STAIYPIQBAUBAUSTAIYPIQBAUBAU

Tabsyir: Jurnal Dakwah dan Sosial HumanioraTabsyir: Jurnal Dakwah dan Sosial Humaniora

Umat Islam telah lama berdebat tentang apakah perlu menggunakan hermeneutika dalam mempelajari Al-Quran atau tidak. Namun, sebagian orang melihatnya sebagai alat untuk kelahiran kembali yang dapat menjembatani kesenjangan sejarah antara teks yang diberikan dan kehidupan modern, sementara yang lain melihatnya sebagai ancaman terhadap pengetahuan yang dapat mengurangi otoritas Al-Quran. Tulisan ini mencoba memahami sudut pandang dari kedua sisi dan menemukan area di mana mereka mungkin sepakat. Studi ini meneliti karya-karya orang-orang yang mendukung dan menentang hermeneutika menggunakan metode deskriptif dan analitis serta riset pustaka. Hasilnya menunjukkan bahwa para pendukung, seperti Fazlur Rahman, Nasr Hamid Abu Zayd, dan Mohammed Arkoun, mengatakan bahwa hermeneutika menambah alat interpretasi dan membantu memecahkan masalah penempatan makna dalam konteks yang tepat. Di sisi lain, para penentang seperti Adian Husaini dan mereka yang menekankan pentingnya para pengajar Al-Quran yang terkenal mengatakan bahwa hermeneutika muncul karena Alkitab sulit dipahami, sehingga tidak dapat digunakan untuk menjelaskan Al-Quran, yang masih diyakini sebagai kebenaran. Inti utama artikel ini adalah bahwa perbedaan pendapat muncul karena adanya perbedaan gagasan teologis tentang makna teks tersebut. Artikel ini juga menyatakan bahwa cara terbaik bagi perkembangan studi Al-Quran modern adalah dengan menggunakan adaptasi hermeneutika secara selektif sebagai alat, bukan sebagai pengganti ilmu eksegesis.

Perdebatan mengenai apakah menerima atau menolak hermeneutika dalam studi Al-Quran muncul dari perbedaan gagasan dasar tentang makna teks tersebut.Orang-orang yang mendukung hermeneutika, seperti Fazlur Rahman, Nasr Hamid Abu Zayd, Mohammed Arkoun, dan lainnya yang mengikuti jejak mereka, berpendapat bahwa itu adalah cara yang valid dan penting untuk menghubungkan apa yang dikatakan Alkitab tentang masa lalu dengan apa yang terjadi sekarang.Sisi lain, yang dipimpin oleh Adian Husaini dan para sarjana Al-Quran terkenal lainnya, mengatakan bahwa hermeneutika berasal dari upaya Barat untuk memahami masalah-masalah dalam Alkitab dan tidak berguna atau bahkan berbahaya jika digunakan pada Al-Quran yang sebenarnya dan terpelihara dengan baik.Hasil dari studi ini, kedua posisi ekstrem tersebut memiliki kekurangan.Menerima sepenuhnya hermeneutika tanpa mempertimbangkan konten filosofisnya yang tidak netral adalah satu hal, sementara menolaknya sepenuhnya tanpa mempertimbangkan keragaman internalnya dan keberadaan sensitivitas hermeneutika dalam tradisi eksegetis itu sendiri adalah hal lain.Cara terbaik bagi ilmu tafsir untuk berkembang adalah melalui adaptasi kritis selektif.Ini berarti menggunakan unsur-unsur hermeneutika yang bermanfaat sebagai alat dalam kerangka para sarjana Al-Quran sambil tetap berpegang pada keyakinan agama tentang keabsahan dan otoritas Al-Quran.Disarankan agar dilakukan lebih banyak penelitian untuk melihat bagaimana model adaptasi selektif ini bekerja dalam tafsir modern di Indonesia.

Penelitian lanjutan bisa fokus pada analisis dampak hermeneutika terhadap interpretasi ayat-ayat kontroversial Al-Quran dalam konteks sosial modern, seperti hak asasi manusia atau gender. Selain itu, perlu dilakukan studi banding antara pendekatan hermeneutika dan tradisi tafsir lokal di berbagai wilayah Indonesia untuk memahami perbedaan perspektif. Terakhir, penelitian juga bisa mengeksplorasi potensi integrasi hermeneutika dengan teknologi digital, seperti AI, untuk membantu generasi muda dalam memahami Al-Quran secara kontekstual tanpa mengorbankan prinsip keagamaan.

  1. Burhani’s Reason on Scientific Interpretation Ministry of Religion of the Republic of Indonesia... atlantis-press.com/proceedings/icims-23/125991757BurhaniAos Reason on Scientific Interpretation Ministry of Religion of the Republic of Indonesia atlantis press proceedings icims 23 125991757
  2. Posisi Asbab Al-Nuzul Dalam Penafsiran Al-Qur’an Perspektif Hermeneutika Paul Ricoeur | Tarqiyatuna:... jurnal.asy-syukriyyah.ac.id/index.php/tarqiyatuna/article/view/313Posisi Asbab Al Nuzul Dalam Penafsiran Al QurAoan Perspektif Hermeneutika Paul Ricoeur Tarqiyatuna jurnal asy syukriyyah ac index php tarqiyatuna article view 313
  3. Rereading Nasr Hamid Abu Zayd’s method of interpreting religious texts | Mufid | HTS Teologiese... doi.org/10.4102/hts.v79i1.8102Rereading Nasr Hamid Abu ZaydAos method of interpreting religious texts Mufid HTS Teologiese doi 10 4102 hts v79i1 8102
  4. Fazlur Rahman dan Teori Double Movement: Definisi dan Aplikasi | Al-Fahmu: Jurnal Ilmu Al-Qur'an... doi.org/10.58363/alfahmu.v2i1.26Fazlur Rahman dan Teori Double Movement Definisi dan Aplikasi Al Fahmu Jurnal Ilmu Al Quran doi 10 58363 alfahmu v2i1 26
Read online
File size946.17 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test