UNJUNJ

Jurnal Sains GeografiJurnal Sains Geografi

Pulau Pari, salah satu pulau di Kepulauan Seribu yang memiliki potensi wisata bahari tinggi, salah satunya adalah wisata snorkeling. Pulau Pari berlokasi di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Untuk menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang di pulau ini, perlu dilakukan penilaian kondisi kesehatannya secara berkala. Terumbu karang merupakan ekosistem penting yang mendukung keragaman hayati di lingkungan maritim. Kondisi terumbu karang di Pulau Pari dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti aktivitas wisata, perubahan iklim, dan pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kondisi kesehatan terumbu karang pada lokasi wisata bahari (snorkeling) di Pulau Pari. Penelitian dilakukan dengan metode survei lapangan pada satu titik pengamatan yaitu berlokasi di selatan Pulau Pari dengan titik koordinat 5°5211.3 S, 106°3645.1 E menggunakan metode Coral Health Chart. Mengenai Coral Health Chart adalah tabel yang berisi rona perubahan warna terumbu karang. Tabel ini dapat digunakan untuk memantau kesehatan terumbu karang berdasarkan rona warnanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang di Pulau Pari secara umum berada dalam kondisi cukup hingga baik.

Penelitian ini menggunakan metode Coral Health Chart untuk menilai kondisi terumbu karang dan menemukan dominasi karang kerak, coral massive, karang meja, serta karang submassive di lokasi pengamatan.Kondisi kesehatan terumbu karang bervariasi, dengan beberapa area dalam kondisi sehat dan beberapa lainnya kurang sehat.Selain itu, keberadaan berbagai biota laut menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati di Pulau Pari masih terpelihara, sehingga penting untuk menjaga ekosistem terumbu karang guna mendukung keberlangsungan lingkungan laut dan perlindungan sumber daya alam.

Sebagai tindak lanjut dari penelitian ini, pertama, perlu dikaji pengaruh intensitas kunjungan wisatawan terhadap tingkat kerusakan terumbu karang di area snorkeling melalui pemantauan jangka panjang yang mencakup musim ramai dan sepi kunjungan. Kedua, perlu dikembangkan penelitian tentang efektivitas substrat buatan dalam mendukung pertumbuhan terumbu karang dengan membandingkan laju pemulihan karang di area transplantasi dan area alami selama periode tertentu. Ketiga, penting untuk mengevaluasi kondisi lingkungan fisik-kimia perairan seperti suhu, kejernihan, dan tingkat polusi di sekitar lokasi penelitian untuk memahami faktor non-biotik yang berkontribusi terhadap kesehatan terumbu karang. Gabungan ketiga pendekatan ini akan memberikan gambaran komprehensif tentang dinamika ekosistem terumbu karang dan mendukung strategi konservasi yang lebih tepat sasaran. Penelitian lanjutan juga dapat mengeksplorasi peran masyarakat lokal dalam upaya pemulihan terumbu karang melalui keterlibatan dalam program monitoring berbasis komunitas. Dengan demikian, tidak hanya aspek ekologis tetapi juga sosial dapat diperkuat untuk keberlanjutan ekosistem. Pendekatan interdisipliner ini diharapkan dapat menjadi model pengelolaan ekowisata bahari yang berkelanjutan di pulau-pulau kecil. Penelitian juga perlu mengamati dampak jangka panjang dari kegiatan transplantasi karang terhadap struktur komunitas biota laut pendukung. Variasi kondisi kesehatan karang antar area menunjukkan perlunya studi mikrohabitat untuk mengidentifikasi faktor lokal yang memengaruhi resiliensi karang. Terakhir, integrasi data pemantauan kesehatan karang dengan kebijakan pengelolaan destinasi wisata dapat menjadi fokus penelitian kebijakan lingkungan yang aplikatif.

Read online
File size1.44 MB
Pages10
Short Linkhttps://juris.id/p-1AS
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test