169169

PanggungPanggung

Perkembangan tari menunjukkan bahwa tradisi bukanlah warisan budaya statis, melainkan praktik dinamis yang terus dibentuk melalui transformasi kreatif. Prasnaya Prami, sebuah tari penyambutan Bali, menjadi contoh proses ini dengan mempertahankan sistem koreografi Bali sebagai kerangka utamanya, sekaligus mengambil inspirasi dari gerakan tari klasik Yogyakarta. Penelitian ini menyelidiki estetika koreografi lintas tradisi dalam Prasnaya Prami dengan menyelidiki bagaimana transformasi gerakan membentuk identitas seni. Studi kualitatif ini menggunakan perspektif etno-koreologi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara semi-terstruktur, dokumentasi, dan tinjauan pustaka, serta dianalisis menggunakan model interaktif yang diusulkan oleh Miles, Huberman, dan Saldaña. Transformasi kualitas gerakan dianalisis melalui Analisis Gerakan Laban (Tubuh, Ruang, Usaha, dan Bentuk) dan lebih lanjut ditafsirkan menggunakan konsep corporeality dari Susan Leigh Foster. Temuan menunjukkan bahwa Prasnaya Prami mempertahankan struktur presentasi dan teknik tubuh tari Bali sebagai identitas koreografinya yang dominan, sambil mengintegrasikan vocabularies gerakan terpilih yang berasal dari tari klasik Yogyakarta melalui proses seleksi, adaptasi, dan transformasi. Transformasi ini melibatkan perubahan orientasi tubuh, organisasi ruang, dinamika gerakan, bentuk tubuh, manipulasi selendang, dan frasa koreografi, menghasilkan bahasa koreografi baru tanpa menggeser identitas dasar tari Bali. Artikel ini berpendapat bahwa identitas koreografi lintas tradisi terbentuk bukan oleh proporsi terlihat dari tradisi budaya yang berbeda, tetapi oleh transformasi kreatif vocabularies gerakan dalam satu sistem koreografi dominan. Sesuai dengan itu, penelitian ini mengusulkan model konseptual estetika koreografi lintas tradisi di mana transformasi gerakan menjadi mekanisme utama dalam konstruksi identitas seni.

Penelitian ini menunjukkan bahwa estetika koreografi lintas tradisi dalam Prasnaya Prami terbentuk melalui transformasi selektif vocabularies gerakan, bukan melalui kombinasi setara tari Bali dan tari klasik Yogyakarta.Temuan mengungkapkan bahwa identitas koreografi dominan Prasnaya Prami tetap berakar pada tradisi tari Bali, tercermin dalam pemeliharaan struktur presentasi (papeson, pangawak, pangecet, dan pakaad), teknik tubuh Bali, iringan Gong Kebyar, dan organisasi koreografi secara keseluruhan.Dalam kerangka ini, vocabularies gerakan dari tari klasik Yogyakarta direkonstruksi melalui proses seleksi, adaptasi, dan transformasi, memperkaya vocabularies koreografi tanpa mengubah identitas utama karya tersebut.Distribusi transformasi gerakan sepanjang struktur koreografi lebih lanjut menunjukkan bahwa estetika lintas tradisi dikembangkan sesuai dengan logika dramaturgikal tari Bali.Bagian pangawak berfungsi sebagai situs utama transformasi gerakan, sedangkan papeson menetapkan identitas koreografi Bali, pangecet memperkuat dinamika ritmis Bali, dan pakaad memulihkan kohesi struktural melalui kesimpulan yang khas Bali.Temuan ini mengonfirmasi bahwa integrasi tari klasik Yogyakarta berfungsi sebagai strategi pengayaan koreografi, bukan sebagai pendirian sistem koreografi independen.Perspektif etno-koreologi yang diusulkan dalam penelitian ini melihat koreografi lintas tradisi sebagai proses transformasi gerakan kreatif yang beroperasi dalam kerangka koreografi dominan, alih-alih sebagai koeksistensi dua tradisi tari lengkap dalam satu pertunjukan.Pendekatan ini memindahkan perhatian analitis dari kehadiran proporsional elemen budaya yang berbeda menuju mekanisme melalui mana vocabularies gerakan dipilih, ditransformasi, dan diorganisir menjadi sistem koreografi koheren.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan untuk menyelidiki proses transformasi gerakan dalam tari Bali lainnya untuk menyempurnakan dan memperluas kerangka konseptual yang diusulkan. Selain itu, studi komparatif tentang koreografi lintas tradisi dalam konteks Indonesia dapat memberikan wawasan lebih lanjut tentang bagaimana dialog antarkultur dapat terjadi dalam satu sistem koreografi dominan. Akhirnya, penelitian yang mengeksplorasi implikasi praktis temuan ini bagi koreografer, pendidik tari, dan peneliti dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pemahaman dan praktik koreografi kontemporer.

  1. Expression of Culture Diversity Through Creation of Zapin Nusantara Berlenggang Dance | Mudra Jurnal... jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/2247Expression of Culture Diversity Through Creation of Zapin Nusantara Berlenggang Dance Mudra Jurnal jurnal isi dps ac index php mudra article view 2247
  2. Model Pengembangan Iringan Tari Jaran Kepang | Panggung. model pengembangan iringan tari jaran kepang... jurnal.isbi.ac.id/index.php/panggung/article/view/3216Model Pengembangan Iringan Tari Jaran Kepang Panggung model pengembangan iringan tari jaran kepang jurnal isbi ac index php panggung article view 3216
  3. History and monumentalism of the Rejang Dewa dance in Bali, Indonesia | Humanities, Arts and Social Sciences... doi.org/10.69598/hasss.25.1.269117History and monumentalism of the Rejang Dewa dance in Bali Indonesia Humanities Arts and Social Sciences doi 10 69598 hasss 25 1 269117
  4. A Javanese Dance is A Representation of Rasa in Javanese Culture | Mudra Jurnal Seni Budaya. javanese... jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/mudra/article/view/2798A Javanese Dance is A Representation of Rasa in Javanese Culture Mudra Jurnal Seni Budaya javanese jurnal isi dps ac index php mudra article view 2798
Read online
File size686.85 KB
Pages22
DMCAReport

Related /

ads-block-test