AMNUS BJMAMNUS BJM

Pena JangkarPena Jangkar

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemaknaan sosial dan manifestasi solidaritas mekanik dalam tradisi malabang (menjemur gabah di jalan umum) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, yang dilatarbelakangi oleh munculnya tumpang tindih antara fungsi infrastruktur transportasi publik dan kebutuhan ruang ekonomi-sosial masyarakat di tengah arus modernisasi pertanian. Selain itu, penelitian ini juga menyoroti keterkaitan tradisi malabang dengan sistem pengelolaan perairan dan irigasi pertanian yang menjadi penopang utama keberlangsungan produksi padi serta pemeliharaan ekonomi pascapanen masyarakat tani. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa tradisi malabang bukan sekadar bentuk efisiensi aktivitas ekonomi pascapanen, melainkan sebuah institusi sosial yang merawat kohesi warga melalui pembentukan kontrak sosial tidak tertulis, toleransi spasial asimetris, dan empati komunal yang spontan. Praktik ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat petani memaknai keterhubungan antara proses budidaya yang bergantung pada tata kelola air dan irigasi dengan tahapan pascapanen sebagai satu kesatuan sistem penghidupan agraris yang dijaga secara kolektif. Praktik malabang merefleksikan secara nyata kuatnya kesadaran kolektif dan solidaritas mekanik sebagaimana dikemukakan oleh Emile Durkheim, yang terbukti secara fungsional mampu mencegah perselisihan, mengelola tata ruang nirkonflik tanpa memerlukan intervensi hukum positif aparatur negara, serta menopang keberlanjutan ekonomi pascapanen petani yang bertumpu pada pengelolaan sumber daya perairan pertanian. Limitasi penelitian ini terletak pada fokus telaah sosiologis yang terbatas pada beberapa desa spesifik dan belum mengeksplorasi benturan struktural dengan kebijakan pemerintah, khususnya terkait tata kelola irigasi dan pemanfaatan ruang publik. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk mengkaji relasi ekonomi-politik antara regulasi tata ruang daerah, kebijakan pengelolaan sumber daya air pertanian, dan persistensi tradisi kearifan lokal ini, serta melakukan studi komparatif di wilayah agraris lainnya.

Secara umum, penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi malabang (menjemur gabah di ruang publik) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah bukanlah sekadar rutinitas ekonomi agraris atau wujud ketertinggalan teknologi, melainkan sebuah institusi sosial yang hidup.Fenomena ini merupakan produk konstruksi sosial yang secara konsisten mereproduksi tatanan moral, kebersamaan, dan kohesi komunal masyarakat agraris di tengah gempuran modernisasi.Berdasarkan analisis fenomenologi di lapangan, penelitian ini berhasil menjawab tiga rumusan masalah utama sebagai berikut.Pertama, Pelaksanaan dan Pemaknaan Praktik Malabang Praktik malabang dijalankan secara organik dengan memanfaatkan ruang publik yang tersedia, mulai dari halaman rumah, lapangan desa, hingga aspal jalan umum.Pemilihan jalan aspal tidak dilakukan sembarangan, melainkan didasarkan pada rasionalitas teknis petani yang memahami bahwa panas aspal dapat mempercepat proses pengeringan gabah.Masyarakat Pahuluan memaknai aktivitas ini tidak semata-mata sebagai respons teknis pascapanen, melainkan sebagai habitus yang telah diinternalisasi sejak dini melalui sosialisasi keluarga.Tradisi ini terus dipertahankan karena diyakini menghasilkan kualitas beras yang lebih baik, tidak cepat rusak, dan lebih awet dibandingkan menggunakan mesin pengering pabrik.dari sekadar infrastruktur transportasi beralih menjadi ruang hidup komunal.Kedua, Nilai-Nilai Sosial dalam Tradisi Malabang Praktik pengeringan komunal ini syarat akan nilai kompromi, toleransi, dan modal sosial berbasis kepercayaan (trust-based social capital) yang amat tinggi.Pengelolaan tata ruang di jalan umum dilakukan melalui kontrak sosial informal tanpa sedikit pun intervensi dari peraturan desa atau pranata hukum formal.Sesama pelabang mempraktikkan penyelesaian nirkonflik dengan saling mengerti untuk membagi ruang atau menunda penjemuran gabah jika terjadi tumpang tindih.Lebih lanjut, terbangun toleransi asimetris dengan para pengguna jalan transportasi.Petani tidak akan marah jika gabahnya tidak sengaja terlindas karena menyadari secara etis bahwa jalan tersebut adalah fasilitas umum dan pengguna jalan telah membayar pajak.Ketiga, Refleksi Solidaritas Mekanik Durkheim Tradisi malabang merupakan cerminan sempurna dari teori Solidaritas Mekanik Émile Durkheim.Kohesi sosial ini terbentuk dari kuatnya homogenitas pengalaman, kesamaan tantangan alam (seperti cuaca), dan rutinitas yang seragam sebagai petani.Kuatnya kesadaran kolektif termanifestasi melalui tindakan empati dan gotong royong yang sangat spontan.Saat hujan mendadak turun, para pelabang, masyarakat yang tidak ikut menjemur, hingga pihak eksternal seperti penjual ayam keliling yang melintas, secara refleks saling bahu-membahu menyelamatkan gabah tersebut.Tindakan ini membuktikan bahwa batas kepemilikan privat berhasil dileburkan demi melindungi kepentingan komunal.

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang dilakukan, berikut adalah saran penelitian lanjutan yang dapat dipertimbangkan: 1. Mengkaji relasi ekonomi-politik antara regulasi tata ruang daerah, kebijakan pengelolaan sumber daya air pertanian, dan persistensi tradisi kearifan lokal dalam konteks malabang. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana kebijakan pemerintah terkait tata kelola irigasi dan pemanfaatan ruang publik berinteraksi dengan tradisi malabang, serta bagaimana tradisi ini bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan kebijakan. 2. Melakukan studi komparatif di wilayah agraris lainnya untuk memahami variasi praktik malabang dan solidaritas mekanik di berbagai konteks sosial-budaya. Studi komparatif ini dapat memberikan wawasan lebih mendalam tentang dinamika solidaritas mekanik dan kesadaran kolektif di masyarakat agraris yang berbeda. 3. Menganalisis dampak modernisasi pertanian terhadap ruang interaksi sosial petani tradisional, khususnya dalam konteks malabang. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana mekanisasi pertanian mempengaruhi praktik malabang, dan bagaimana petani menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi tanpa kehilangan identitas kultural dan sosial mereka.

Read online
File size462.71 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test