DELIHUSADADELIHUSADA

Jurnal Inovasi Kesehatan MasyarakatJurnal Inovasi Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Berdasarkan 500 investigasi kualitas udara dalam ruangan yang telah dilakukan dalam dekade terakhir, National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) menemukan sumber utama masalah kualitas udara dalam ruangan meliputi keberadaan sumber kontaminasi dalam ruangan (16%), kontaminasi yang berasal dari luar ruangan (10%), mikroba (5%), bahan bangunan yang digunakan (4%), dan lain-lain (13%). Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia/FKM melakukan penelitian terhadap 350 karyawan dari 18 perusahaan di wilayah DKI Jakarta selama Juli-Desember 2020. Berdasarkan hasil penelitian ini, 50% orang yang bekerja di gedung perkantoran mengalami SBS.. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasi survei analitik dengan desain cross-sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 45 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling, dengan analisis uji chi-square dan penentuan rasio prevalensi (PR).. Hasil: Kondisi fisik kualitas lingkungan kerja memenuhi persyaratan pada variabel suhu (nilai-p = 0,229), pencahayaan (nilai-p = 0,001), dan kelembaban (nilai-p = 0,033).. Kesimpulan: Tidak ada pengaruh antara suhu dengan SBS, namun terdapat pengaruh antara pencahayaan dan kelembaban dengan SBS.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak ditemukan pengaruh signifikan antara suhu lingkungan kerja dengan gejala Sick Building Syndrome (SBS), meskipun suhu yang tidak sesuai dapat berisiko 2,571 kali menyebabkan SBS.Namun, ditemukan adanya pengaruh yang signifikan antara pencahayaan terhadap SBS, dengan kondisi pencahayaan yang tidak sesuai meningkatkan risiko SBS sebesar 11,040 kali.Selain itu, kelembaban juga menunjukkan pengaruh signifikan terhadap SBS, di mana kelembaban yang tidak sesuai berisiko 5,175 kali lebih tinggi menyebabkan timbulnya gejala SBS.

Untuk memperkaya pemahaman mengenai Sick Building Syndrome (SBS) di lingkungan kerja perkantoran, penelitian selanjutnya dapat berfokus pada beberapa aspek krusial. Pertama, studi longitudinal akan sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi bagaimana perubahan kualitas lingkungan kerja, khususnya pada pencahayaan dan kelembaban yang telah terbukti signifikan, memengaruhi perkembangan gejala SBS pada pegawai seiring waktu, sehingga dapat membangun hubungan sebab-akibat yang lebih kuat dibandingkan desain cross-sectional saat ini. Kedua, mengingat bahwa faktor lingkungan kerja non-fisik seperti kualitas udara (misalnya konsentrasi Volatile Organic Compounds, partikulat, atau keberadaan mikroba) dan aspek psikososial juga disebut berkontribusi pada SBS, penting untuk melakukan penelitian yang lebih komprehensif. Studi di masa depan dapat mengeksplorasi secara mendalam apakah dan bagaimana faktor-faktor ini berinteraksi dengan kondisi fisik lingkungan kerja dalam memicu atau memperparah gejala SBS pada pegawai. Ketiga, mengingat temuan bahwa pencahayaan dan kelembaban memiliki pengaruh signifikan terhadap SBS, penelitian intervensi sangat diperlukan. Studi ini dapat menguji efektivitas berbagai strategi perbaikan lingkungan, seperti implementasi sistem pencahayaan adaptif atau teknologi pengaturan kelembaban, untuk secara objektif mengukur dampaknya terhadap penurunan insiden dan keparahan gejala SBS, serta peningkatan kesehatan dan produktivitas pegawai secara keseluruhan. Pendekatan ini akan memberikan dasar bukti yang kuat untuk rekomendasi praktis di masa mendatang.

Read online
File size346.74 KB
Pages6
DMCAReport

Related /

ads-block-test