UNIMUDASORONGUNIMUDASORONG

FRASA: Jurnal Keilmuan, Bahasa, Sastra, dan PengajarannyaFRASA: Jurnal Keilmuan, Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya

Impotensi tokoh Ajo Kawir dalam novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan selama ini dibaca sebagai sesuatu yang menimpa dirinya, baik sebagai akibat trauma menyaksikan kekerasan seksual, sebagai metafora ketidakberdayaan rakyat kecil, maupun sebagai kekurangan yang dikompensasi melalui kekerasan. Seluruh pembacaan tersebut mengandaikan subjek yang pasif menerima lalu bereaksi, sementara penerapan abjeksi Kristeva dalam kajian sastra Indonesia cenderung mengoperasikannya sebagai marginalisasi sosial. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konstruksi abjeksi pada diri Ajo Kawir beserta posisinya sebagai deject, dan mendeskripsikan respons yang ia lakukan dari posisi tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan pendekatan abjeksi Julia Kristeva, teknik pembacaan simptomatik, serta klasifikasi data ke dalam empat kategori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa impotensi Ajo Kawir merupakan jejak dari operasi abjeksi yang ia lakukan terhadap dirinya sendiri, yakni pembuangan atas kemungkinan bahwa ia sanggup memerkosa, yang dipicu bukan oleh adegan menonton melainkan oleh perintah untuk menjadi pelaku. Karena yang dibuang merupakan bagian dari dirinya sendiri, operasi itu tidak pernah tuntas dan jejaknya menjadi permanen. Vonis aparat meratifikasi pembuangan tersebut menjadi posisi sosial. Dari posisi deject, Ajo Kawir merespons melalui jouissance dalam perkelahian dan melalui sublimasi berupa penamaan kemaluannya sebagai Si Burung. Bagian penutup novel, yang lazim dibaca sebagai kesembuhan, justru memperlihatkan bahwa abjek tidak lenyap melainkan hanya bergeser dari gejala yang membisu menjadi lawan bicara yang meminta izin untuk tidur.

Impotensi Ajo Kawir bukanlah akibat yang menimpa dirinya, melainkan jejak dari operasi yang ia lakukan terhadap dirinya sendiri.Malam di rumah Rona Merah tidak mencapai puncaknya ketika ia dipaksa menonton, sebagaimana ditandai narator sendiri, melainkan ketika ia diperintah menempati posisi pelaku.Yang mengancam batas egonya pada saat itu bukanlah pemandangan di hadapannya, melainkan kemungkinan bahwa ia adalah orang yang sanggup melakukannya.Karena yang dibuang merupakan bagian dari dirinya sendiri, operasi tersebut tidak pernah dapat dituntaskan.ia bukan tanda bahwa abjeksi telah selesai bekerja, melainkan tanda bahwa ia tidak pernah selesai.Vonis aparat mengubah operasi psikis itu menjadi posisi sosial.Sejak saat itu Ajo Kawir menempati posisi deject, yakni subjek yang kehilangan orientasi dan hanya sanggup menanyakan di manakah ia berada.Dari posisi tersebut ia merespons melalui dua jalur.Perkelahiannya bukan kompensasi atas kejantanan yang hilang, sebab kalimat pembuka novel justru menempatkan impotensi sebagai syarat yang memungkinkan ia bertarung tanpa takut mati, yaitu kenikmatan yang bekerja di ambang batas kehancuran diri.Adapun penamaan kemaluannya sebagai Si Burung merupakan sublimasi dalam pengertian Kristeva, yakni tindakan memberi nama pada apa yang belum bernama sehingga subjek sanggup menanggungnya.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi bagaimana konsep abjeksi Kristeva diterapkan pada tokoh perempuan dalam karya sastra Indonesia lainnya, terutama dalam konteks marginalisasi sosial. Selain itu, studi tentang peran bahasa dalam proses sublimasi, seperti penamaan tubuh atau emosi, dapat memberikan wawasan baru tentang mekanisme psikoanalitik dalam karya sastra. Terakhir, penelitian dapat menggabungkan pendekatan abjeksi dengan teori trauma untuk menganalisis bagaimana pengalaman traumatis diwujudkan dalam narasi dan struktur kebahasaan, terutama dalam konteks kekerasan politik atau kekerasan seksual.

  1. Traumatic Experiences in Eka Kurniawan's Novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas | Sartika... journal.ugm.ac.id/poetika/article/view/55895Traumatic Experiences in Eka Kurniawans Novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas Sartika journal ugm ac poetika article view 55895
  2. PERILAKU ABNORMAL TOKOH AJO KAWIR PADA NOVEL SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS KARYA EKA KURNIAWAN:... ejournal.bbg.ac.id/metamorfosa/article/view/1120PERILAKU ABNORMAL TOKOH AJO KAWIR PADA NOVEL SEPERTI DENDAM RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS KARYA EKA KURNIAWAN ejournal bbg ac metamorfosa article view 1120
  3. Body, Violence, & Sexuality: Grotesque Aesthetics in Eka Kurniawan’s Novels | Journal of Language... doi.org/10.24071/joll.v26i1.81Body Violence Sexuality Grotesque Aesthetics in Eka KurniawanAos Novels Journal of Language doi 10 24071 joll v26i1 81
  4. Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan. nation construction film dendam dibayar tuntas jurnal civics... journal.uny.ac.id/index.php/civics/article/view/87209Jurnal Civics Media Kajian Kewarganegaraan nation construction film dendam dibayar tuntas jurnal civics journal uny ac index php civics article view 87209
Read online
File size236.97 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test