STIKESPANTIWALUYASTIKESPANTIWALUYA

Jurnal Keperawatan MalangJurnal Keperawatan Malang

Chepalo Pelvic Disproportion (CPD) atau disproporsi fotopelvik menggambarkan ketidaksesuaian antara ukuran janin dan ukuran pelvis, sehingga janin tidak dapat dilahirkan secara pervaginam. Kondisi ini menyebabkan ibu hamil mengalami ansietas, terutama karena kekhawatiran menghadapi operasi sesar sebagai pertama kali. Terapi relaksasi non-farmakologis seperti Slow Deep Breathing efektif untuk mengurangi ansietas. Studi kasus ini bertujuan mengetahui efektivitas terapi relaksasi Slow Deep Breathing dalam menurunkan ansietas pada ibu hamil primigravida dengan kasus CPD. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan terhadap dua pasien. Hasil menunjukkan bahwa setelah dilakukan terapi relaksasi Slow Deep Breathing, terjadi penurunan ansietas, ditandai dengan menurunnya verbalisasi kekhawatiran, perilaku gelisah, ketegangan, tekanan darah membaik, tremor berkurang, dan pola tidur membaik. Terapi relaksasi Slow Deep Breathing terbukti efektif menurunkan ansietas pada ibu hamil primigravida dengan CPD.

Terapi relaksasi Slow Deep Breathing efektif dalam menurunkan ansietas pada ibu hamil primigravida dengan Cephalo Pelvic Disproportion.Intervensi keperawatan yang diberikan selama tiga hari menunjukkan perbaikan signifikan pada gejala ansietas, termasuk penurunan kecemasan, gelisah, ketegangan, dan perbaikan tekanan darah serta pola tidur.Penerapan asuhan keperawatan maternitas dengan pendekatan relaksasi napas dalam merupakan strategi yang tepat untuk mengatasi masalah psikologis pada pasien CPD.

Pertama, perlu penelitian lebih lanjut mengenai efektivitas kombinasi terapi Slow Deep Breathing dengan terapi musik atau aromaterapi dalam mengurangi ansietas pada ibu hamil primigravida dengan CPD, untuk mengetahui apakah pendekatan multimodal memberikan hasil yang lebih optimal. Kedua, penting untuk mengevaluasi dampak jangka panjang terapi relaksasi terhadap kualitas pemulihan pasca operasi sesar, termasuk nyeri, lama rawat inap, dan ikatan ibu-anak, agar dapat dikembangkan protokol perawatan yang lebih komprehensif. Ketiga, diperlukan studi tentang faktor sosial budaya yang memengaruhi tingkat ansietas dan respons terhadap terapi relaksasi, misalnya melalui pendekatan lintas kelompok usia, tingkat pendidikan, atau dukungan keluarga, untuk merancang intervensi keperawatan yang lebih personal dan relevan.

Read online
File size153.47 KB
Pages11
Short Linkhttps://juris.id/p-1Bx
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test