SEANINSTITUTESEANINSTITUTE

INFOKUMINFOKUM

Transformator daya merupakan salah satu peralatan utama di gardu induk yang berperan penting dalam menjaga kontinuitas distribusi tenaga listrik. Salah satu masalah yang sering terjadi pada peralatan gardu induk adalah munculnya hotspot akibat peningkatan resistansi kontak pada sambungan listrik. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan penurunan keandalan peralatan hingga gangguan sistem tenaga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi hotspot pada Klem Bushing Primer Transformator Daya #2 (TD#2) di Gardu Induk Lubuk Alung menggunakan metode termovisi dan mengevaluasi pengaruh pembebanan transformator terhadap peningkatan suhu hotspot. Metode penelitian dilakukan melalui inspeksi termovisi, pengukuran suhu peralatan, analisis pembebanan transformator, dan evaluasi suhu sebelum dan sesudah tindakan perbaikan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa dalam kondisi operasi normal, hotspot terdeteksi pada Klem Bushing Primer TD#2 fasa T dengan suhu 60,5°C, sementara suhu referensi adalah 35,2°C sehingga diperoleh perbedaan suhu sebesar 25,3°C. Ketika Transformator Daya #1 (TD#1) tidak beroperasi, arus beban TD#2 meningkat dari 282 A menjadi 461 A atau sebesar 63,48%, yang menyebabkan suhu hotspot meningkat menjadi 97,9°C. Setelah pengurangan beban melalui manuver sistem dan tindakan korektif pada titik sambungan, suhu hotspot berhasil diturunkan menjadi 23,6°C atau menurun sebesar 74,3°C (75,89%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pembebanan transformator memengaruhi kenaikan suhu pada titik hotspot. Selain itu, termovisi terbukti efektif sebagai metode pemeliharaan prediktif untuk deteksi dini kondisi abnormal, evaluasi tingkat keparahan hotspot, dan mendukung pengambilan keputusan pemeliharaan guna meningkatkan keandalan sistem tenaga listrik di gardu induk.

Penelitian ini mengidentifikasi hotspot pada Klem Bushing Primer Transformator Daya.2 fasa T di Gardu Induk Lubuk Alung dengan suhu 60,5°C, jauh lebih tinggi dari suhu referensi, menunjukkan adanya anomali.Peningkatan beban akibat tidak beroperasinya Transformator Daya.1 secara signifikan menaikkan suhu hotspot hingga 97,9°C, namun tindakan pengurangan beban dan perbaikan berhasil menurunkan suhu tersebut secara drastis menjadi 23,6°C.Hal ini membuktikan bahwa metode termovisi sangat efektif untuk deteksi dini hotspot, evaluasi kondisi peralatan, dan peningkatan keandalan sistem tenaga listrik melalui tindakan pemeliharaan prediktif yang tepat waktu.

Penelitian selanjutnya dapat memperluas cakupan dengan mengevaluasi secara kuantitatif dampak jangka panjang dari penerapan pemeliharaan prediktif berbasis termovisi terhadap keandalan sistem tenaga listrik di berbagai gardu induk, bukan hanya satu lokasi. Ini akan memberikan pemahaman lebih dalam tentang bagaimana strategi ini benar-benar mengurangi gangguan listrik dan meningkatkan kualitas layanan secara keseluruhan di seluruh jaringan. Selain itu, ada peluang besar untuk mengembangkan sistem peringatan dini hotspot menggunakan kecerdasan buatan. Sistem ini akan menganalisis data operasional transformator secara terus-menerus, seperti beban dan suhu, serta data termovisi historis, untuk memprediksi kapan dan di mana hotspot mungkin muncul. Dengan begitu, tindakan pencegahan bisa dilakukan lebih cepat dan otomatis sebelum masalah menjadi serius, jauh melampaui deteksi setelah hotspot terbentuk. Terakhir, untuk memahami akar masalah hotspot secara lebih mendalam, penelitian di masa depan bisa membandingkan dan mengintegrasikan termovisi dengan metode diagnostik lain yang tidak merusak, misalnya dengan menganalisis kandungan gas dalam minyak transformator. Pendekatan gabungan ini diharapkan mampu mengungkap penyebab tersembunyi dari hotspot, seperti degradasi material atau masalah internal, yang sulit dideteksi hanya dengan satu metode, sehingga memungkinkan perbaikan yang lebih tepat dan berkelanjutan demi menjaga operasi gardu induk tetap prima.

Read online
File size419.33 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test