IAIANNAWAWIIAIANNAWAWI

Proceeding of ICoPISProceeding of ICoPIS

Media sosial saat ini telah menjadi hal penting untuk mempublikasikan segala sesuatu karena dapat diakses setiap saat. Peran penting media sosial ini dapat direpresentasikan sebagai wahana untuk menyampaikan tentang Islam yang disebut dengan dakwah. Pada dasarnya, dakwah adalah sarana untuk mengajak orang untuk mematuhi hukum Islam yang berdampak pada sikap moderasi untuk menyebarkan kebaikan ke alam semesta. Namun, dakwah juga menghadapi ujaran kebencian karena memprovokasi masyarakat untuk melakukan tindakan negatif yang merugikan seluruh aspek kehidupan. Tulisan ini menjelaskan tentang dakwah di media sosial sebagai cara untuk menyampaikan dua aspek yang terkait dengan diskusi, yaitu 1) bagaimana dakwah di media sosial berkontribusi dalam menyebarkan moderasi beragama, 2) bagaimana dakwah bisa menangkal ujaran kebencian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dari teorinya Roland Barthes. Hal ini digunakan untuk terlebih dahulu menentukan objek kajiannya dalam kehidupan nyata, kemudian mengungkapkan informasi yang berkaitan dengan objek tersebut secara detail. Ini mengungkap makna tersembunyi dengan menganalisis tanda-tanda postingan yang ada di beberapa media sosial. Temuan menunjukkan bahwa itu adalah cara yang efektif untuk menyebarkan sikap moderat. Selain itu, ujaran kebencian dapat ditangkal karena cara menyajikan gagasan dan tindakan tersebut dengan video dan narasi yang logis dan mudah dipahami sehingga mudah diterima oleh semua pembaca.

Media sosial memiliki peran penting dalam menyampaikan moderasi beragama dan menangkal ujaran kebencian, dengan dakwah sebagai sarana efektif melalui platform seperti TikTok.Dakwah di media sosial mampu mengubah sikap masyarakat menuju toleransi dan kesadaran kemanusiaan melalui konten yang menarik dan mudah dipahami.Ujaran kebencian dapat ditanggulangi dengan respons berupa diam dan introspeksi diri berdasarkan nilai kemanusiaan dan iman yang kuat.

Pertama, perlu diteliti bagaimana generasi muda muslim di Indonesia menciptakan konten dakwah moderat di TikTok dan faktor apa saja yang membuat konten tersebut menjadi viral di kalangan remaja. Kedua, penting untuk mengeksplorasi efektivitas pendekatan diam terhadap ujaran kebencian di media sosial, apakah strategi ini benar-benar mengurangi konflik atau justru dianggap sebagai tanda kelemahan oleh pihak penyebar ujaran kebencian. Ketiga, perlu dikaji bagaimana narasi dari tokoh agama seperti Gus Mus dan Habib Jafar diadaptasi oleh pengguna media sosial biasa, dan sejauh mana adaptasi tersebut memengaruhi pemahaman masyarakat awam tentang moderasi beragama, sehingga dapat dikembangkan model dakwah digital yang lebih inklusif dan berbasis komunitas.

  1. Hoax in Modern Politics: The Meaning of Hoax in Indonesian Politics and Democracy | Utami | Jurnal Ilmu... doi.org/10.22146/jsp.34614Hoax in Modern Politics The Meaning of Hoax in Indonesian Politics and Democracy Utami Jurnal Ilmu doi 10 22146 jsp 34614
  1. #kesetaraan gender#kesetaraan gender
  2. #peran perempuan#peran perempuan
Read online
File size382.63 KB
Pages11
Short Linkhttps://juris.id/p-2QV
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test