UIGMUIGM

Besaung : Jurnal Seni Desain dan BudayaBesaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya

Penelitian ini mengkaji representasi identitas visual kemaritiman di Kota Palembang dan Kota Makassar. Kajian ini dilatarbelakangi oleh adanya kesenjangan antara kekuatan sejarah kemaritiman Sriwijaya di Palembang dan lemahnya representasi visual identitas kemaritiman dalam ruang publik, sementara Makassar menunjukkan identitas kemaritiman yang lebih konsisten melalui penggunaan simbol Pinisi. Untuk memahami perbedaan tersebut, penelitian dilakukan dengan membandingkan karakter visual, keterkaitan simbol dengan identitas kemaritiman, serta konsistensi reproduksi simbol pada kedua kota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi visual Sriwijaya di Palembang masih bersifat fragmentatif, tidak memiliki simbol visual yang dominan, dan belum membentuk sistem identitas visual yang konsisten. Sebaliknya, simbol Pinisi di Makassar direproduksi secara berkelanjutan dalam berbagai media visual sehingga membentuk identitas kemaritiman yang lebih dominan, konsisten, dan mudah dikenali. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kekuatan identitas visual kemaritiman tidak hanya ditentukan oleh kekuatan sejarah dan budaya, tetapi juga oleh keberadaan simbol yang khas serta konsistensi reproduksi visualnya dalam membangun pengenalan kolektif di ruang publik.

Penelitian ini menunjukkan bahwa representasi visual identitas kemaritiman di Kota Palembang dan Makassar berkembang melalui struktur visual yang berbeda.Palembang merepresentasikan identitas kemaritiman Sriwijaya secara fragmentatif dan belum memiliki simbol visual yang dominan sehingga belum membentuk sistem identitas visual yang konsisten dalam ruang publik.Sebaliknya, Makassar berhasil membangun identitas visual kemaritiman yang kuat melalui reproduksi simbol Pinisi secara berkelanjutan pada berbagai media visual, seperti city branding, identitas institusi, media promosi, dan elemen arsitektur.Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh konteks geografis, budaya maritim, serta proses reproduksi simbol dalam ruang publik.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji representasi identitas visual kemaritiman di wilayah maritim lainnya di Indonesia, seperti Kota Aceh atau Surabaya, untuk membandingkan strategi visual yang berbeda. Selain itu, penting untuk mengeksplorasi peran pendidikan dan komunitas lokal dalam memperkuat identitas visual melalui pelibatan masyarakat secara aktif dalam proses desain. Penelitian multidisiplin yang menggabungkan pendekatan antropologi, psikologi, dan desain dapat memberikan wawasan lebih dalam tentang bagaimana simbol budaya diinterpretasikan oleh berbagai kelompok sosial, terutama generasi muda.

  1. PERANCANGAN KOMUNIKASI VISUAL BOARD GAME PENGENALAN DESTINASI WISATA KOTA PALEMBANG UNTUK ANAK USIA 9-12... doi.org/10.36982/jsdb.v8i1.2830PERANCANGAN KOMUNIKASI VISUAL BOARD GAME PENGENALAN DESTINASI WISATA KOTA PALEMBANG UNTUK ANAK USIA 9 12 doi 10 36982 jsdb v8i1 2830
  2. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... doi.org/10.1057/9780230582323Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site doi 10 1057 9780230582323
Read online
File size1008.91 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test