UNHIUNHI

Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan KebudayaanDharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan

Gender dalam budaya Bali yakni patriarki. Hal ini terlihat pada upacara wiwaha atau perkawinan. Wiwaha bisa menyebabkan pertalian hukum kekeluargaan seseorang putus dengan pihak orang tua ataupun pihak ayahnya dan saudara-saudaranya. Seorang perempuan yang melakukan perkawinan akan menjadi anggota keluarga pihak suaminya dan terikat pada pertalian anggota keluarga pihak suaminya dan terikat pada pertalian hukum kekeluargaan suaminya dan putus dengan pertalian hukum kekeluargaan pihak ayahnya. Upacara wiwaha akan memerlukan upakara/banten sebagai simbol kesetaraan gender. Upakara tersebut akan berisi perlengkapan yang menyimbolkan laki-laki dan perempuan dalam kesetaraan karena ditampilkan berdampingan. Namun sebagai simbol ekspresif yang dirasakan oleh masyarakat Bali, tetap saja para perempuan belum bisa mencapai kesetaraan dan keadilan. Semakin sebuah keluarga yang terbentuk dari perkawinan menghormati perempuan, maka relasi gender akan semakin baik karena menempatkan perempuan tersebut pada posisi yang tidak tersubordinasi dan sesuai dengan yang disimbolkan dalam wiwaha.

Laki-laki dan perempuan Hindu-Bali memiliki kekuatan, perawakan, dan kemampuan yang sama untuk membuat keputusan cepat dalam mengejar kehidupan yang utuh, sebagaimana diwakili oleh tanda kesetaraan gender.Menurut Sudharta, Ardhanareswari mengimplikasikan separuh, separuh yang sama, mengacu pada pengertian gender ardanareswari di Bali.Sebagai belahan atas, langit, dan belahan bawah, bumi, masing-masing memiliki misi, kekuatan yang seimbang untuk mencapai keharmonisan alam dan keberadaan manusia di planet ini, sebuah inkarnasi tidak akan lengkap tanpa aspek feminin.

Penelitian lanjutan dapat dilakukan untuk mengkaji dampak simbol gender dalam upakara wiwaha terhadap percepatan kesetaraan gender di masyarakat Bali. Selain itu, penelitian juga dapat dilakukan untuk mengevaluasi peran perempuan dalam upacara wiwaha dan bagaimana upacara tersebut dapat diubah untuk lebih mendukung kesetaraan gender. Terakhir, penelitian dapat dilakukan untuk mengkaji bagaimana simbol gender dalam upacara wiwaha dapat diadaptasi untuk mengatasi masalah-masalah gender yang ada di masyarakat Bali, seperti kekerasan dalam rumah tangga atau diskriminasi terhadap perempuan. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana simbol gender dalam upacara wiwaha dapat digunakan untuk mendukung kesetaraan gender dan mengatasi masalah-masalah gender di masyarakat Bali.

Read online
File size1.63 MB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test