JURNALBIKESJURNALBIKES

JURNAL KEBIDANAN, KEPERAWATAN DAN KESEHATAN (BIKES)JURNAL KEBIDANAN, KEPERAWATAN DAN KESEHATAN (BIKES)

Kusta masih menjadi masalah kesehatan global karena dapat menimbulkan reaksi imunologis akut yang menyebabkan kerusakan saraf dan kecacatan permanen. WHO pada 2024 melaporkan 172.717 kasus baru di 188 negara, termasuk Indonesia yang masih menjadi salah satu dari tiga negara dengan kasus tertinggi di dunia. Tinjauan literatur dilakukan melalui PubMed dan Google Scholar dengan kata kunci “kusta, “leprosy, “reaksi kusta, dan istilah terkait lainnya, mencakup publikasi berbahasa Indonesia dan Inggris tahun 2019–2025 yang relevan dengan faktor risiko reaksi tipe 1 dan tipe 2 pada pasien kusta. Hasil menunjukkan bahwa reaksi tipe 2 lebih sering terjadi pada pasien multibasiler dengan indeks bakteri ≥4 , ditandai dengan dominasi imunitas humoral dan pembentukan kompleks imun. Sementara reaksi tipe 1 lebih banyak ditemukan pada spektrum borderline akibat ketidakstabilan imunitas seluler. Faktor risiko internal meliputi bentuk klinis, BI tinggi, usia, jenis kelamin, genetik, kehamilan, serta defisiensi nutrisi, sementara faktor eksternal meliputi stres, infeksi penyerta, terapi MDT, dan stimulasi imun dari vaksinasi. Deteksi dini dan pengawasan faktor risiko sangat penting untuk mencegah reaksi berulang dan kecacatan pada pasien kusta.

Reaksi kusta, baik tipe 1 maupun tipe 2, dapat memperburuk perjalanan penyakit dan meningkatkan risiko kecacatan.Reaksi tipe 2 lebih sering terjadi dan didominasi oleh imunitas humoral, dengan faktor risiko utama seperti indeks bakteri tinggi, lesi kulit multipel, dan tipe klinis multibasiler.Sementara itu, reaksi tipe 1 lebih sering terjadi pada pasien spektrum borderline, yang terkait dengan ketidakstabilan imunitas seluler.Identifikasi dini terhadap faktor risiko sangat penting untuk mencegah komplikasi dan kerusakan saraf permanen.

Berdasarkan hasil tinjauan ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat dipertimbangkan. Pertama, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi biomarker genetik spesifik yang dapat memprediksi risiko reaksi kusta pada individu tertentu, sehingga memungkinkan intervensi preventif yang lebih tepat sasaran. Kedua, studi prospektif yang melibatkan pemantauan longitudinal terhadap pasien kusta dengan berbagai profil risiko dapat membantu memahami lebih baik mekanisme imunologis yang mendasari reaksi kusta dan mengidentifikasi target terapi baru. Ketiga, penelitian yang mengeksplorasi dampak intervensi nutrisi, seperti suplementasi zinc dan vitamin D, terhadap kejadian dan keparahan reaksi kusta pada pasien dengan defisiensi mikronutrien dapat memberikan wawasan penting untuk strategi pencegahan. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam upaya pengendalian kusta dan peningkatan kualitas hidup pasien.

  1. A spectrum of leprosy reactions triggered by Covid‐19 vaccination: a series of four cases -... doi.org/10.1111/jdv.18339A spectrum of leprosy reactions triggered by CovidyAAAa19 vaccination a series of four cases doi 10 1111 jdv 18339
  2. 0. zm d3 s4l ow bm jw c2 akp k7 9o0 bo zp mzr ay xg yy bma n5 kk x1 st vv bw uk qp doi.org/10.3389/fmed.2022.8410300 zm d3 s4l ow bm jw c2 akp k7 9o0 bo zp mzr ay xg yy bma n5 kk x1 st vv bw uk qp doi 10 3389 fmed 2022 841030
  3. Vol 6 No S6 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research; December 2024 | Indonesian Journal... doi.org/10.37287/ijghr.v6iS6Vol 6 No S6 2024 Indonesian Journal of Global Health Research December 2024 Indonesian Journal doi 10 37287 ijghr v6iS6
  1. #faktor eksternal#faktor eksternal
  2. #pasien hipertensi#pasien hipertensi
Read online
File size344.54 KB
Pages11
Short Linkhttps://juris.id/p-3pi
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test