MALANGKOTAMALANGKOTA

PANGRIPTAPANGRIPTA

Fenomena pemuda Not in Employment, Education, or Training (NEET) merupakan tantangan serius bagi pengembangan sumber daya manusia di Indonesia karena dampaknya yang jangka panjang terhadap aspek sosial dan ekonomi. Penelitian ini mengkaji pemuda NEET berusia 16-30 tahun dengan mempertimbangkan karakteristik individu dan lingkungan, termasuk status perkawinan, usia, disabilitas, tingkat pendidikan, jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, pertumbuhan ekonomi, serta interaksi antara status perkawinan dan kelompok usia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan regresi logistik biner, memanfaatkan data SAKERNAS 2023 dan data pertumbuhan ekonomi dari 34 provinsi di Indonesia. Hasil menunjukkan bahwa semua variabel signifikan pada tingkat 1% (p < 0.01). Pemuda yang belum menikah, lebih muda, memiliki disabilitas, perempuan, berpendidikan rendah, dan tinggal di daerah perkotaan memiliki risiko lebih tinggi menjadi NEET. Pendidikan terbukti secara signifikan mengurangi risiko ini. Pertumbuhan ekonomi memiliki efek terbatas yang tidak inklusif, dan interaksi antara status perkawinan dan kelompok usia mengurangi probabilitas status NEET. Penelitian ini berkontribusi pada literatur tentang pengembangan dan perencanaan regional melalui disparitas spasial, khususnya pembagian perkotaan-pedesaan yang berkontribusi terhadap fenomena NEET. Hasil menunjukkan bahwa kebijakan berbasis tempat, seperti memperkuat integrasi antara pendidikan dan pasar kerja, menciptakan program khusus untuk kondisi regional, serta intervensi terarah di daerah perkotaan yang berkembang pesat seperti Kota Malang, diperlukan untuk mempromosikan integrasi pemuda yang inklusif ke dalam pasar kerja.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa fenomena Not in Education, Employment, or Training (NEET) di Indonesia merupakan masalah multidimensional yang dipengaruhi oleh faktor individu dan lingkungan.Hasil analisis regresi logistik biner menunjukkan bahwa status perkawinan, kelompok usia, disabilitas, tingkat pendidikan, jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, pertumbuhan ekonomi, serta interaksi antara status perkawinan dan kelompok usia secara signifikan mempengaruhi probabilitas pemuda berusia 16-30 tahun menjadi NEET.Secara empiris, kelompok rentan seperti orang dengan disabilitas, pemuda, perempuan, individu dengan pendidikan rendah, dan mereka yang tinggal di daerah perkotaan memiliki risiko lebih tinggi menjadi NEET.Sebaliknya, pendidikan terbukti sebagai faktor pelindung utama, sedangkan pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya inklusif dalam menyerap tenaga kerja muda.Dari perspektif pengembangan regional, temuan ini menunjukkan bahwa disparitas spasial dan dinamika pasar kerja perkotaan memainkan peran signifikan dalam membentuk hasil NEET.Daerah perkotaan, termasuk kota seperti Malang, cenderung menunjukkan risiko yang lebih tinggi karena meningkatnya persaingan pasar kerja dan kesenjangan antara pendidikan dan peluang kerja.Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih terarah dan dapat diterapkan.Pertama, pemerintah daerah perlu memperkuat program transisi sekolah-ke-kerja dengan mengintegrasikan pendidikan vokasional dengan kebutuhan industri regional.Kedua, kebijakan berbasis tempat harus dikembangkan untuk memperluas peluang kerja bagi pemuda, khususnya dengan mendukung UMKM, industri kreatif, dan kewirausahaan lokal.Ketiga, kebijakan pasar kerja inklusif diperlukan untuk mendukung kelompok rentan, terutama perempuan dan orang dengan disabilitas, melalui program pelatihan terarah dan akses yang lebih baik ke lapangan kerja.Akhirnya, strategi perencanaan regional harus menekankan pengembangan yang seimbang antara daerah perkotaan dan sekitarnya untuk mengurangi kesenjangan spasial dan meningkatkan integrasi pemuda ke dalam pasar kerja.

Berdasarkan temuan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat diusulkan adalah: Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengkaji dampak kebijakan dan program intervensi yang telah diterapkan di daerah perkotaan seperti Malang dalam mengurangi fenomena NEET. Penelitian ini dapat mengeksplorasi efektivitas program-program tersebut dalam meningkatkan integrasi pemuda ke dalam pasar kerja dan mengurangi kesenjangan spasial. Kedua, penelitian dapat difokuskan pada analisis komparatif antara daerah perkotaan dan pedesaan dalam hal akses pendidikan, pelatihan, dan peluang kerja untuk pemuda. Dengan demikian, penelitian dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi disparitas spasial dan cara-cara untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Ketiga, penelitian dapat dilakukan untuk mengeksplorasi peran kewirausahaan dan industri kreatif dalam menciptakan peluang kerja yang inklusif bagi pemuda, khususnya di daerah perkotaan. Penelitian ini dapat menganalisis bagaimana kewirausahaan dan industri kreatif dapat menjadi katalisator dalam mengurangi fenomena NEET dan meningkatkan partisipasi pemuda dalam pasar kerja.

  1. Characteristics and Determinants of NEET Youth in Kalimantan Barat | Optimum: Jurnal Ekonomi dan Pembangunan.... doi.org/10.12928/optimum.v13i1.6826Characteristics and Determinants of NEET Youth in Kalimantan Barat Optimum Jurnal Ekonomi dan Pembangunan doi 10 12928 optimum v13i1 6826
  2. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... link.springer.com/10.1007/s10775-022-09531-5Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site link springer 10 1007 s10775 022 09531 5
  3. Exploring the determinants of NEET youth in Jambi Province: A socioeconomic perspective | Jurnal Perspektif... online-journal.unja.ac.id/JES/article/view/22074Exploring the determinants of NEET youth in Jambi Province A socioeconomic perspective Jurnal Perspektif online journal unja ac JES article view 22074
Read online
File size284.31 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test