UIN SGDUIN SGD

Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas BudayaReligious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya

Pribumisasi Islam di Jawa tidak dapat dibandingkan dengan sinkretisme karena hanya melibatkan budaya lokal dalam menentukan hukum Islam tanpa mengubah substansinya untuk memenuhi budaya lokal. Indigenisasi seperti yang dimaksud Wahid adalah bagaimana doktrin-doktrin Islam ditafsirkan sehingga budaya lokal berlaku dalam hal yurisprudensi Islam. Di sisi lain, sinkretisme mencampur dua atau lebih keyakinan agama dan akibatnya ia membuat bentuk keyakinan baru dan baru seperti yang dicontohkan dalam praktik ritual seribu kuil dewa di India.

Pribumisasi Islam selalu diperlukan sebagai bukti bahwa Islam itu dinamis, universal dan cocok bagi siapapun dan di manapun.Oleh karenanya apapun yang terjadi dengan kehidupan ini, Islam tetap menuntut umatnya untuk berperan aktif dalam mensiasatinya.Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian ketika membincangkan pribumisasi Islam antara lain.definisi, pengertian serta tujuan pribumisasi dan apa-apa saja yang dapat dipribumikan itu.Ini penting sebab pribumisasi bukanlah merubah Islam dengan budaya, bukan pula Jawanisasi, apalagi sinkretisme.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa ide. Pertama, mengkaji lebih dalam tentang proses pribumisasi Islam di Jawa dan dampaknya terhadap kehidupan beragama di sana. Kedua, meneliti bagaimana pribumisasi Islam dapat diterapkan di daerah-daerah lain di Indonesia dengan mempertimbangkan keragaman budaya dan agama yang ada. Ketiga, mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam proses pribumisasi Islam, serta strategi-strategi yang dapat digunakan untuk mengatasi tantangan tersebut. Dengan menggabungkan ketiga saran ini, penelitian lanjutan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam memahami dan mempromosikan pribumisasi Islam di Indonesia.

Read online
File size490.47 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test