ITKITK

SPECTA Journal of TechnologySPECTA Journal of Technology

Jarak tempuh dalam aktifitas distribusi merupakan suatu variable cost yang dibebankan oleh pihak penanggung, semakin jauh jarak tempuh dalam pendistribusian atau penjemputan barang maka akan semakin besar variable cost yang harus ditanggung. Jarak tempuh dapat dipangkas dengan cara pengambilan rute yang efisien atau dengan merencanakan penentuan lokasi fasilitas yang efektif. Studi kasus dalam penelitian ini adalah pengangkutan produk susu segar peternak sapi perah oleh Koperasi Unit Desa (KUD) Kertajaya dari pos pengumpulan ke cold storage yang melibatkan lebih dari 700 peternak sapi perah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui solusi terbaik dari permasalahan lokasi dan rute yang dihasilkan oleh Maximal Covering Models dalam penentuan lokasi cold storage, dan Vehicle Routing Problem dengan algoritma Tabu Search dalam penentuan rute kendaraan untuk meminimasi jarak tempuh. Dari hasil Maximal Covering Model, menghasilkan usulan lokasi cold storage baru dengan cakupan yang dilayani lebih besar dengan jarak tempuh terpendek, serta algoritma Tabu Search dalam penentuan rute kendaraan menghasilkan usulan rute yang paling optimal. Usulan dalam penelitian ini dapat memangkas jarak tempuh kendaraan hulu sebesar 12.1 km dan kendaraan hilir sebesar 4.2 km setiap harinya, serta efisiensi jumlah kendaraan hulu sebanyak dua unit kendaraan.

Penelitian ini mengintegrasikan Maximal Covering Location Models dan Vehicle Routing Problem dengan algoritma Tabu Search untuk mengoptimalkan sistem distribusi susu segar pada KUD Kertajaya.Lokasi baru cold storage (A-B-C-H-N-O-R) mampu mencakup total permintaan sebesar 12.179 liter, lebih tinggi dibanding lokasi eksisting (A-B-C-F-H-O-R) sebesar 10.Selain itu, cakupan jarak pelayanan maksimum juga berkurang dari 6,4 km menjadi 5,1 km, menandakan peningkatan efisiensi dalam distribusi.Rute kendaraan hulu dan hilir yang hasil optimasi mampu mengurangi jarak tempuh harian kendaraan hulu sebesar 12,1 km dan hilir sebesar 4,2 km, serta mengurangi jumlah kendaraan hulu yang dibutuhkan dari empat unit menjadi dua unit.Secara keseluruhan, pendekatan terpadu ini terbukti efektif dalam meningkatkan efisiensi logistik distribusi susu segar, baik dari sisi cakupan layanan, pengurangan jarak tempuh, maupun penghematan armada kendaraan, serta dapat menjadi dasar perencanaan jangka panjang bagi KUD dalam mengelola rantai pasok produk perishable secara berkelanjutan.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada integrasi data real-time seperti kondisi lalu lintas dan cuaca ke dalam model Maximal Covering dan Vehicle Routing Problem untuk meningkatkan responsivitas sistem logistik. Selain itu, penggunaan algoritma alternatif seperti Genetic Algorithm atau Ant Colony Optimization dapat dieksplorasi untuk membandingkan efektivitasnya dalam menyelesaikan masalah Location Routing Problem. Terakhir, penelitian juga dapat diperluas dengan mempertimbangkan variasi jenis produk perishable yang memiliki kebutuhan penyimpanan dan distribusi berbeda, sehingga solusi yang dihasilkan lebih universal dan aplikatif untuk berbagai skenario industri.

  1. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... link.springer.com/10.1007/978-3-319-13111-5_5Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site link springer 10 1007 978 3 319 13111 5 5
  2. What you should know about location modeling - Daskin - 2008 - Naval Research Logistics (NRL) - Wiley... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/nav.20284What you should know about location modeling Daskin 2008 Naval Research Logistics NRL Wiley onlinelibrary wiley doi 10 1002 nav 20284
Read online
File size591.88 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test