UnlaUnla

JASa (Jurnal Akuntansi, Audit dan Sistem Informasi Akuntansi)JASa (Jurnal Akuntansi, Audit dan Sistem Informasi Akuntansi)

Wisata gelap mencakup kunjungan ke situs-situs sejarah traumatik, monumen peringatan, museum konflik, dan lokasi bencana, yang merupakan segmen pertumbuhan pesat dalam industri pariwisata Indonesia. Sektor akomodasi memerlukan integrasi nilai-nilai kearifan Nusantara dan pendekatan komunikasi berbasis kosmologi Jawa (wingit dan angker) ke dalam praktik pengelolaan destinasi. Studi ini menyintesis literatur ilmiah peer-reviewed antara 2021 dan 2026, dengan fokus pada tiga aspek utama: (1) strategi komunikasi berbasis nilai-nilai budaya Nusantara, (2) kosmologi wingit sebagai bentuk manajemen warisan budaya lokal, dan (3) Sistem Informasi Akuntansi (AIS) sebagai infrastruktur akuntabilitas dan tata kelola. Hasil empiris menunjukkan bahwa integrasi kosmologi wingit meningkatkan kepuasan pengunjung sebesar 31%, pendekatan gotong royong meningkatkan skor kepuasan sebesar 23%, dan AIS berbasis Balanced Scorecard meningkatkan efisiensi operasional sebesar 21%. Model MKHDTBN mengusulkan kerangka integratif empat lapis yang menggabungkan fondasi nilai budaya, kompetensi komunikasi profesional, sistem manajemen narasi, dan infrastruktur akuntansi digital untuk pengelolaan pariwisata gelap di Indonesia.

Studi ini menyintesis bukti dari 95 sumber peer-reviewed untuk memperluas pemahaman tentang komunikasi akomodasi wisata gelap di Indonesia.(1) sektor wisata gelap Indonesia berkembang signifikan (18% per tahun) namun kapasitas sumber daya manusia dan komunikasi masih tertinggal, hanya 12% pemandu yang memiliki sertifikasi resmi dan 34% situs yang memiliki SOP komunikasi tertulis.(2) Nilai kearifan lokal Nusantara bukan sekadar ornament budaya tetapi prinsip operasional yang secara empiris meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung.(3) Kosmologi Jawa wingit-angker merupakan sistem efektif manajemen warisan budaya lokal dan sumber narasi interpretasi bernilai tinggi, memerlukan mediasi adat untuk mencegah komodifikasi eksploitatif melalui format wisata spektral.(4) AIS terintegrasi merupakan infrastruktur tata kelola yang diperlukan untuk meningkatkan akuntabilitas, efisiensi operasional, dan pengukuran kinerja multidimensi.(5) Model MKHDTBN menyediakan kerangka konseptual integratif yang menggabungkan semua empat lapis secara sinergis.

Penelitian lanjutan dapat fokus pada pengembangan program pelatihan pemandu wisata yang mengintegrasikan nilai kearifan lokal Nusantara seperti gotong royong dan tepo seliro untuk meningkatkan empati dan kualitas komunikasi. Selain itu, perlu dilakukan studi tentang penerapan sistem manajemen narasi berbasis teknologi digital (seperti AI dan blockchain) yang tetap mempertahankan integritas budaya dalam penyajian sejarah trauma. Terakhir, penelitian dapat mengeksplorasi dampak jangka panjang dari penggunaan AIS berbasis Balanced Scorecard terhadap kepuasan pengunjung dan keberlanjutan ekonomi komunitas lokal di destinasi wisata gelap.

Read online
File size321.5 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test