PHARMACONMWPHARMACONMW

Jurnal Pharmacia Mandala WaluyaJurnal Pharmacia Mandala Waluya

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya mengetahui adanya pengaruh pada proses bleaching terhadap kandungan senyawa aktif dan tingkat toksisitas ekstrak tanaman obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan tingkat toksisitas ekstrak etanol daun tapak dara (Catharanthus roseus L.) sebelum dan sesudah perlakuan bleaching serta mengkaji pengaruh variasi lama waktu bleaching terhadap nilai LC₅₀ menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, kemudian dilanjutkan dengan proses bleaching menggunakan arang aktif teraktivasi dengan variasi waktu 30 menit, 1 jam, dan 2 jam. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak sebelum bleaching mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin, sedangkan setelah bleaching terjadi penurunan kandungan senyawa, terutama flavonoid yang tidak lagi terdeteksi. Hasil uji toksisitas menunjukkan bahwa nilai LC₅₀ ekstrak tanpa perlakuan bleaching sebesar 387,154 ppm. Pada perlakuan bleaching selama 30 menit, nilai LC₅₀ meningkat menjadi 428,421 ppm, sedangkan pada bleaching selama 1 jam dan 2 jam masing-masing sebesar 508,580 ppm dan 581,779 ppm. Peningkatan nilai LC₅₀ menunjukkan adanya penurunan toksisitas seiring dengan bertambahnya lama waktu bleaching. Hal tersebut mengindikasikan bahwa lama proses bleaching dapat berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif serta menurunkan toksisitas pada ekstrak daun tapak dara. Dari hasil yang didapatkan nilai LC50 sebelum maupun sesudah bleaching berada di bawah 1000 ppm, sehingga ekstrak tersebut masih tergolong dalam kategori toksik berdasarkan metode BSLT.

Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak daun tapak dara memiliki sifat toksik dengan nilai LC50 sebesar 387,154 ppm, dan perlakuan bleaching selama 30 menit, 1 jam, serta 2 jam menyebabkan peningkatan nilai LC50 yang menandakan penurunan toksisitas.Setelah perlakuan bleaching, semakin banyak senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, dan tanin yang teradsorpsi dan terdegradasi, sehingga potensi sitotoksik awal ekstrak mengalami penurunan dan masih memerlukan pengujian lanjutan terhadap sel kanker.Selain itu, hasil skrining fitokimia menunjukkan hilangnya beberapa senyawa aktif setelah proses bleaching, yang menunjukkan bahwa proses bleaching dapat mengurangi kandungan senyawa metabolit sekunder dalam ekstrak.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi penggunaan bahan bleaching alternatif selain arang aktif untuk membandingkan efektivitasnya dalam mengurangi toksisitas ekstrak tanaman obat. Selain itu, perlu dilakukan studi lebih lanjut tentang pengaruh proses bleaching terhadap aktivitas antikanker ekstrak daun tapak dara dengan menggunakan metode uji sitotoksik pada sel kanker. Terakhir, penelitian juga dapat menggali potensi ekstrak daun tapak dara setelah bleaching untuk aplikasi farmasi atau produk kosmetik dengan mempertimbangkan sifat toksik yang tersisa.

  1. Perbandingan Uji Toksisitas Ekstrak Daun Tapak Dara (Catharanthus rosues L.) Sebelum dan Sesudah Proses... doi.org/10.54883/jpmw.v5i3.709Perbandingan Uji Toksisitas Ekstrak Daun Tapak Dara Catharanthus rosues L Sebelum dan Sesudah Proses doi 10 54883 jpmw v5i3 709
  2. Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Daun Tapak Dara (Catharanthus roseus) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia... jurnal.akafarma-aceh.ac.id/index.php/jskd/article/view/152Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Daun Tapak Dara Catharanthus roseus Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia jurnal akafarma aceh ac index php jskd article view 152
Read online
File size1.45 MB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test