UNJAUNJA

Lintang AksaraLintang Aksara

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penggunaan kata santun dalam bahasa Jawa serta faktor-faktor yang memengaruhi pergeserannya pada percakapan antarwarga di Desa Bangun Seranten, Kabupaten Tebo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk kata santun masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat, terutama dalam interaksi dengan orang yang lebih tua atau dalam konteks formal. Meskipun bahasa ngoko lebih dominan digunakan dalam percakapan sehari-hari, kesantunan tetap tercermin melalui pilihan kata dan cara penyampaian yang halus serta penuh hormat. Enam maksim kesantunan seperti kebijaksanaan, pujian, kerendahan hati, kemurahan hati, kecocokan, dan simpati ditemukan dalam berbagai interaksi sosial. Adapun faktor-faktor yang memengaruhi perubahan penggunaan kata santun meliputi pengaruh media sosial, kurangnya pewarisan bahasa dari orang tua, pernikahan antar suku, minimnya pendidikan muatan lokal yang fokus pada praktik bahasa daerah, serta dominasi gaya komunikasi praktis. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pelestarian nilai kesantunan budaya Jawa dan membuka ruang kajian konteks perubahan bahasa di masyarakat modern.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai penggunaan kata santun dalam bahasa Jawa pada percakapan antarwarga di Desa Bangun Seranten Kabupaten Tebo, diperoleh sejumlah kesimpulan sebagai berikut.Penggunaan kata santun bahasa Jawa masih bertahan dalam kehidupan masyarakat, meskipun secara struktural bentuk bahasa yang digunakan mayoritas berupa ngoko.Hal ini menunjukkan bahwa kesantunan tidak hanya ditentukan oleh bentuk krama, tetapi lebih pada cara menyampaikan maksud secara sopan, menghargai lawan bicara, dan menjaga keharmonisan sosial.Pematuhan maksim kesantunan pada percakapan antarwarga di Desa Bangun Seranten ditemukan 10 tuturan yang terdiri dari 1 tuturan pematuhan maksim kebijaksanaan, 2 tuturan pematuhan maksim kedermawanan, 2 tuturan pematuhan maksim pujian, 1 tuturan pematuhan maksim kerendahan hati, 2 tuturan pematuhan maksim persetujuan dan 2 tuturan pematuhan maksim kesimpatian.Masing-masing maksim tercermin dalam cara warga menyampaikan permintaan, memberi pujian, menunjukkan sikap rendah hati, menawarkan bantuan, menyampaikan persetujuan, dan menunjukkan empati terhadap kondisi orang lain.Faktor-faktor yang memengaruhi pergeseran penggunaan kata santun antara lain Pengaruh Media Sosial dan Teknologi, Kurangnya Pewarisan Bahasa dari Orang Tua, Pernikahan Antar Suku, Pendidikan Formal Tidak Fokus pada Bahasa Daerah, Dominasi bahasa ngoko, Mobilitas Sosial dan Urbanisasi, Minimnya Dokumentasi Budaya Lokal.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk fokus pada generasi muda dan penggunaan bahasa Jawa di media digital, agar dinamika kesantunan bahasa dalam era modern dapat dipahami secara lebih komprehensif. Selain itu, perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai variasi komunikasi lintas generasi dan pengaruhnya terhadap praktik kesantunan berbahasa. Dengan demikian, dapat diperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh tentang bagaimana nilai-nilai unggah-ungguh dapat dipertahankan dan dikembangkan di tengah perubahan sosial dan budaya yang terjadi.

Read online
File size810.79 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test