non-arus utama di luar Amerika, terutama di konteks Asia yang memiliki sejarah dan budaya berbeda. Selain itu, perlu diselidiki secara mendalam bagaimana dinamika resepsi doktrin Konsilier terjadi di dalam tradisi-tradisi Kristen Asia, mengingat faktor historis dan kultural yang mempengaruhi interpretasi doktrin. Lebih lanjut, model re-edukasi iman yang dikembangkan Newman berbasis komunitas dan tradisi dapat dikembangkan menjadi kerangka kerja yang konkret untuk memfasilitasi dialog ekumenis yang lebih efektif di antara berbagai denominasi Kristen.

Read online
File size454.07 KB
Pages22
DMCAReport

Related /

ads-block-test