UPI YAIUPI YAI

IKRAITH-EKONOMIKAIKRAITH-EKONOMIKA

Kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dalam menyusun strategi, tetapi juga dipengaruhi oleh karakter yang terbentuk melalui pengalaman hidup. Nilai seperti integritas, keberanian, dan keteladanan menjadi dasar penting yang memungkinkan terciptanya kepemimpinan yang otentik dan mampu memberikan pengaruh positif. Namun, kenyataannya banyak pemimpin justru lahir dari warisan kekuasaan atau kedudukan keluarga, sehingga proses pembentukan karakter seringkali diabaikan. Dari kenyataan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pengalaman hidup Mufasa dalam film Mufasa: The Lion King (2024) membentuk karakter kepemimpinan otentik, serta menelaah ketercerminan komponen self-awareness, relational transparency, balanced processing, dan internalized moral perspective dalam perjalanan hidup tokoh utama. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui observasi non-partisipan terhadap adegan film, dokumentasi transkrip dialog, serta penguatan dari literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman hidup yang penuh kehilangan, tekanan, dan konflik justru menjadi dasar pembentukan kepemimpinan otentik. Kesadaran diri tercermin dalam pengakuan jati diri, keterbukaan tampak melalui ungkapan perasaan kehilangan, kemampuan menimbang secara adil terlihat pada ajakan kolaborasi antar spesies, dan konsistensi moral diperlihatkan dengan sikap menolak tunduk pada kejahatan. Nilai integritas, keberanian, serta keteladanan yang muncul dari perjalanan hidup tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan otentik terbentuk dari proses panjang, bukan dari garis keturunan ataupun status semata.

The Lion King (2024) menegaskan bahwa pengalaman hidup penuh kesulitan membentuk Mufasa menjadi pemimpin otentik.Kehilangan keluarga, penolakan lingkungan, dan tekanan kerajaan menumbuhkan kesadaran diri untuk mengenali jati diri serta menolak ambisi kekuasaan demi status.Nilai keterbukaan terlihat saat mengungkapkan perasaan kehilangan, kemampuan menimbang adil melalui ajakan bersatu lintas spesies, dan keteguhan moral tercermin dari sikap menolak kejahatan demi persatuan.Perjalanan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari proses panjang yang menumbuhkan integritas, keberanian, dan keteladanan, bukan semata keturunan atau jabatan.

Berdasarkan hasil penelitian, saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: Pertama, meneliti lebih lanjut bagaimana pengalaman hidup Mufasa yang penuh tantangan, seperti kehilangan dan konflik, membentuk karakter kepemimpinan otentiknya. Kedua, menganalisis bagaimana Mufasa membangun hubungan suportif dengan pengikutnya, dan bagaimana hal ini menciptakan suasana yang terbuka serta mendorong pertumbuhan pribadi dan profesional anggota. Ketiga, menelaah lebih dalam bagaimana Mufasa mampu mempertahankan nilai-nilai moralnya dalam menghadapi konflik dan bagaimana hal ini memperkuat komitmen dan semangat tim.

  1. Vol. 9 No. 2 (2026): IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 | IKRAITH-EKONOMIKA. vol ikraith ekonomika... journals.upi-yai.ac.id/index.php/IKRAITH-EKONOMIKA/issue/view/244Vol 9 No 2 2026 IKRAITH EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 IKRAITH EKONOMIKA vol ikraith ekonomika journals upi yai ac index php IKRAITH EKONOMIKA issue view 244
  2. 0. 0 jurnal.umk.ac.id/index.php/simet0 0 jurnal umk ac index php simet
  1. #manajemen keuangan#manajemen keuangan
  2. #inovasi produk#inovasi produk
Read online
File size938.48 KB
Pages10
Short Linkhttps://juris.id/p-3nU
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test