STIKEP PPNIJABARSTIKEP PPNIJABAR

jurnal keperawatan komprehensifjurnal keperawatan komprehensif

Latar belakang: Penyakit ginjal kronik (CKD) adalah kondisi progresif yang sering memerlukan hemodialisis untuk pemeliharaan. Pruritus yang terkait CKD (CKD-aP), juga dikenal sebagai pruritus uremik, adalah kondisi gatal yang mengganggu yang masih kurang diakui dan dapat berkontribusi pada ketidaknyamanan fisik, gangguan tidur, beban psikologis, serta kualitas hidup dermatologi yang lebih buruk. Tujuan: Mengeksplorasi asosiasi antara tingkat keparahan CKD-aP dan kualitas hidup dermatologi pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Metode: Studi deskriptif korelasional cross-sectional menggunakan sampling purposive. Data dikumpulkan dari 72 pasien hemodialisis di RSU Haji Surabaya dan RSUD Sidoarjo selama April-Mei 2019. Partisipan yang memenuhi kriteria usia 18–65 tahun, menjalani hemodialisis dua kali seminggu, dan melaporkan gatal dalam sebulan terakhir. Pasien dengan kondisi dermatologis primer seperti dermatitis atopik dikecualikan. Keparahan CKD-aP diukur menggunakan Skala Gatal 5-D, sedangkan kualitas hidup dermatologi diukur dengan Indeks Kualitas Hidup Dermatologi (DLQI). Analisis bivariat menggunakan uji korelasi rank Spearman. Hasil: Rata-rata skor Skala Gatal 5-D adalah 14,83 ± 4,224, dan rata-rata skor DLQI adalah 10,69 ± 4,141. Asosiasi positif antara skor 5-D dan DLQI menunjukkan hasil yang lebih buruk dengan pruritus yang lebih parah. Keparahan CKD-aP secara signifikan berkorelasi dengan kualitas hidup dermatologi (rho = 0,588, p = 0,001, n = 72). Analisis domain menunjukkan bahwa tingkat (3,34 ± 1,02) dan durasi gatal (3,12 ± 0,94) adalah domain tertinggi pada 5-D, sementara gejala/perasaan (3,11 ± 1,38) dan aktivitas harian (2,41 ± 1,21) adalah domain kualitas hidup yang paling terdampak. Kesimpulan: Studi cross-sectional ini menemukan asosiasi positif signifikan antara keparahan CKD-aP dan kualitas hidup dermatologi yang lebih buruk pada pasien hemodialisis. Kausalitas tidak dapat disimpulkan. Temuan mendukung penilaian rutin terhadap pruritus dan manajemen gejala dalam perawatan hemodialisis.

Studi cross-sectional ini menemukan asosiasi positif signifikan antara keparahan CKD-aP dan kualitas hidup dermatologi yang lebih buruk pada pasien hemodialisis.Temuan mendukung pentingnya penilaian rutin terhadap pruritus dan manajemen gejala dalam perawatan hemodialisis.Diperlukan studi longitudinal multiset dengan sampel lebih besar, analisis yang disesuaikan, dan desain intervensi berbasis CKD untuk mengklarifikasi jalur kausal dan strategi manajemen yang efektif.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada studi longitudinal untuk memahami hubungan kausal antara CKD-aP dan kualitas hidup dermatologi, serta mengidentifikasi faktor modifikasi yang memengaruhi keparahan pruritus. Selain itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap efektivitas terapi farmakologis baru seperti difelikefalin dalam mengurangi gejala pruritus pada pasien hemodialisis. Terakhir, penelitian dapat menggabungkan pendekatan multidisiplin, seperti kolaborasi antara perawat, ahli dermatologi, dan ahli nefrologi, untuk mengembangkan protokol manajemen gejala yang holistik dan berbasis bukti.

  1. jurnal keperawatan komprehensif. ckd associated pruritus dermatology related quality life hemodialysis... journal.stikep-ppnijabar.ac.id/jkk/article/view/1023jurnal keperawatan komprehensif ckd associated pruritus dermatology related quality life hemodialysis journal stikep ppnijabar ac jkk article view 1023
Read online
File size873.92 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test