STIKESHBSTIKESHB

JURKESSIAJURKESSIA

Anemia merupakan kondisi di mana eritrosit atau hemoglobin yang beredar tidak mencukupi untuk fungsi penyediaan oksigen bagi jaringan tubuh. Secara laboratorium, anemia ditandai dengan penurunan kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, dan hematokrit di bawah nilai normal, yang dapat mengindikasikan kegagalan sumsum tulang atau kehilangan sel darah merah secara berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kejadian anemia pada petani hortikultura melalui survei analitik dengan pendekatan cross‑sectional terhadap 50 responden di RT.07 Kelurahan Landasan Ulin Utara, Banjarbaru, dimana data hemoglobin diperoleh dari pemeriksaan laboratorium dan data usia, frekuensi serta lama penyemprotan diperoleh melalui kuesioner dan observasi kelengkapan APD; analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi‑Square pada tingkat kepercayaan 95 %. Hasil menunjukkan bahwa usia, kelengkapan APD, frekuensi dan lama penyemprotan tidak berhubungan signifikan dengan kejadian anemia (p‑value > 0,05), sehingga peneliti menyarankan studi lanjutan mengenai faktor topografi, istirahat, dan status gizi sebagai determinan anemia pada petani hortikultura.

 07 Kelurahan Landasan Ulin Utara Banjarbaru tahun 2018, variabel umur, kelengkapan APD, lama penyemprotan, dan frekuensi penyemprotan tidak menunjukkan hubungan statistik yang signifikan dengan kejadian anemia pada petani hortikultura.Temuan ini mengindikasikan adanya faktor lain yang berkontribusi besar terhadap anemia, seperti faktor topografis, istirahat, dan status gizi.Dengan demikian, disarankan dilakukan penelitian lanjutan yang menelaah pengaruh faktor‑faktor tersebut terhadap kejadian anemia pada petani hortikultura.

Penelitian lanjutan dapat difokuskan pada studi longitudinal yang memeriksa hubungan antara status gizi petani hortikultura dan kejadian anemia, dengan mengumpulkan data antropometri, asupan makanan, serta kadar mikronutrien (seperti zat besi, vitamin B12, dan asam folat) secara berkala selama setidaknya satu tahun untuk mengidentifikasi pola perubahan dan faktor prediktif. Selanjutnya, penelitian dapat mengevaluasi peran faktor genetik dan biomarker metabolisme besi, misalnya pola ekspresi gen HFE atau kadar ferritin, dalam meningkatkan kerentanan terhadap anemia, sehingga memungkinkan penentuan sub‑kelompok populasi yang berisiko tinggi dan pengembangan strategi pencegahan yang lebih tepat sasaran. Selain itu, sebuah intervensi terintegrasi yang mencakup pelatihan penggunaan alat pelindung diri yang konsisten, program edukasi gizi berkelanjutan, serta pemantauan kesehatan rutin (misalnya pemeriksaan hemoglobin setiap tiga bulan) dapat diuji dalam desain eksperimental terkontrol untuk menilai efektivitasnya dalam menurunkan prevalensi anemia di kalangan petani. Hasil dari ketiga pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan bukti ilmiah yang kuat bagi pembuat kebijakan dalam merumuskan program kesehatan kerja yang komprehensif bagi petani hortikultura.

  1. #anemia postpartum#anemia postpartum
  2. #gigi anak#gigi anak
Read online
File size82.56 KB
Pages9
Short Linkhttps://juris.id/p-2p1
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test