UNMUNM

Journal of Embedded Systems, Security and Intelligent SystemsJournal of Embedded Systems, Security and Intelligent Systems

Tujuan – Studi ini menguji sensitivitas pengukuran kualitas perangkat lunak berbasis McCall terhadap interval normalisasi bobot alternatif dan konfigurasi pembulatan. Secara spesifik, studi ini mengevaluasi apakah skema pembobotan yang berbeda menghasilkan skor Kualitas Total dan klasifikasi kualitas yang konsisten ketika sistem yang dievaluasi, nilai kriteria, dan prosedur agregasi tetap tidak berubah.. Desain/metode/pendekatan – Desain eksperimental kuantitatif diterapkan pada dimensi Operasi Produk dari model McCall menggunakan Simponi, sistem manajemen pembelajaran berbasis web di Universitas Multi Data Palembang, sebagai studi kasus. Nilai kriteria diperoleh dari 166 responden mahasiswa, sementara peringkat kepentingan indikator disediakan oleh dua pakar rekayasa perangkat lunak. Tiga interval normalisasi, yaitu 0.1–0.5, 0.1–0.4, dan 0.4–0.8, dievaluasi menggunakan konfigurasi pembulatan ke bawah (floor) dan ke atas (ceiling). Skor yang dihasilkan dihitung melalui agregasi aditif berbobot hierarkis.. Temuan – Normalisasi bobot secara substansial memengaruhi penilaian kualitas perangkat lunak yang dihasilkan. Skema pembobotan moderat dan diperluas menghasilkan hasil Kualitas Total yang sebanding dan secara konsisten mengklasifikasikan sistem yang dievaluasi pada tingkat kualitas tertinggi, sedangkan skema pembobotan terkompresi menghasilkan penilaian keseluruhan yang lebih rendah dan menggeser sistem ke kategori kualitas yang lebih rendah. Sebaliknya, perbedaan antara konfigurasi pembulatan floor dan ceiling dapat diabaikan dan tidak mengubah klasifikasi kualitas yang dihasilkan.. Implikasi/keterbatasan penelitian – Normalisasi bobot harus didokumentasikan dan distandarisasi secara eksplisit untuk meningkatkan komparabilitas di seluruh evaluasi berbasis McCall. Temuan ini terbatas pada dimensi Operasi Produk, tiga interval yang telah ditentukan, dan satu aplikasi web akademik.. Orisinalitas/nilai – Studi ini memberikan bukti sensitivitas empiris yang menunjukkan bahwa pemilihan interval bobot adalah keputusan metodologis substantif yang dapat mengubah interpretasi kualitas perangkat lunak, sedangkan konfigurasi pembulatan memiliki efek praktis yang dapat diabaikan.

Studi ini menunjukkan bahwa normalisasi bobot merupakan keputusan metodologis krusial dalam pengukuran kualitas perangkat lunak berbasis McCall, yang secara material memengaruhi penilaian kualitas yang dihasilkan.Perbedaan interval normalisasi bobot terbukti menghasilkan skor Kualitas Total dan klasifikasi kualitas yang substantif, misalnya skema 0.4 menurunkan skor menjadi “Qualified dibandingkan “Highly Qualified pada skema lain, sementara pembulatan (floor/ceiling) memiliki pengaruh praktis yang dapat diabaikan.Oleh karena itu, penelitian ini menekankan pentingnya transparansi dan standardisasi prosedur normalisasi bobot agar evaluasi kualitas perangkat lunak lebih konsisten, dapat dibandingkan, dan direproduksi.

Penelitian ini telah menunjukkan bahwa normalisasi bobot adalah keputusan metodologis krusial dalam pengukuran kualitas perangkat lunak berbasis McCall. Untuk memperkaya pemahaman di masa depan, pertama, sangat bermanfaat untuk meneliti bagaimana sensitivitas skema normalisasi bobot berlaku pada dimensi-dimensi lain dalam model McCall, yaitu Revisi Produk dan Transisi Produk, atau bahkan membandingkan stabilitas hasil penilaian ketika model McCall dihadapkan pada model kualitas perangkat lunak standar internasional lainnya, seperti ISO 25010, di bawah variasi pembobotan serupa. Kedua, mempertimbangkan peran ahli dalam penentuan bobot, penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi penggunaan metode penentuan bobot yang lebih dinamis atau adaptif, misalnya Analytical Hierarchy Process (AHP) atau pendekatan berbasis logika fuzzy. Ini akan membantu menguji apakah metode-metode tersebut dapat mengurangi potensi bias atau fluktuasi dalam penilaian bobot awal, sehingga menghasilkan skor kualitas yang lebih konsisten dan interpretasi yang lebih stabil terlepas dari interval normalisasi yang diterapkan. Memahami bagaimana metode penentuan bobot yang berbeda berinteraksi dengan normalisasi akan memberikan gambaran yang lebih lengkap dan berpotensi menyarankan rekomendasi standardisasi yang lebih kuat. Ketiga, dan tidak kalah penting, penelitian dapat berfokus pada implikasi praktis dari perbedaan klasifikasi kualitas yang muncul akibat skema normalisasi bobot yang bervariasi. Misalnya, bagaimana perbedaan interpretasi dari Sangat Berkualitas menjadi Berkualitas memengaruhi keputusan strategis para pemangku kepentingan di berbagai konteks organisasi—baik di sektor akademik, komersial, maupun pemerintahan—terkait dengan alokasi sumber daya, perencanaan perbaikan sistem, atau bahkan kebijakan akreditasi. Studi kasus yang melibatkan berbagai jenis aplikasi perangkat lunak, seperti sistem perusahaan atau aplikasi mobile, akan memberikan wawasan yang lebih luas tentang generalisasi temuan ini, membantu mengidentifikasi skenario di mana standardisasi bobot menjadi sangat kritis dan relevan untuk pengambilan keputusan sehari-hari.

Read online
File size571.39 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test