MEDANRESOURCECENTERMEDANRESOURCECENTER

Islam & Contemporary IssuesIslam & Contemporary Issues

Masa remaja merupakan salah satu periode paling kritis dalam siklus kehidupan manusia karena pada tahap ini individu mengalami perubahan biologis, psikologis, dan sosial secara bersamaan. Dalam perspektif psikologi perkembangan, remaja berada pada fase pencarian jati diri yang menentukan arah kehidupan di masa dewasa. Erikson menjelaskan bahwa masa remaja ditandai oleh krisis perkembangan Identity versus Role Confusion, yaitu tahap ketika individu berusaha memahami siapa dirinya, nilai apa yang diyakini, serta peran apa yang akan dijalankan dalam masyarakat. Keberhasilan dalam tahap ini akan menghasilkan identitas diri yang stabil, sedangkan kegagalan dapat menimbulkan kebingungan peran, ketidakpastian arah hidup, dan kerentanan terhadap berbagai masalah psikososial (Sukatin et al., 2023). Proses pembentukan identitas diri tidak berlangsung secara individual semata, melainkan dipengaruhi oleh interaksi berbagai faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup konsep diri, harga diri (self-esteem), kepercayaan diri, serta kemampuan resiliensi individu. Sementara itu, faktor eksternal meliputi dukungan keluarga, relasi teman sebaya, lingkungan sekolah, serta nilai-nilai sosial budaya yang membentuk pengalaman hidup remaja. Ketika lingkungan sosial memberikan dukungan yang memadai, proses pembentukan identitas cenderung berkembang secara positif. Sebaliknya, apabila dukungan tersebut tidak tersedia, terutama dari keluarga sebagai lingkungan terdekat, remaja berpotensi mengalami hambatan serius dalam membangun identitas diri yang sehat (Lutfya et al., 2024).

Penelitian ini menyimpulkan bahwa remaja dari keluarga broken home di SMA Panca Budi Medan menghadapi berbagai tantangan dalam proses pembentukan identitas diri, seperti kebingungan dalam memahami konsep diri, rendahnya rasa percaya diri, serta ketidakpastian dalam menentukan tujuan hidup.Kondisi keluarga yang ditandai dengan ketidakhadiran orang tua, konflik keluarga, minimnya dukungan emosional, serta keterbatasan komunikasi menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi psikologis remaja.Dampak tersebut tidak hanya memengaruhi aspek emosional, tetapi juga berdampak pada motivasi belajar, perencanaan masa depan, serta kemampuan remaja dalam mengambil keputusan.Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup dalam keluarga yang tidak utuh dapat memicu krisis identitas pada remaja, sebagaimana dijelaskan dalam teori perkembangan Erikson tentang fase identity versus role confusion.Namun demikian, penelitian ini juga menunjukkan bahwa dampak keluarga broken home tidak bersifat deterministik.Keberadaan faktor protektif dari lingkungan sekolah dan teman sebaya mampu membantu remaja mengatasi berbagai tekanan psikologis yang mereka alami.Dukungan dari guru bimbingan dan konseling, wali kelas, serta keterlibatan dalam kegiatan sekolah memberikan ruang bagi remaja untuk mengeksplorasi potensi diri, meningkatkan kepercayaan diri, serta membangun relasi sosial yang positif.Selain itu, hubungan pertemanan yang suportif juga membantu remaja memperoleh dukungan emosional dan rasa memiliki dalam lingkungan sosial.Dengan demikian, sinergi antara dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial menjadi faktor penting dalam membantu remaja broken home mengembangkan ketangguhan psikologis serta membentuk identitas diri yang lebih sehat, mandiri, dan adaptif.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk melakukan studi komparatif antara remaja broken home dan remaja dari keluarga utuh dalam konteks sekolah swasta perkotaan. Studi ini dapat mengeksplorasi perbedaan dan kesamaan dalam proses pembentukan identitas diri, serta mengidentifikasi faktor-faktor spesifik yang memengaruhi perkembangan identitas remaja. Selain itu, penelitian dapat berfokus pada peran guru dan konselor dalam mendukung remaja broken home, termasuk strategi intervensi yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis dan sosial mereka. Terakhir, studi longitudinal dapat dilakukan untuk memahami dinamika pembentukan identitas remaja broken home dalam jangka panjang, termasuk perubahan yang terjadi seiring dengan perkembangan usia dan pengalaman hidup.

  1. Dinamika psikologis remaja yang mengalami broken home karena orang tua bercerai | Cognicia. dinamika... doi.org/10.22219/cognicia.v10i2.22072Dinamika psikologis remaja yang mengalami broken home karena orang tua bercerai Cognicia dinamika doi 10 22219 cognicia v10i2 22072
  2. KONSEP DIRI PADA REMAJA BROKEN HOME: TINJAUAN PSIKOLOGIS | Journal of Education Counseling. konsep remaja... doi.org/10.62097/jec.v2i2.2215KONSEP DIRI PADA REMAJA BROKEN HOME TINJAUAN PSIKOLOGIS Journal of Education Counseling konsep remaja doi 10 62097 jec v2i2 2215
  3. Pola Komunikasi Orang Tua Terhadap Konsep Diri Remaja | Communication & Social Media. pola komunikasi... doi.org/10.57251/csm.v1i1.258Pola Komunikasi Orang Tua Terhadap Konsep Diri Remaja Communication Social Media pola komunikasi doi 10 57251 csm v1i1 258
Read online
File size345.63 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test