UKIMUKIM

ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi AgamaARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama

Nyanyian merupakan unsur yang penting dalam ibadah jemaat. Bernyanyi dengan pemaknaan dan penghayatan yang tepat memberi dampak bagi pembinaan umat. Sebuah nyanyian haruslah sesuai dengan konteks lokal jemaat. Di sinilah letak pentingnya kontekstualisasi nyanyian jemaat. Salah satu bentuk kontekstualisasi nyanyian ialah dengan menggunakan nyanyian etnis sebagai nyanyian dalam ibadah jemaat. Nyanyian etnis menggambarkan ciri khas lokal jemaat dan merupakan identitas jemaat. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk menemukan bentuk nyanyian etnis yang bisa dinyanyikan dalam ibadah Jemaat GPM Adodo Fordata. Selain itu penelitian ini juga menggunakan metode juxtaposition untuk menjajarkan dua bentuk nyanyian yakni, mazmur dan foruk. Data penelitian ini diperoleh dari observasi-partisipatoris ketika penulis menjadi Ketua Majelis Jemaat selama kurun waktu 6 tahun dan wawancara dengan budayawan di Tanimbar. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa sebagai bentuk nyanyian kontekstual, foruk dapat dinyanyikan sebagai mazmur dalam ibadah jemaat. Penerapan foruk sebagai mazmur mampu menolong umat untuk menghayati dan memaknai ibadah.

Berdasarkan pembahasan dalam artikel ini dapat disimpulkan bahwa baik foruk maupun mazmur merupakan respons umat terhadap kebaikan Allah dalam pengalaman hidup mereka.Umat Allah di jemaat-jemaat GPM di Pulau Fordata menaikkan doa, ungkapan syukur, pujian kepada Allah dan bersaksi tentang kasih dan kebaikan Allah melalui foruk.Hal yang sama juga dilakukan umat Allah di Israel melalui mazmur.Kedua, meskipun lahir dari budaya yang jauh berbeda, tetapi secara substansi foruk dan mazmur dapat dikategorikan sebagai nyanyian yang lahir dari perspektif yang sama dan dengan demikian foruk bisa dinyanyikan sebagai mazmur dalam ibadah etnis.Ketiga, ketika foruk dan mazmur diletakkan secara berdampingan menghasilkan foruk yang dinyanyikan dengan cara yang sama seperti mazmur tetapi dengan pemaknaan yang lebih luas.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi penggunaan nyanyian etnis lain di wilayah Tanimbar sebagai alat kontekstualisasi liturgi. Peneliti juga bisa membandingkan respons komunitas berbeda terhadap integrasi nyanyian tradisional dalam ibadah. Selain itu, studi tentang dampak jangka panjang dari penerapan foruk sebagai mazmur terhadap identitas keagamaan masyarakat Fordata dapat dilakukan. Penelitian juga bisa mengeksplorasi potensi nyanyian etnis dalam konteks liturgi non-keagamaan. Selain itu, analisis peran budayawan dalam proses kontekstualisasi nyanyian patut dikaji lebih lanjut. Peneliti juga dapat mengevaluasi efektivitas metode juxtaposition dalam konteks liturgi modern. Penelitian lanjutan bisa fokus pada pengembangan pendidikan liturgi untuk generasi muda. Studi tentang hubungan antara nyanyian kontekstual dan retensi keanggotaan jemaat juga relevan. Penelitian bisa membandingkan praktik kontekstualisasi nyanyian di daerah lain di Indonesia. Akhirnya, studi tentang keberlanjutan penggunaan foruk dalam ibadah jemaat di masa depan patut menjadi fokus penelitian lanjutan.

  1. Kontekstualisasi Mazmur Pujian dengan Lantunan Foruk dalam Ibadah Etnis Jemaat GPM Adodo Fordata | ARUMBAE:... ojs.ukim.ac.id/index.php/arumbae/article/view/1288Kontekstualisasi Mazmur Pujian dengan Lantunan Foruk dalam Ibadah Etnis Jemaat GPM Adodo Fordata ARUMBAE ojs ukim ac index php arumbae article view 1288
Read online
File size943.2 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test