USKUSK

Cakradonya Dental JournalCakradonya Dental Journal

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 melaporkan bahwa prevalensi penyakit periodontal di Indonesia sebesar 74,1%. Penyakit periodontal merupakan penyakit inflamasi yang disebabkan oleh biofilm bakteri pada permukaaan gigi serta salah satu penyebab utama kehilangan gigi akibat kerusakan jaringan periodontal yang bersifat permanen. Penyakit periodontal dibagi menjadi dua yaitu gingivitis dan periodontis. World Health Organization (WHO) Basic Oral Health Survey pemeriksaan dini penyakit periodontal masa remaja terjadi pada usia 15-19 tahun. Tujuan dari penelitian ini untuk mengindetifikasi faktor-faktor terkait status periodontal pada remaja di Indonesia. Penelitian cross-sectional menggunakan data sekunder dari Riskesdas 2018 pada usia remaja 15-19 tahun mengenai variabel karakteristik sosiodemografi, faktor perilaku kesehatan gigi, faktor pelayanan kesehatan gigi, dan faktor penyakit sistemik. Sampel peneltian adalah 3089 remaja Indonesia. Prevalensi status periodontal pada usia remaja 15-19 tahun berkisar antara 91,3% sampai dengan 94,7%. Hasil analisis didapatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sosioekonomi terhadap status periodontal (OR=1,546;95%CI 1.141-2.161). Faktor yang berpengaruh terhadap status periodontal pada remaja adalah mengkonsumsi minuman beralkohol (OR=1,895;95%CI 0.995-3.610) dan sosioekonomi. Hal ini berimplikasi pada program pencegahan penyakit periodontal, perlu difokuskan terhadap inklusi sosial dan adanya perluasan akses pelayanan kesehatan gigi lebih baik untuk remaja yang mempunyai penyakit gigi dan mulut antara lain penyakit karies gigi dan penyakit periodontal.

Hasil temuan didapatkan bahwa status periodontal pada remaja usia 15-19 tahun di Indonesia adalah berhubungan erat dengan status ekonomi, wilayah tempat tinggal, dan kebiasaan menyikat gigi.Kesehatan gigi dan mulut khususnya status periodontal juga harus diintegrasikan dalam kebijakan perawatan kesehatan umum, dan pemeriksaan status kesehatan periodontal dengan menggunakan pendekatan common risk factor.

Mengingat keterbatasan penelitian ini yang bersifat potong lintang, saran penelitian lanjutan yang krusial adalah melaksanakan studi longitudinal prospektif. Pendekatan ini akan memungkinkan para peneliti untuk mengamati dan melacak perkembangan status periodontal pada kelompok remaja yang sama selama periode waktu tertentu. Dengan demikian, hubungan sebab-akibat antara faktor-faktor seperti status ekonomi, kebiasaan menyikat gigi, dan konsumsi alkohol terhadap kejadian atau keparahan penyakit periodontal dapat ditetapkan dengan lebih pasti, mengatasi masalah kausalitas yang tidak dapat dijawab oleh desain potong lintang. Selain itu, untuk memperdalam pemahaman mengenai faktor perilaku, penelitian selanjutnya dapat menelaah lebih rinci aspek-aspek spesifik dari kebiasaan menyikat gigi—tidak hanya frekuensinya, tetapi juga teknik, durasi, penggunaan alat bantu kebersihan mulut lainnya, serta dampak dari pola konsumsi minuman beralkohol dan diet yang lebih komprehensif. Pendekatan ini dapat menggunakan kombinasi metode kuantitatif dan kualitatif, seperti survei mendalam dan wawancara fokus grup, untuk menggali persepsi, hambatan, dan motivasi di balik perilaku kesehatan mulut remaja di berbagai latar belakang sosioekonomi dan wilayah geografis. Akhirnya, hasil dari studi ini dapat menjadi dasar untuk merancang dan menguji efektivitas program intervensi kesehatan gigi dan mulut yang disesuaikan secara khusus. Program ini dapat menargetkan kelompok remaja dengan status ekonomi rendah dan di wilayah pedesaan, dengan fokus pada edukasi yang lebih efektif dan peningkatan akses terhadap layanan kesehatan gigi, sehingga dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan pada kesehatan periodontal mereka.

Read online
File size859.97 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test