UHTUHT

Hang Tuah Medical JournalHang Tuah Medical Journal

Curcuma (Curcuma xanthorrhiza Roxb) adalah jenis tanaman herbal yang dapat digunakan untuk mengendalikan infeksi dari C. albicans, karena mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, triterpenoid, dan glikosida. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektiftas ekstrak etanol rimpang temulawak sebagai antibiofilm terhadap Candida alibicans penyebab kandidiasis. Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimental murni dengan pendekatan post test only control group desain. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi dengan pelarut etanol 96%, uji aktivitas antibiofilmnya menggunakan metode microtiter plate biofilm assay. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) memiliki efektivitas secara signifikan terhadap pembentukan biofilm C. albicans (p<0.05) dengan daya hambat tertinggi pada konsentrasi 1,56%, dan nilai terkecil pada konsentrasi 50%. Nilai MBIC50 ditentukan dengan analisis probit, sehingga diperoleh konsentrasi ekstrak etanol Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) yang dapat menghambat 50% pembentukan biofilm C. albicans terletak pada konsentrasi 0,031%. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa Ekstrak etanol rimpang temulawak memiliki efektifitas antibiofilm terhadap C. albicans penyebab kandidiasis pada tahap pembentukan biofilm. Dengan demikian, ekstrak etanol rimpang temulawak berpotensi dijadikan sebagai obat herbal untuk terapi penyakit infeksi akibat biofilm C. albicans.

Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, ekstrak etanol dari rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) menunjukkan aktivitas antibiofilm terhadap Candida albicans pada fase awal pembentukan biofilm.Efek penghambatan tertinggi tercatat pada konsentrasi 50%, sedangkan nilai penghambatan terendah terdapat pada konsentrasi 1,56%.Nilai MBIC₅₀ yang diperoleh adalah sebesar 0,031%.Temuan ini mengindikasikan bahwa ekstrak etanol temulawak memiliki potensi sebagai kandidat alternatif untuk penanganan infeksi yang berkaitan dengan pembentukan biofilm oleh C.

Penelitian ini telah menunjukkan potensi ekstrak etanol rimpang temulawak sebagai antibiofilm terhadap Candida albicans. Untuk mengembangkan temuan ini lebih lanjut, penelitian lanjutan dapat berfokus pada identifikasi komponen aktif dalam ekstrak temulawak yang bertanggung jawab atas aktivitas antibiofilmnya. Selain itu, studi klinis dapat dilakukan untuk mengeksplorasi efektivitas ekstrak temulawak dalam mengobati infeksi Candida albicans pada manusia. Penelitian juga dapat dilakukan untuk mengoptimalkan metode ekstraksi dan pengolahan temulawak agar dapat meningkatkan aktivitas antibiofilmnya. Dengan demikian, penelitian lanjutan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengembangan obat herbal untuk mengobati infeksi Candida albicans dan penyakit terkait lainnya.

  1. PHARMACOLOGICAL ASPECTS OF CURCUMIN: REVIEW ARTICLE | INTERNATIONAL JOURNAL OF PHARMACOGNOSY. aspects... ijpjournal.com/bft-article/pharmacological-aspects-of-curcumin-review-article/?view=fulltextPHARMACOLOGICAL ASPECTS OF CURCUMIN REVIEW ARTICLE INTERNATIONAL JOURNAL OF PHARMACOGNOSY aspects ijpjournal bft article pharmacological aspects of curcumin review article view fulltext
  2. Uji aktivitas antijamur ekstrak black garlic terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans | Agustina |... doi.org/doi:10.26877/bioma.v10i2.6371Uji aktivitas antijamur ekstrak black garlic terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans Agustina doi doi 10 26877 bioma v10i2 6371
Read online
File size587.75 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test